Reklamasi Peran Guru Dalam ‘Toing, Titong, Tatong’ Bagi Generazi Z

- Jurnalis

Rabu, 24 April 2024 - 12:59 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ernestina Daimun

GENERASI Z merupakan pengelompokan generasi dengan kelahiran 1997-2012 sehingga di tahun 2023 ini mereka rata-rata usia 11-26 tahun (Rizal, 2021).

Meskipun rentan usia nya tidak dipastikan secara tepat, tetapi nilai pentingnya adalah karakter mereka sebagai digital-native.

Kecenderungan Generasi ini merupakan bias karakter mereka sebagai generasi diera digital, jika tidak diimbangi dengan literasi maka hal ini akan menjadi masalah.

Berkaitan dengan hal ini, fungsi kontrol dari pemangku pendidikan  dalam ruang digital sangat penting salah satunya adalah guru dalam sistem pendidikan formal.

Urgensi peran guru dalam suatu sistem pendidikan sangat frontal yaitu sebagai pengajar dan pendidik.

Dengan adanya sistem kebutuhan teknologi tinggi, serta orientasi kehidupan masyarakat intelek (peserta didik) sebagai pengguna kecanggihan teknologi terbesar di Indonesia dalam survei dari Cambridge Internasional yang diikuti oleh 502 siswa dan 637 guru di Indonesia (UNPI/Universitas Putra Indonesia, 2018).

Penelitian ini menghasilkan bahwa pelajar di Indonesia menduduki peringkat tertinggi secara global sebagai pengguna IT/komputer dengan persentase 40% di sekolah sedangkan pengguna komputer desktop menduduki peringkat kedua dengan presentasi 54% mengalahkan Amerika Serikat. Bahkan di angka 67 % dan 81% pelajar Indonesia menggunakan smartphone disekolah dan di rumah.

Dengan nilai yang ditunjukan, kesan yang paling nampak bahwa pelajar Indonesia tidak ketinggalan dengan perkembangan IPTEK dan bahkan menjejali perkembangan IPTEK dalam dinamika yang cukup signifikan.

Perkembangan ini tidak hanya dapat berpotensi dalam hal positif namun beberapa kekuatan dan peluang dapat menciptakan pengaruh negatif atau disebut dengan krisis. Suatu kesenjangan  yang paling nampak dalam realitas kehidupan yaitu ketika suatu hal mengalami eskalasi sedangkan hal lainnya mengalami degradasi.

Eskalasi terjadi dengan adanya kenaikan pada pertumbuhan tenaga mesin sehingga mempermudah pekerjaan dalam mengerjakan tugas dari pelajar. Sedangkan terjadi degradasi yang bersamaan yaitu kemerosotan pada relasi dan kontak sosial antar pelajar.

Selain itu beberapa bias yang secara tidak langsung terjadi pada pelajar sekarang adalah Fomo. Fomo merupakan singkatan dari Fear Of Missing Out yaitu kecenderungan takut tertinggal atau trend disebut takut kurang update (kudet).

Kecenderungan yang dialami peserta didik dalam hal ini misalnya lebih peduli dengan media sosial sehingga berpotensi ingin mengikuti gaya hidup orang lain dan mengikuti gaya yang sedang trend, selain itu ada kebiasaan mencari tahu kehidupan orang lain dengan tingkat penasaran tinggi. Dampak dari ini semua adalah lemahnya orientasi diri atau mengenal dirinya sendiri.

Baca Juga :  Percaya Diri Tanpa Kompetensi: Psikologi di Balik Dunning-Kruger Effect

Dalam hal ini, guru memiliki peran sesuai dengan semboyan yang diusung oleh Ki Hajar Dewantara “Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani” (Yunita, 2020) yang mengandung tiga (3) aspek penting berkaitan dengan peran guru, Ing Ngarso Sung Tulodho memiliki makna yaitu guru berperan penting sebagai pemimpin yang berada di depan maka guru hendak menjadi teladan dan contoh yang baik bagi peserta didik sedangkan Ing Madyo Mangun Karso menunjukan guru berada di tengah harus menjadi sosok yang mengobarkan semangat peserta didik dan Tut Wuri Handayani menunjukan peran guru sebagai pasukan belakang yaitu untuk mendorong dan memberi motivasi belajar bagi peserta didik.

