Menengok Lokasi Peternakan Sapi di Flores Timur–Buka Jalan Baru, HMT, Belum Ada Sapi dan Keluh Pekerja - FloresPos Net

Menengok Lokasi Peternakan Sapi di Flores Timur–Buka Jalan Baru, HMT, Belum Ada Sapi dan Keluh Pekerja

- Jurnalis

Sabtu, 9 Mei 2026 - 15:43 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kawasan Peternakan Sapi di Kabupaten Flores Timur, Program Strategis Bupati Anton Doni dan Wabup Ignas Uran. Gambar diambil pada Jumat (8/5/2026).

Kawasan Peternakan Sapi di Kabupaten Flores Timur, Program Strategis Bupati Anton Doni dan Wabup Ignas Uran. Gambar diambil pada Jumat (8/5/2026).

LARANTUKA, FLORESPOS.net-Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Flores Timur, dibawah kepemimpinan Bupati Antonius Doni Dihen dan Wakil Bupati (Wabup) Ignasius Boli Uran punya 20 program strategis yang diluncurkan pada tahun anggaran 2026 ini.

Salah satu program strategis dengan alokasi anggaran–nantinya diperkirakan mencapai belasan miliar rupiah, yakni peternakan sapi. Lebih familiar disebut pembibitan sapi. Lokasinya, di bukit padang ilalang Wolo Kolo, Desa Lamatutu, Kecamatan Tanjung Bunga.

Program ini sejatinya mulai diusulkan pada 100 hari masa awal jabatan Bupati Anton Doni dan Wabup Ignas uran. Tepatnya, mulai awal Maret 2025 pada momen mendahului perubahan APBD tahun anggaran 2025.

Dalam perjalanan, program yang bertujuan sebagai salah satu daya lecut lompatan produktifitas pertanian dan peternakan ini tidak berjalan maksimal–dalilnya waktu 100 hari begitu singkat.

Program ini kemudian diusulkan dan ditetapkan lagi pada momen perubahan anggaran, Oktober 2025. Namun lagi-lagi, program ini tidak jalan maksimal, bahkan baru dimulai di penghujung tahun anggaran 2025–itupun berhenti hanya untuk penyediaan pakan ternak.

Tak berhenti di situ. Program ini kemudian ditetapkan untuk dilanjutkan pada tahun anggaran 2026. Lini program besar ini sedang dalam proses berjalan.

Saya mencoba menengok lokasi peternakan atau pembibitan sapi di sana–di Wolo Kolo. Saya tidak sendirian. Bersama seorang rekan wartawan pada Jumat, 8 Mei 2026, kami ikut jalur jalan menuju Desa Aransina mulai dari pertigaan Ebak, Desa Bahingga.

Jalur jalan ini tampak lebih bagus–beraspal baik hingga pusat Desa Aransina. Di sana, kami bertemu sejumlah orang. Ternyata mereka adalah pekerja penanaman tanaman pelindung dan tanaman hijau makanan ternak (HMT) untuk ternak sapi.

Mereka mengantar kami ke lokasi. Turun naik bukit–curam dan sangat terjal. Lokasi perbukitan dan penuh ilalang. Setapak demi setapak, langkah kaki terus bergerak menuju titik utama lokasi atau kawasan peternakan.

“Ini salah satu jalan paling mudah dan paling cepat dari Aransina ke lokasi peternakan sapi. Jaraknya sekitar 2 kilo. Kalau dari Turubean jalannya sedikit jauh. Beberapa warga Aransina kerja di sana. Mereka kerja tanam gamal, lamtoro, reo dan rumput gajah,” ungkap Markus Bali Maran.

Jalan Masuk dari Aransina Menuju Kawasan Peternakan Sapi di Kabupaten Flores Timur, Program Strategis Bupati Anton Doni dan Wabup Ignas Uran. Gambar diambil pada Jumat (8/5/2026).

Markus Maran adalah petugas Linmas Desa Aransina. Kami minta dia mengantar ke lokasi padang peternakan sapi, salah satu program strategis Bupati Anton Doni dan Wabup Ignas tahun anggaran 2025 dan tahun anggaran 2026.

