“Programnya banyak karena kami ingin menjangkau publik yang inklusif di mana semua orang bisa menikmati festival ini,” kata Feni.
Feni mengatakan, Maumerelogia 5 juga membuka kesempatan bagi 5 orang seniman dari Jayapura, Madura, Surabaya, dan Jogjakarta melakukan residensi di Maumere.
Jelasnya, hasil dari residensi mereka akan dipresentasikan dalam program pertunjukan.
“Sebagai bentuk pengarsipan dan produksi pengetahuan, Tim Publikasi Maumerelogia juga berupaya melakukan proses pencatatan untuk setiap kegiatan yang terkait dengan Maumerelogia 5,” pungkasnya
Direktur Maumerelogia 5 Eka Putra Nggalu, Kamis (15/5/2025), mengatakan, Maumerelogia ingin ditumbuhkan dengan semangat dialog kritis antar warga di ruang hidupnya sendiri.
Lanjutnya, orang bisa bicara tentang perampasan tanah, penggusuran pemukiman, pemusnahan terhadap hak-hak masyarakat adat, krisis iklim, serta perempuan dan minoritas gender bisa bicara soal hak mereka di ruang aman.
“Kami ingin melihat perubahan apa yang terjadi di Maumere dan dunia hari ini,” terangnya.
Kurator Forum Gagasan Carlin Karmadina menjelaskan Maumerelogia, kultur, kota, kita, hendak membaca Maumere sebagai ruang pascakolonial.
Lanjutnya, ada tegangan-tegangan antara tradisi dan modernitas. Maumere tidak sepenuhnya kampung, tidak juga sepenuhnya kota.Tidak rural, tapi juga tidak urban sepenuhnya.
“Dengan tegangan-tegangan ini, gaung modernitas yang dirayakan di Maumere sebenarnya merupakan suatu kondisi yang tercipta dari model baru kolonialisme yang berkiblat ke barat (Eurosentrisme),” ungkapnya.
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










