Selendang Pewarna Asli dari Tanaman Kaktus Laut Desa Pamakayo Laris Manis di Festival Lamaholot 2025 - FloresPos Net

Selendang Pewarna Asli dari Tanaman Kaktus Laut Desa Pamakayo Laris Manis di Festival Lamaholot 2025

- Jurnalis

Jumat, 10 Oktober 2025 - 12:50 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LEWOLEBA, FLORESPOS.net-Event Festival Lamaholot Tahun 2025 di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) membawa berkat tersendiri bagi Kelompok Tenun Pariwisata Desa Pamakayo, Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur.

Pasalnya, ragam hasil tenun ikat, sarung, selendang, syal, geba dan senai berbagai motif dan ukuran yang dipajang di stan festival sejak hari pertama hingga hari ketiga laris manis dibeli pembeli.

“Kami bawah tenun ikat banyak di festival ini. Yang paling laris sejak hari pertama sampai hari ini, selendang asli pewarna alami tanaman kaktus laut. Kaktus ini asli dari pesisir pantai Pamakayo,” ungkap Maria Magdalena Keneka Lewar, Ketua Kelompok Tenun Pariwisata Desa Pamakayo.

Baca Juga :  Sekretaris Daerah Lembata Mundur Dari Ketua Pansel Jabatan Tinggi Pratama

Maria Lewar dan tiga anggota Kelompok Tenun Pariwisata didampingi Kepala Desa Pamakayo, Petrus Kanisius Sani Herin ditemui di lokasi venue utama Festival Lamaholot 2025, di areal Harnus Kota Lewoleba, Jumat (10/10/2025).

“Kami ikut Festival Lamaholot ini sejak hari pertama sampai selesai hari ini. Ini tahun kedua kami ikut terlibat. Lumayan laku tenun ikat yang kami bawah di Festival Lamaholot Tahun 2025 ini,” kata Kepala Desa Pamakayo, Sani Harin.

Maria Lewar mengatakan, Kelompok Tenun Ikat Pamakayo memamerkan sekaligus menjual tenun ikat berupa selendang, syal, geba, sarung dan senai. Tenun ikat ini umumnya terbuat dari benang dan pewarna asli serta benang pabrik/toko.

Baca Juga :  Surat "Sakti" Sekda Flores Timur, Minta Camat dan Kades Fasilitasi Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi

Satu hal yang istimewa dari karya tenun ikat yang dipamerkan, ungkap Maria Lewar, yakni pewarna kain tenun ikat terbuat dari pewarna asli tanaman kaktus diambil dari pesisir pantai Desa Pamakayo.

“Ini hari ketiga. Sejak hari pertama sudah laku terjual 5 lembar selendang dan 1 syal. Rata-rata laku terjual dengan harga Rp 300.000,” kayanya.

“Khusus untuk pewarna asli tanaman kaktus, kami jual dengan harga Rp 1000.000. Harga jual tergantung jenis dan ukuran. Juga pewarna asli,” kata Maria Lewar sambil tersenyum.

Kepala Desa Pamakayo, Sani Herin menambahkan, sudah tahun kedua Desa Pamakayo, Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur mengikuti Festival Lamaholot di Kabupaten Lembata.

Penulis : Wentho Eliando

Editor : Anton Harus

Berita Terkait

Pilkades Ngada, 9 Desa di Golewa Selatan Tengah Masuk Tahap Pencalonan
Penolakan Masyarakat Hukum Adat dan Budaya Amanuban Terkait Klaim Jonathan Nubatonis Sebagai Raja Amanuban
Penjelasan Kuasa Hukum AW Terkait Dugaan Pelanggaran UU ITE oleh Kliennya
POTHP V, “Merayu” Investor Berinvestasi di Parapuar
Hilang Kontak Saat Menuju Pulau Karumpa Selayar,Dua Nelayan Sikka Ditemukan Tim SAR Gabungan
Kesadaran Masyarakat Bayar PBB Masih Rendah, Realisasi PAD Baru Mencapai Rp 58 Miliar Lebih
Cek Kesehatan Gratis PDIP di Pengungsian Lewotobi–Mereka Masih Butuh Bantuan dan Kepastian Huntap
APINDO Ende Berbagi Kasih di Panti ODGJ Samaria, Bawa Bingkisan Barang Kebutuhan Pokok
Berita ini 217 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:34 WITA

Pilkades Ngada, 9 Desa di Golewa Selatan Tengah Masuk Tahap Pencalonan

Senin, 21 September 2026 - 21:04 WITA

Penolakan Masyarakat Hukum Adat dan Budaya Amanuban Terkait Klaim Jonathan Nubatonis Sebagai Raja Amanuban

Senin, 21 September 2026 - 21:01 WITA

Penjelasan Kuasa Hukum AW Terkait Dugaan Pelanggaran UU ITE oleh Kliennya

Senin, 21 September 2026 - 19:54 WITA

Hilang Kontak Saat Menuju Pulau Karumpa Selayar,Dua Nelayan Sikka Ditemukan Tim SAR Gabungan

Senin, 21 September 2026 - 19:40 WITA

Kesadaran Masyarakat Bayar PBB Masih Rendah, Realisasi PAD Baru Mencapai Rp 58 Miliar Lebih

Berita Terbaru