RUTENG, FLORESPOS.net – Petani Agustinus Adil menerima penghargaan langsung dari tangan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat pada puncak HUT ke-78 Kemerdekaan RI di Kupang, Kamis (17/8/2023).
Penerimaan penghargaan itu sesuai dengan rencana didampingi Pastor Paroki Kajong, Manggarai, Rm. Bernad Palus Pr. Romo Bernad selama ini dikenal cukup dekat dengan tokoh Agustinus Adil.
Petani Agustinus Adil meraih penghargaan karena upayanya menjadikan kawasan kritis menjadi hutan di kampungnya, Lendo, Desa Gunung Baru, Kecamatan Kota Komba, Manggarai.
Tidak saja menanam pohon yang jumlah fantastis sejumlah 15.000-an, petani Agustinus ini juga menanam banyak sekali Porang alias Wanga.
Dari jumlah, wanga yang ditanamnya mencapai 1.000.000 di kampungnya. Yang dilakukannya, mematik masyarakat lain untuk membudidayakan wanga secara luas di kawasan itu beberapa tahun terakhir lalu.
Dihubungi wartawan usai penerimaan penghargaan itu, pendamping Rm. Bernad mengatakan, piagam telah diterima Bapak Agustinus Adil langsung dari Gubernur.
“Tentu, Bapak Agus tidak seorang diri, melainkan bersama para penerima penghargaan dari daerah lain di NTT,” katanya.
Atas penghargaan itu, Rm. Bernad berpesan agar Bapak Agus terus berinovasi dan jangan lupa untuk berbagi ilmu ke petani lain di Manggarai raya.
Penghargaan untuk petani Agustinus Adil seperti diberitakan media ini sebelumnya, diberikan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat kepada petani atau siapapun yang mempunyai kontribusi besar untuk pembangunan.
Untuk Matim ada dua orang, yakni Bapak Agustinus Adil dan Bapak Arsyad dari Pota, Kecamatan Sambi Rampas. Keduanya berusaha sendiri untuk masyarakat umum dan lingkungan sekitar.
Untuk petani Agustinus Adil ketika Gubernur Viktor Laiskodat ke Paroki Kajong, Manggarai, beberapa waktu lalu, juga hadir dan berdiskusi langsung dengan Gubernur Viktor.
“Bapak Gubernur banyak diskusi dengan saya. Bapak Gubernur ini, mau kita buat dan tidak hanya omong-omong saja,” katanya.
Menurutnya, Gubernur lihat NTT mempunyai banyak potensi. Tetapi, tidak urus dengan baik karena kurangnya kemauan untuk mengusahakan secara nyata.
Kalau bicara Porang, maka tidak hanya bicara. Tetapi, harus tanam banyak. Dirinya sudah merasakan manfaat dan keuntungannya. *
Penulis: Christo Lawudin/Editor:Anton Harus










