Carlin menambahkan, Maumerelogia 5 merupakan suatu pernyataan ‘jalan pulang’ untuk melihat seluruh konteks kultur, kota, kita hari ini. Maumerelogia 5 semacam jalan pulang, pulang kampung, mendengarkan lagi suara dan nyanyian ibu.
Menurutnya, Maumerelogia 5 adalah sebuah upaya dekonstruksi sejarah kolonialisme di Maumere. Upaya ini tentu tidak mudah, penuh ‘jalan berlubang’.
“Lagu Jalan Berlubang karya musisi Papache menjadi inspirasi dari catatan kuratorial Maumerelogia 5 yang berjudul: jalan, jalan berlubang; dan nada-nada yang (pernah) tumbuh dari mulut ibu,” tuturnya.
Carlin mengatakan, Maumerelogia 5 dengan demikian tidak hanya dirayakan sebagai pesta, tetapi juga sebagai sebuah gestur dekolonial, sebagai perlawanan atau resistensi.
Program-program Maumerelogia 5 akan berlangsung di sejumlah venue, seperti di Rumah Jabatan Bupati Sikka, di Area Car Free Night, Pusat Jajanan dan Cinderamata. Ketiga venue ini berada di kawasan Jalan El Tari Maumere.
Sementara, kuliah umum akan dilangsungkan di Aula Kampus 2 IFTK Ledalero. Pameran bertajuk BARU BARU digelar di Aula Karmel Wairklau serta pameran Babad Lembana dan Biennale Jogja digelar di Aula Rumah Jabatan Bupati Sikka. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










