MAUMERE, FLORESPOS.net-Persoalan jaringan internet yang menghambat ujian siswa Sekolah Dasar (SD) Negeri Watu Lagar, Desa Watu Merak, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendapat reaksi keras dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari Anggota DPRD Sikka, Yohanis Yos De Peskim.
Yos De Peskim mengatakan, masalah ini tidak seharusnya dialami para siswa SDI Watu Lagar, Kecamatan Doreng dan sejumlah lembaga pendidikan lain di wilayah Kabupaten Sikka di zaman yang serba cangih saat ini.
Sebagaimana diketahui, para guru dan siswa SDN Watu Lagar, Desa Watu Merak, Kecamatan Doreng terpaksa turun ke Kota Maumere, pusat Kabupaten Sikka, untuk mengikuti simulasi ujian ANBK.
Mereka membawa laptop, alas tidur dan perlengkapan lainnya menumpang kendaraan sejauh 30 kilometer dan harus menginap semalam di rumah Kepala Sekolah yang berada di Kelurahan Madawat, Kecamatan Alok.
“Tidak harus seperti yang dialami anak-anak SDN Watu Lagar yang terpaksa turun ke Kota Maumere hanya untuk dapatkan sinyal agar bisa simulasi ANBK,” tegas Yos De Peskim, Senin (14/10/2024).
Kata Yos De Peskim, persoalam ini sejatinya menjadi bukti kelemahan sekaligus kegagalan Pemerintah Daerah (Pemda) dalam hal ini Dinas Komunikasi dan Informatika dalam mengontrol akses jaringan internet dan perusahaan penyedia jaringan internet yang membangun tower di wilayah itu.
“Kondisi seperti ini bukan hal baru. Setiap tahun selalu saja terjadi masalah yang sama ini. Respon Pemda Sikka seperti apa soal ini? Kita harus evaluasi agar masalah yang sama tidak terjadi lagi dan tidak korbankan anak didik,” tegas Anggota DPRD Sikka dari Partai Garuda itu.
Mantan wartawan ini mengatakan, jika merujuk pada UU No: 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi dan Permenkominfo No: 25 Tahun 2015 Tentang Pelaksanaan Kewajiban Pelayanan Universal Telekomunikasi dan Informatika, maka ada ruang bagi Pemda bisa mengadvokasi kondisi buruknya jaringan telekomunikasi yang terjadi di wilayah Kabupaten Sikka.
“Kondisi jaringan internet buruk ini juga masih terjadi di wilayah Talibura, Lio dan wilayah kepulauan. Jadi Pemda harus pro aktif. Jangan lamban merespon kondisi yang dialami warga khususnya dalam dunia pendidikan,” tegas Yos De Peskim.
Sebelumnya, Marieta Ivoni Balik Kepala SDN Watu Lagar di Maumere, Senin (14/10/2024) siang mengatakan, di wilayah desa tempat sekolahnya sudah dibangun tower telekomunikasi, tetapi bukannya lebih baik malah bertambah parah dari sebelumnya.
“Sebelumnya kami bisa simulasi hingga ujian ANBK di sekolah. Itu kami terima jaringan internet jaringan telkomsel dari wilayah Kecamatan Bola. Namun kali ini, bukannya lebih bagus, malah tambah hancur jaringan internet,” katanya.
Menurut Ivoni Balik, masalah ini sudah berlangsung selama satu tahun. Terkait ini, pihaknya sudah menyampaikan keluhan ke pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Sikka, namun hingga kini belum ada upaya perbaikan jaringan telekomunikasi di wilayah itu.
“Kalau tahun lalu, kami harus jalan kaki 3 kilometer ke desa tetangga agar anak-anak bisa ujian ANBK. Karena belum ada upaya perbaikan, maka kali ini kami terpaksa turun ke Kota Maumere agar siswa bisa ikut simulasi,” katanya.
Ivoni Balik menambahkan, selain telah berkomunikasi dengan pihak Dinas Pendidikan setempat, pihak sekolah juga telah mencari kantor perusahaan yang memasang tower di wilayahnya untuk membuat pengaduan. Namun tidak ada di Kota Maumere.
“Pak kami berharap, dengan diberitakan kondisi ini, pihak pemerintah pusat maupun perusahaan pemilik tower dalam hal ini XL bisa memperbaiki jaringan agar anak didik kami tidak kesulitan dan melaksanakan ujian ANBK yang akan dilaksanakan pasa 28 Oktober mendatang,” harapnya. *
Penulis : Shinto Koban (Kontributor)
Editor : Wentho Eliando