Ketiga peran ini selaras dengan yang ada dalam masyarakat Manggarai. Dalam tutur budaya Manggarai terdapat tiga (3) kata yang sama dengan semboyan Ki Hajar Dewantara yaitu; Toing, Titong, Tatong.

Pertama, Toing merupakan satu tutur dalam bahasa Manggarai yang berarti ‘mengajar’, dengan kata dasar ‘toi’ yang berarti ‘memberitahu’.

Dalam habitus orang Manggarai ‘toing’ harus diikuti dengan ‘toming’ yang berarti meniru, meneladani, mengikuti. Kedua kata ini secara bersamaan berbentuk resiprokal, ‘toing’ atau ‘mengajar’ harus diimbangi dengan ‘toming’ dari seseorang.

Dalam hal ini Guru sebagai indeks penting yang bertugas ‘toing’ dengan ‘toming’ yang benar kepada peserta didik di era serba digital ini.

Hal itu dilakukan tidak bermaksud bahwa Guru membatasi dirinya dan peserta didik dalam ruang digital, tetapi Guru memberi ‘toming’ atau contoh yang benar dalam penggunaannya terutama bagi keberlangsungan kegiatan belajar mengajar.

Guru haruslah menjejali lebih dalam dari pada peserta didik dengan tujuan supaya guru memberi edukasi tentang  bahaya-bahaya yang harus diantisipasi.

Dalam hal ini pula ‘toing’ layaknya suatu kodrat profesi Guru, wejangang didalamnya setimpal pada tura ada di’a atau secara harfiah berarti nyatakan/membicarakan yang baik melalui gau’k di’a atau teladan yang baik. Guru menjadi model dalam menggunakan kecanggihan teknologi.

Kedua, Titong dalam bahasa Manggarai merujuk pada makna kata ‘membimbing, mengarahkan’ seperti dalam ungkapan yo Mori jari agu dedek, titong koe salang dami anakm (Ya Tuhan pencipta, arahkan/bimbinglah jalan kami anakmu).

Dalam kaitannya dengan tugas atau peran guru, pada bagian ini guru hendaknya menjadi tokoh yang memberi terang, arah kepada peserta didik untuk memiliki kecakapan dalam menggunakan berbagai arus perkembangan teknologi.

Baca Juga :  Demokrat Ende Tutup Pendaftaran, Ada 4 Bacalon yang Sudah Daftar

Guru yang memberi arah penggunaan media sosial dalam jejaringan sosial. Ketika peserta didik salah dalam menggunakan, disinilah peran guru dalam fungsinya untuk ‘titong’ di pergunakan.

Ketiga Tatong, selain toing, titong ada satu kata dalam bahasa Manggarai yang berhubungan dengan tugas Guru adalah ‘tatong’ yang memiliki arti ‘mengangkat, (Lon, 2016) motivasi’.

Relasi guru dan peserta didik meski terbentuk dalam hubungan timbal balik yang tidak monoton. Maka guru juga bisa berperan sebagai sahabat, teman sebaya, atau orang tua untuk membuka relasi dalam ranah yang waktu tertentu dibutuhkan oleh peserta didik.

Menanggapi hal ini, fungsi ‘tatong’ guru adalah kontribusi peran guru sebagai seorang yang bisa dipercayakan oleh peserta didik dengan konsekuensi real bahwa guru mendorong, mengangkat, memacu semangat peserta didik.

