Dampaknya, “sebagian lain masyarakat mulai berpikir mencari alternatif pendapatan. Mereka memilih merantau dalam negeri dan luar negeri. Menjadi buruh toko dan ART di seputaran Kota Larantuka dan Pulau Adonara,” katanya.
Sementara, kata Vero Lamahoda, sebagian lagi memilih tetap di kampung halaman dan bekerja serabutan. Menjadi tukang ojek, tukang batu, tukang kayu, dagang barang-barang kelontongan, serta menenun dan menganyam.
“Sebagai masyarakat yang bermukim di pesisir pantai Solor Selatan mempunyai keterampilan sebagai petani sekaligus nelayan tradisional. Lebih dikenal dengan nelayan sambilan,” katanya.
Aktivitas sebagai nelayan sambilan pun hanya didukung fasilitas kelautan yang sederhana sesuai kemampuan. Seperti perahu motor ketinting.
Itu pun hanya empat kapal motor ukuran 1-2 GT untuk memancing dan pukat. Selebihnya mereka mengandalkan kekuatan fisik menyelam secara tradisional untuk memanah ikan.
“Maka, digagas budidaya rumput laut sebagai salah satu cara beradaptasi dengan iklim dan menjaga kelangsungan kehidupan ekonomi. YTIB yang didukung oleh Samdhana Institut berupaya mendampingi para tani nelayan di Solor Selatan ini,” kata Vero Lamahoda. *
Penulis : Wentho Eliando
Editor : Wall Abulat