Baca Juga :  Menkes Budi Gunadi Tawarkan Beasiswa Untuk Anak Manggarai Timur

“Pak berdua tunggu di sini. Saya panggilkan Niko, dia koordinator pekerja tanam rumput gajah, reo, lamtoro dan gamal di lokasi. Sekarang dia dan beberapa lainnya tidak kerja karena ada ikut panen padi. Mereka juga lagi istirahat kerja di lokasi peternakan,” kata Markus Maran mengarahkan kami istirahat di lembah yang cukup terjal.

Nikolaus Kawelak bersama beberapa rekan pekerja menemui kami di lembah terjal tadi. Mereka menuntun kami menelusuri jalan kecil–di kiri dan kanan kami penuh tanaman ilalang setinggi dada dan beberapa pohon pelindung.

Ada Jalan Baru Buka, Tanaman HMT, Belum Ada Sapi

Meski jalan tertatih-tatih–maklum jarang olah raga, kami sampai di titik akhir kawasan peternakan. “Ini jalan terakhir di titik ini yang menjadi pembatas kawasan peternakan sapi. Jalan ini baru dibuka,” kata Nikolaus.

Di kiri dan kanan jalan yang baru dibuka itu tampak bekas ban kendaraan alat berat dan roda empat. Juga ada batang-batang gamal yang sudah ditanam berjejer. Ada yang sudah mengeluarkan tunas dan ada pula belum bertunas.

Selain itu, ada tanaman lamtoro yang mulai tumbuh setinggi sekitar limabelas centi, dan batang reo yang sudah ditanam pekerja. Ada rumput gajah yang tumbuh baik, ada pula yang layu dan kering. Belum atau bahkan tidak terlihat satu ekor sapi pun di kawasan itu.

“Kami mulai kerja di sini awal Desember 2025. Kami kerja tanam ini gamal, reo, lamtoro dan rumput gajah. Gamal dan reo kami taman dipinggir jalan dan pembatas kawasan. Ini untuk pakan sapi sekaligus batas kawasan. Lamtoro kami tanam biji seperti tanam jagung,” ungkap Nikolaus dan beberapa pekerja lainnya.

“Anakan lamtoro, rumput gajah dan batang gamal ini kami pikul dari jalan utama Aransina. Turun-naik bukit dan lembah yang pak mereka lewat tadi. Masih baik sekarang lagi panas, kalau hujan agak susah. Licin,” tambah Nikolaus.

Upah Pekerja Belum Dibayar

Saat kami tiba di lokasi kawasan peternakan ini, sedang tidak ada aktivitas pekerjaan oleh Nikolaus dan pekerja lainnya. Nikolaus dan pekerja lainnya bilang, mereka berhenti kerja pada akhir Maret lalu. Mereka tidak kerja lagi–dalilnya awalnya karena sedang musim panen padi di kebun.

Baca Juga :  Link dan Cara Melihat Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi PPPK 2024
Kawasan Peternakan Sapi di Kabupaten Flores Timur, Program Strategis Bupati Anton Doni dan Wabup Ignas Uran. Gambar diambil pada Jumat (8/5/2026).

“Ini juga karena upah kerja kami sejak Desember 2025 sampai Maret 2026 belum dibayar. Kami hanya dijanjikan, dijanjikan dan sampai sekarang ini belum dibayar. Upah kami mulai Desember sampai Maret,” ungkap Nikolaus diamini beberapa rekan pekerja lainnya.

Sambil ngobrol dengan Nikolaus Kawelak dan beberapa pekerja lainnya, kami berupaya melihat, mengamati sambil foto-foto lokasi dan hamparan padang ilalang secara menyeluruh.

“Upah kami per hari Rp 85.000 khusus untuk yang makan minum bawah sendiri dari rumah. Kami kerja dan bayar upah kerja pakai sistem HOK (hari orang kerja). Sementara makan dan minum disediakan rekanan, upahnya Rp 65.000 per hari. Kami kerja mulai pukul 8.00 dan pulang pukul 16.00 WITA,” kata pekerja lainnya.

Ancam Blokade Lokasi

Nikolaus yang dipercayakan menjadi koordinator pekerja lapangan ini menambahkan, agar upah kerja bisa segera dibayar, ada dua mesin semprot rumput diamankan atau ditahan oleh beberapa sebagai jaminan.

