Produksi 7 Komoditi Perkebunan Capai 28 Ribu Ton, Tahun 2026 Sikka Dapat Bantuan untuk 6 Ribu Hektar - FloresPos Net

Produksi 7 Komoditi Perkebunan Capai 28 Ribu Ton, Tahun 2026 Sikka Dapat Bantuan untuk 6 Ribu Hektar

- Jurnalis

Kamis, 26 Februari 2026 - 09:33 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MAUMERE, FLORESPOS.net-Data luas lahan perkebunan masyarakat Kabupaten Sikka untuk 7 komoditi yakni kelapa, kakao, jambu mete, cengkeh, pala, lada dan vanili yang sudah berproduksi mencapai 59 ribu hektar.

Dari 7 komoditi perkebunan yang diusahakan oleh masyarakat tersebut, selama tahun 2025 total produksinya mencapai 28 ribu ton dengan harga jual tertinggi terdapat pada komoditi pala dan cengkeh.

“Harga jual pala dan cengkeh sekitar Rp100 ribu per kilogram sementara harga terendah yakni kelapa sebesar Rp10 ribu per kilogramnya,” sebut Kepala Bidang Perkebunan, Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Markus Dua,Rabu (25/2/2026).

Markus mengatakan, dengan mengacu pada harga jual tersebut maka apabila diambil rata-rata harga jual 7 komoditi tersebut sebesar Rp20 ribu per kilogram maka dalam setahun petani di Kabupaten Sikka mendapat pemasukan Rp1,3 triliun.

Maka dengan keberhasilan ini, dengan prestasi peningkatan produksi komoditi perkebunan tersebut, maka dari pemerintah pusat bekerjasama dengan pemerintah daerah mengalokasikan sejumlah bantuan.

“Di tahun 2025, dari pusat melalui Kementrian Pertanian Dirjen Perkebunan mengalokasikan bantuan untuk lahan perkebunan yakni jambu mete 350 hektar, kakao 50 hektar dan pala 500 hektar,” ungkapnya.

Baca Juga :  Sepuluh Pesan Romanus Woga Agar Kopdit Bisa Meraih Sukses

Markus mengatakan, realisasi kegiatan yang diterima oleh para petani dinyatakan 100 persen berhasil dimana petani yang menerima bantuan ini mendapat bayaran Hari Orang Kerja (HOK) satu hektar Rp1,6 juta.

Saat ditemui di kantornya, Markus sedang sibuk melayani administrasi pembayaran dimana semua dana ditransfer langsung ke rekening kelompok tani melalui bank.

“Sekarang sudah 2 hari mereka melakukan proses pencairan dana. Sebelum mereka melakukan proses pencarian dana, saya sudah turun ke lapangan dan petani juga membuat pernyataan bahwa pekerjaan sudah selesai,” terangnya.

Sehingga atas keberhasilan ini, sebut Markus, di tahun 2026 Kementrian Pertanian melalui Dirjen Perkebunan kembali mengalokasikan bantuan anggaran perkebunan kepada para petani di Kabupaten Sikka.

Dirinya memaparkan, bantuan diberikan untuk tanaman jambu mete seluas 2.500 hektar, kakao sambung pucuk 2.500 hektar, pala 600 hektar dan kopi arabika seluas 300 hektar sehingga totalnya hampir 6 ribu hektar.

“Hari ini hari terakhir untuk kiriman Calon Petani, Calon Lokasi (CPCL) penerima bantuan untuk komoditi perkebunan jambu mete,kakao, pala dan kopi arabika,” terangnya.

Markus menjelaskan, lahan jambu mete lebih banyak di wilayah pesisir hingga ketinggian 350 meter di atas permukaan laut (mdpl) meliputi Kecamatan Magepanda,Alor Barat, Kangae,Waigete dan Talibura.

Baca Juga :  Fadli Zon Lantik 13 Pejabat Tinggi Madya Kementerian Kebudayaan

Sedangkan Pala,lebih banyak potensinya di daerah dengan ketinggian antara 500 sampai 800 meter di atas permukaan laut dan dominan terdapat di Kecamatan Tana Wawo, Mego, Paga, Nita, Doreng, Bola, Waiblama dan Talibura.

“Sedangkan untuk kakao sambung pucuk itu kita alokasikan merata di beberapa kecamatan yang memiliki potensi tersebut,” ucapnya.

Markus menambahkan, untuk Kopi Arabika bantuan diperuntukan bagi wilayah dengan ketinggian antara 800 sampai 1.000 meter di atas permukaan laut.

Tanaman ini dialokasikan untuk petani di Kecamatan Tana Wawo bagian pedalaman yang berbatasan dengan kawasan hutan lindung, Kecamatan Mego, Paga, Nita, Doreng, Mapitara, Waiblama dan Talibura.

Markus mengakui pihaknya terbantu untuk penyediaan anakan tanaman perkebunan sebab di Kabupaten Sikka sudah ada pohon induk bersertifikat seperti kelapa, pala cengkeh dan vanili.

“Tahun ini kita ajukan 2 pohon induk bersertifikat yakni lada dan jambu mete. Potensi tanaman perkebunan kita masih besar karena masih terdapat 64 ribu hektar lahan tidur yang dapat ditanami komoditi perkebunan,” pungkasnya. *

Penulis : Ebed de Rosary

Editor : Wentho Eliando

Berita Terkait

Kos-kosan ASN di Ende jadi Tempat Prostitusi, Satpol PP Amankan Lima Perempuan
Dies Natalis dan Reuni Akbar SMAN 1 Ende jadi Momen Perkuat Rasa Memiliki Almamater
Genjot Potensi Pisang Kepok, Dewan Segera Undang DTPHP Manggarai Barat
Seorang Pekerja Meninggal Saat Aktifitas Bongkar Muat Barang, Pelindo Maumere Lakukan Investigasi
Warga Pesisir Apresiasi Program Kampus Berdampak dari Uniflor, Kami Tidak Susah Air Lagi
Kepala BPKH NTT: TPA Warloka Berada Diluar CA Wae Wuul
Kelompok Perempuan Petani Kelapa Desa Lambunga, Mandiri Ekonomi Berkat Mengolah Produk Turunan Kelapa
Wabup Nagekeo Bertemu Gubernur dan Ketua DPRD NTT, Bahas Penyelesaian Tanah TNI di Tonggurambang hingga Pembangunan Jembatan Pomakeke
Berita ini 86 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 15 Juli 2026 - 15:45 WITA

Kos-kosan ASN di Ende jadi Tempat Prostitusi, Satpol PP Amankan Lima Perempuan

Rabu, 15 Juli 2026 - 12:55 WITA

Dies Natalis dan Reuni Akbar SMAN 1 Ende jadi Momen Perkuat Rasa Memiliki Almamater

Rabu, 15 Juli 2026 - 10:23 WITA

Genjot Potensi Pisang Kepok, Dewan Segera Undang DTPHP Manggarai Barat

Selasa, 14 Juli 2026 - 19:03 WITA

Seorang Pekerja Meninggal Saat Aktifitas Bongkar Muat Barang, Pelindo Maumere Lakukan Investigasi

Selasa, 14 Juli 2026 - 11:13 WITA

Kepala BPKH NTT: TPA Warloka Berada Diluar CA Wae Wuul

Berita Terbaru