RUTENG, FLORESPOS.net-Seperti memahami betul kegelisahan masyarakat soal porang, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat memberi isyarat menghadirkan pabriknya di wilayah utara Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Manggarai Barat (Mabar).
Ketika berbicara dalam acara bincang-bincang di Aula Paroki Kajong, Kevikepan Rep, Keuskupan Ruteng, Minggu (15/5/2023) malam, Gubernur Laiskodat mengatakan, di beberapa titik dalam perjalanan dari Labuan Bajo, Mabar hingga Kajong, Manggarai terlihat warga mengurus Porang atau Wanga dalam bahasa warga setempat.
“Luar biasa dengan Porang ini. Ternyata sangat banyak. Tadi saya saksikan di wilayah perbatasan Mabar dan Manggarai begitu banyak Porang,” katanya.
Soal Porang ini, demikian Gubernur Laiskodat, sudah mulai berbicara dengan kawan-kawan pengusaha untuk menghadirkan pabriknya di kawasan ini. Pabrik sudah pasti akan menyerap semua komoditas Porang ini.
Dikatakan, sekilas terlihat potensi Porang sangat besar di kawasan ini. Tetapi, potensi ini belum dikelola secara baik atau seperti umumnya terjadi mengandalkan penjualan ke pulau lain.
Publik dunia, demikian Gubernur Laiskodat, tahu Porang banyak sekali manfaatnya. Paling utama menjadi bahan makanan yang bergizi tinggi.
Porang berserat tinggi, tetapi kadar gulanya rendah. Jadi, sangat baik untuk kesehatan.
Potensi Porang baik di wilayah Kecamatan Masang Pacar, Mabar maupun di Kecamatan Reok Barat seperti dipantau wartawan, Minggu dan Senin (14-15/5/2023) bisaa dipastikan sangat banyak.
Di wilayah Pateng dan Kampung Munta, ada aktivitas penjemuran Porang. Lalu, ada aktivitas pengumpulan Porang yang baru digali dari masyarakat. Ada juga aktivitas membersihkan umbi dan mengirisnya menjadi lempengan.
Lalu, sepanjang jalan provinsi dari Pateng hingga Pacar, terlihat tumpukkan karung berisi umbi Porang. Porang dalam karung siap dijual dan diangkut pembeli.
Seorang warga di Kampung Munta, Domi Yen, mengatakan, antusiasme untuk usaha Wanga sudah mengendur karena harga anjlok. Harga mentah per kilogramnya cuma Rp 1.500 dan kering Rp 12.000-an.
“Jadi, petani tidak semangat untuk tanam. Namun, pembelian tetap ada. Buktinya ada konsentrasi Wanga di Munta dan Pateng,” katanya.
Harapannya, lanjut Domi, situasi berubah. Harga membaik sehingga petani bisa kembali bergairah mengembangkan Wanga ini.*
Penulis:Christo Lawudin/Editor: Anton Harus










