RUTENG, FLORESPOS.net- Keadaan miris terjadi di dunia pendidikan di Manggarai, NTT bahwa masih ada siswa sekolah menengah pertama (SMP) yang bermasalah dengan membaca, menulis, dan menghitung.
Ketika berbicara di hadapan para guru, siswa, dan para tokoh agama, adat, dan masyarakat usai meletakkan batu pertama pembangunan ruang kelas permanen untuk SMPN 11 Kecamatan Ruteng di Bea Kakor, Senin (25/9/2023), Bupati Manggarai, Hery Nabit secara terbuka dan transparan menyampaikan fakta pendidikan di Manggarai.
“Kita masih punya pekerjaan rumah besar untuk dunia pendidikan. Soal pada numerasi dan literasi. Konkretnya, baca, tulis, dan hitung siswa SMP belum sesuai dengan harapan,”katanya.
Faktanya, banyak siswa SMP yang belum lancar, dan bahkan tidak membaca, menulis, dan apalagi menghitung. Kalau demikian, bagaimana bisa meningkatkan ilmu dan pengetahuan selanjutnya.
Dikatakan, membaca, menulis, dan menghitung itu sebetulnya harus sudah selesai di tingkat sekolah dasar. Kalau demikian, maka ada sesuatu tidak dilaksanakan dengan baik.
Menurutnya, fakta ini tidak bermaksud untuk mempersalahkan siapa-siapa. Zaman ini tidak perlu mencari siapa yang salah, tetapi mencari solusi agar soal yang ada bisa diatasi dan ditangani.
Karena itu, Pemkab Manggarai memprogramkan Bupati atau camat atau kepala desa masuk sekolah. Tujuannya bukan untuk mencampuri urusan pendidikan, tetapi melihat dan mengetahui out put riil dari pengajaran di sekolah.
Apa yang terjadi itu kiranya menjadi evaluasi demi generasi masa depan daerah ini. Kemampuan dan kebisaan harus dimiliki sesuai dengan tingkatan pendidikannya
“Kita harus buka diri, termasuk dunia pendidikan. Kita lihat juga yang kurang-kurang itu. Dan, kita harus sepakat untuk tanganisecara baik dan benar,” katanya.
Ketika itu, Bupati Hery Nabit menekankan bahwa siswa tidak bisa hanya diajar untuk bisa membaca, juga dan paling penting mengerti dan memahami apa yang dibacanya.
Para guru, kiranya juga memperhatikan secara serius demi anak-anak yang menjadi generasi masa depan. Kalau sumber daya daerah ini rendah, maka bisa dipastikan daerah ini akan banyak diisi oleh orang-orang dari luar.
Sedangkan Kepala SMPN 11 Kecamatan Ruteng, Yasintus Ratu mengatakan, apa yang disampaikan Bupati itu ada benarnya. Sekolahnya pernah bereksperimen soal baca, tulis, dan hitung para siswanya.
“Kami temukan ada 79 siswa yang bermasah soal itu. Dari jumlah itu, ada 3 anak yang tidak kenal huruf sama sekali,” katanya.
Para siswa itu yang menjadi ekstra perhatian beberapa waktu belakangan agar masalah baca, tulis, dan hitung teratasi. Yang lebih ekstra lagi untuk yang tidak bisa baca, tulis, dan hitung sama sekali. *
Penulis: Christo Lawudin/Editor: Anton Harus










