RUTENG, FLORESPOS.net – Berdasarkan data sistem informasi HIV dan AIDS (SIHA), orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Manggarai, NTT, ada yang tidak mempunyai pekerjaan.
Sesuai dengan data SIHA 2022 yang diterima wartawan dari Pengelola KPAD Manggarai, Kamis (8/6/2023), untuk tahun 2022, ada tambahan 28 ODHA. Para ODHA itu ditilik dari profesinya beragam seperti PNS, TNI, Polri, guru, tenaga kesehatan;
Lalu, pegawai swasta, wiraswasta, pelajar, mahasiswa, buruh, petani, ibu rumah tangga, tidak bekerja, swasta, sopir, dan ojek.
ODHA tahun 2022, terbanyak yang bepekerjaan sebagai pegawai swasta 9 orang dan menyusul yang tidak memiliki pekerjaan 6 orang dan petani 4 orang.
Menurut Sekretaris Pengelola KPAD Manggarai, Kosmas Takung, apakah tambahan riil jumlah ODHA tahun 2022 hanya seperti yang terdata? Hal itu yang sulit yang diketahui.
“Yang tercatat itu berdasarkan yang terlapor atau pernah diperiksa dan dirawat di rumah sakit,” katanya.
Jika demikian, demikian Kosmas, bisa saja ada yang tidak melapor atau tidak pernah mendapat pelayanan di rumah sakit. Yang demikian yang sulit diketahui karena tidak terdata.
Menurutnya, keinginannya siapa saja yang merasa berperilaku berisiko untuk memeriksakan diri agar diketahui kondisinya. Yang diketahui, tak boleh menutupi diri, tetapi terbuka dengan lembaga terkait agar mendapat pelayanan.
Para ODHA selama ini, lanjut Kosmas, selalu mendapat pelayanan seperti diberikan obat ARV secara gratis. Demikian juga dengan kondom.
“Yang tidak terdata pasti, tidak mendapat ARV dan kondom,” katanya.
Dalam rangka pencerahan dan pencegahan, terang pensiunan PNS itu, pihaknya dengan elemen terkait gencar melakukan sosialisasi dan penyuluhan ke desa-desa, sekolah-sekolah, dan komunitas-komunitas di Manggarai.
Hal itu dilakukan agar siapapun memahami baik bahaya HIV/AIDS. Dan, kalau sudah terkena bagaimana menjaga diri agar tetap sehat dan yang lainnya tidak tertular.
Sosialiasi dan penyuluhan tidak henti itu dilakukan agar semua paham tentang HIV/AIDS secara baik dan benar. Dengan itu, pada gilirannya tahu bagaimana mencegahnya.
Dengan tahu, siapapun terbuka akan apa yang dialami. Karena dalam banyak kejadian, ODHA menyembunyikan sakitnya karena khawatir dengan stigma dari orang-orang sekitarnya.
Sebelumnya, Ny. Steny dalam momen sosialisasi penanganan HIV/AIDS di Kota Ruteng mengatakan, sakit ini tidak diinginkan oleh siapapun. Tetapi, yang telah sakit diharapkan proaktif untuk berobat atau memeriksakan diri.
“Kalau tidak, risiko besar terjadi pada diri ODHA itu. Hanya dengan hidup sehat dan rutin meminum obat, ODHA tetap terjaga kondisinya,” katanya. *
Penulis: Christo Lawudin/Editor:Anton Harus










