“Kalau kita tidak bekerjasama maka para predator ini akan berkeliaran dan memakan banyak korban.Apalagi usia anak-anak dan merusak masa depan mereka,” ungkapnya.
Petrus mengkuatirkan terjadi trauma pada anak-anak sehingga anak-anak yang menjadi korban akan mengalami depresi dan masa depannya akan terganggu.
Dinas P2KBP3A melalui UPTD PPA melakukan pendampingan sampai psiko edukasi, pendampingan terhadap orang tua dan keluarga korban serta mendampingi korban dan keluarga membuat laporan ke Polres Sikka.
Ia berharap dengan pendampingan ke Polres Sikka tidak ad acara-cara lain yang menghambat proses hukum terhdap pelaku ini.
“Oknum-oknum seperti ini harus ditindak tegas dan dihukum seberat-beratnya karena sangat mengganggu masa depan anak dan membuat anak-anak menjadi depresi,” tegas Petrus.
Petrus menjelaskan, beberapa korban kondisinya mulai membaik karena dilakukan pendampingan terus menerus dan keluarga korban pun mulai menerima kenyataan.
Namun ada beberapa anak yang masih perlu pendampingan khusus sebab merasa trauma karena merasa diperlakukan tidak sewajarnya dari seorang pendidik kepada anak muridnya.
“Anak-anak traumatis terhadap dirinya sendiri,merasa terganggu sekali dengan penilaian sosial dari rekan sebayanya dan lingkungan sekitarnya,” ucapnya.
Petrus sebagai aparat pemerintah dan masyarakat Kabupaten Sikka berharap agar semua elemen masyarakat harus berjuang bersama, memerangi bersama agar anak-anak terlindungi dari oknum-oknum bejat.
Ia menekankan agar jangan memberi ruang terhadap pelaku pelecehan terhadap perempuan dan anak dan pelaku harus dihukum seberat-beratnya.
“Bila pelaku dihukum berat maka dapat menjadi contoh supaya pelaku-pelaku berikutnya menghitung betul bila melakukan pelecehan terhadap perempuan dan anak,” pungkas Petrus. *
Penulis : Ebed de Rosary (Kontributor)
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2










