LARANTUKA, FLORESPOS.net-Festival Musik Etnik Lamaholot bakal digelar di pelataran Asam Satu Beach Larantuka, Kabupaten Flores Timur pada Kamis, 4 Desember 2025. Festival tersebut dapat terselenggara berkat dana bantuan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVI Nusa Tenggara Timur kepada Komunitas Cisilia Ina Gelekat (CIG).
“Festival ini kami selenggarakan berkat dana bantuan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVI NTT Tahun 2025,” sebut Ketua Komunitas CIG, Paul D. Goran, Jumat (28/11/2025).
Menurut Paul Goran, sebagai bagian dari pemanfaatan dana bantuan, Komunitas CIG melaksanakan Festival Musik Etnik Lamaholot pada 4 Desember 2025. Festival ini merupakan sebuah kegiatan seni besar yang menjadi wadah untuk memperkenalkan musik tradisional Lamaholot kepada publik luas.
“Festival ini berlangsung pada Kamis, 4 Desember 2025 mulai pukul 17.00 hingga selesai, bertempat di Pelataran Pantai Asam Satu. Komunitas kami siap gelar Festival Musik Etnik Lamaholot di Larantuka. Semua persiapan sudah masuk tahap akhir,” kata Paul Goran.
Paul Goran mengatakan, Festival Musik Etnik Lamaholot Tahun 2025 di Asam Satu Beach bakal menampilkan berbagai kelompok musik, pemain alat tradisional, serta musisi muda yang mengembangkan komposisi baru berbasis ritme dan instrumen khas Lamaholot.
Selain itu, kata Paul Goran, pengunjung juga dapat menikmati penampilan tari tradisional serta UMKM dengan pangan lokal yang turut meramaikan suasana.
Paul Goran lebih lanjut menjelaskan, bantuan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVI NTT merupakan bagian dari program nasional untuk memperkuat identitas budaya lokal sekaligus mendorong keberlanjutan tradisi yang hidup di tengah masyarakat NTT.
Dana bantuan tersebut diberikan kepada para penerima yang telah melalui proses seleksi ketat berdasarkan proposal, rekam jejak, serta dampak kegiatan terhadap pelestarian budaya.
Di Flores Timur, beberapa komunitas terpilih menerima dukungan untuk melaksanakan kegiatan seni, pendidikan budaya, dan pengembangan ruang ekspresi masyarakat adat. Salah satunya, komunitas CIG.
“Bantuan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVI NTT ini juga bertujuan memberdayakan seniman lokal agar tetap produktif dan kreatif dalam memelihara warisan nenek moyang,” katanya.
Dengan terselenggaranya festival ini, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVI NTT menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pelestarian budaya di seluruh wilayah NTT.
Melalui kolaborasi pemerintah, komunitas seni, dan masyarakat, warisan budaya Lamaholot diharapkan tetap hidup, berkembang, dan dapat diwariskan ke generasi mendatang. *
Penulis : Wentho Eliando
Editor : Anton Harus