Lalu bagaimana kaitannya dengan pendidikan yang diwarnai dalam arus internet global? Apakah guru mengangkat peserta didik dan menjerumuskan mereka dalam dinamika itu? tentu saja tidak.

Fungsi ini sesungguh memiliki arti yang salah jika pada konteks harfiah, maka kata ini meski dimengerti dalam konteks umum tentang tugas guru sebagai agen pelatih critical thinking atau cermat berpikir dalam hal bermedia agar tidak terjebak dalam arus digital yang salah.

Jadi, Toing, Titong, Tatong merupakan kata yang bernilai sama dengan semboyan Ki Hajar Dewantara Ing Ngarso Sung Tulodho sama dengan peran toing dalam bahasa Manggarai sedangkan Ing Madyo Mangun Karso sama dengan titong, Tut Wuri Handayani sama dengan tatong”.

Namun disisi lain, ketiga peran (toing,titong,tatong) pada hakikat yang lain juga memangku ketiga peran yang membentuk satu kesatuan yang utuh.

Dengan kata lain ketiga peran ini tidak hanya secara personal sama dengan semboyan yang dicetus oleh Ki Hajar Dewantara, tetapi ketiganya secara  bersama sesuai dengan satu sembayan penting Tut Wuri Handayani.

Jika ketiga hal diatas (toing, titong, tatong) dilaksanakan dan direfleksikan dalam konteks peran guru yang baru, maka perkembangan teknologi dan iming-iming krisis bagi pelajar sekarang dapat diminimalisir.

Kegaduhan akibat teknologi yang booming bagi pelajar bukan suatu persoalan namun justru ruang gerak pembelajaran yang lebih luas tetapi jika guru juga menjalankan fungsi kontrol yang efektif terciptanya pembelajaran yang baik. ***

Penulis: Mahasiswi Sementara VIII Stipas St. Sirilus Ruteng

Berita Terkait

Huntara, Bahasa Penderitaan dan Kritik Sosial Penyintas
Catatan ETMC XXXIV Ende, Sepakbola Amatir NTT: Masih Bolehkah Kami Bermimpi?
NTT Wajib Waspada!
Antara Papan Tulis dan Piring Nasi: Realita Nasib Guru Swasta dan Tambahan Anggaran Badan Gizi Nasional
SDK Bhaktyarsa Maumere Wakili NTT Ikut Semarak Sekolah Dasar–‘Kami Kirim Empat Siswa dan Guru Pendamping’
Eksistensi Warisan Budaya–Merawat Identitas Bangsa
Tentang Yoris Nono vs PSN Ngada: ‘Terlalu Emosional Om, Saya Ambil Gambar Air Mata Mau Jatuh’
Irama Keindahan yang Menyatukan (sisipan untuk Fanfare Keuskupan Larantuka)
Berita ini 265 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 11 Desember 2025 - 11:12 WITA

Huntara, Bahasa Penderitaan dan Kritik Sosial Penyintas

Selasa, 9 Desember 2025 - 21:58 WITA

Catatan ETMC XXXIV Ende, Sepakbola Amatir NTT: Masih Bolehkah Kami Bermimpi?

Selasa, 9 Desember 2025 - 13:51 WITA

NTT Wajib Waspada!

Senin, 8 Desember 2025 - 09:22 WITA

Antara Papan Tulis dan Piring Nasi: Realita Nasib Guru Swasta dan Tambahan Anggaran Badan Gizi Nasional

Sabtu, 6 Desember 2025 - 13:19 WITA

SDK Bhaktyarsa Maumere Wakili NTT Ikut Semarak Sekolah Dasar–‘Kami Kirim Empat Siswa dan Guru Pendamping’

Berita Terbaru

Ekonomi

Gubernur NTT Sebut NTT Mart Hadir Dukung Pertumbuhan Ekonomi

Senin, 15 Des 2025 - 08:42 WITA

Bentara Net

Menata Ekonomi Lokal

Sabtu, 13 Des 2025 - 08:33 WITA