MAUMERE, FLORESPOS.net-Hingga minggu ketiga tahun 2025, tren kasus gigitan dari Hewan Penular Rabies (HPR) di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus mengalami peningkatan.
Minggu pertama tahun 2025, jumlah kasus gigitan sebanyak 11 kasus. Sementara minggu kedua meningkat menjadi 15 kasus dan minggu ketiga naik menjadi 18 kasus gigitan.
“Kita mengalami kendala keterbatasan stok Vaksin Anti Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR) sementara kasus gigitan mengalami peningkatan per minggunya,” sebut Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Petrus Herlemus saat ditemui, Senin (10/2/2025).
Petrus mengatakan, masih ditemukan specimen positif pada Hewan Penular Rabies (HPR) dan masih terdapatnya resiko penularan rabies pada manusia.
Ia berharap agar vaksinasi pada HPR diintensifkan serta perlu dipertimbangkan untuk melakukan eliminasi selektif pada HPR.
Lanjutnya, Kabupaten Sikka merupakan daerah endemis rabies sejak ditemukan tahun 1998 dimana telah beberapa kali berdampak pada ditetapkannya status Kejadian Luar Biasa (KLB) rabies.
“Tahun 2023 terdapat 3.326 kasus gigitan sementara tahun 2024 sedikit turun menjadi 3.032 kasus gigitan. Dua tahun tersebut pun jumlah korban jiwanya pun masing-masing 6 orang,” ungkapnya.
Petrus mengungkapkan, untuk tahun 2024 kasus gigitan HPR terjadi pada laki-laki sebanyak 1.551 kasus (52 pesren) sementara perempuan sebanyak 1.442 kasus (48 persen).
Paparnya, Puskesmas Beru paling banyak menangani kasus gigitan HPR dengan jumlah kasus sebanyak 334 kasus disusul oleh Puskesmas Nita sebanyak 303 kasus dan Puskesmas Kopeta 204 kasus.
Ia sebutkan,untuk wilayah Kota Maumere HPR seperti anjing sudah hampir tidak ditemukan lagi namun di kecamatan di luar Kota Maumere populasinya masih banyak.
Penulis : Ebed de Rosary (Kontributor)
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 Selanjutnya