“Kami tahan dua unit alat semprot ini supaya upah kerja kami bisa segera dibayar. Soal ini kami sampaikan ke rekanan. Masalahnya, kami kerja dari Desember tahun lalu sampai Maret kemarin belum dibayar. Semua kami kerjakan mulai dari angkat bibit sampai tanam,” kata Nikolaus menambahkan, kalau upah kerja yang belum dibayar tersebut tidak semua sama.

Kawasan Peternakan Sapi di Kabupaten Flores Timur, Program Strategis Bupati Anton Doni dan Wabup Ignas Uran. Gambar diambil pada Jumat (8/5/2026).

“Ada yang kerja satu dua bulan. Ada yang kerja dari awal. Jadi upahnya yang belum dibayar bervariasi sesuai waktu kerja. Sejak awal sampai sekarang kami hanya terima janji saja,” katanya.

Nikolaus dan beberapa pekerja bilang, beberapa waktu lalu mereka didatangi orang dari sebuah yayasan. Pihak yayasan itu meminta mereka untuk melanjutkan pekerja dan tandatangan pernyataan kerja.

“Baru-baru ini ada pegawai dari yayasan, namanya ‘Barakat’ datang bertemu saya dan meminta kerja lagi dan tandatangani surat. Janji bayarnya tanggal 21 April sebelum PHO. Tapi sampai harinya dan bahkan sampai sekarang belum dibayar,” katanya.

Nikolaus dan beberapa pekerja lainnya sudah memutuskan untuk tidak bekerja lagi. “Kami tidak tandatangan surat yang dikasih ‘Barakat’. Kami mau kerja lagi kalau upah kerja yang sebelumnya dibayar,” kata Nikolaus diamini pekerja lainnya sambil menambahkan.

“Kalau belum juga dibayar, kami rencana blokade kawasan ini dari Aransina,” tambah Nikolaus diikuti beberapa pekerja lainnya.

Sampai kembali pulang dari kawasan dan menelusuri lagi jalan masuk tadi menuju Kota Larantuka yang berjarak sekitar 40-an kilo meter, kami tidak bertemu dengan petugas atau pihak rekanan yang menangani proyek penanaman tanaman dan HMT. *

Penulis : Wentho Eliando

Editor : Anton Harus

Berita Terkait

Universitas Flores Kembali Lepas Ratusan Sarjana dan 10 Lulusan Pasca Sarjana ke Masyarakat
WALHI Sebutkan Pembangunan Tambak Udang di Sumba Timur, Ancaman Serius Terhadap Ekologis
Bupati Sikka Ingatkan Bank NTT Bangun Komunikasi dengan Semua Pihak
Cross Way Putus, Akses ke Tiga Desa di Manggarai Timur Lumpuh
Pertemuan Koordinasi dan Advokasi Pelaksanaan PKG Flores Timur, Ogie Silimalar: Cek Kesehatan Gratis, Pintu Masuk Deteksi Penyakit
Nagekeo Miliki 7,72 Ha Lahan Baku Sawah, Belum Ada Perda Perlindungan
BREAKING NEWS: Resmob Burhan Ende Amankan Pria Diduga Curi Keyboard Gereja Rendu Nagekeo
Kelola 24 Lahan Parkir Tepi Jalan, PT. TFT Globalindo Pasang 18 Kamera Pengawas
Berita ini 502 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 13 Mei 2026 - 18:05 WITA

Universitas Flores Kembali Lepas Ratusan Sarjana dan 10 Lulusan Pasca Sarjana ke Masyarakat

Rabu, 13 Mei 2026 - 17:46 WITA

WALHI Sebutkan Pembangunan Tambak Udang di Sumba Timur, Ancaman Serius Terhadap Ekologis

Rabu, 13 Mei 2026 - 17:37 WITA

Bupati Sikka Ingatkan Bank NTT Bangun Komunikasi dengan Semua Pihak

Rabu, 13 Mei 2026 - 14:29 WITA

Cross Way Putus, Akses ke Tiga Desa di Manggarai Timur Lumpuh

Rabu, 13 Mei 2026 - 13:03 WITA

Pertemuan Koordinasi dan Advokasi Pelaksanaan PKG Flores Timur, Ogie Silimalar: Cek Kesehatan Gratis, Pintu Masuk Deteksi Penyakit

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Cross Way Putus, Akses ke Tiga Desa di Manggarai Timur Lumpuh

Rabu, 13 Mei 2026 - 14:29 WITA