MBAY, FLORESPOS.net-Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosco Do meminta masyarakat Nagekeo, khususnya petani Irigasi Mbay untuk tidak terprovokasi isu politik. Penutupan air bisa saja digiring dalam isu politik.
Menurutnya, keputusan penutupan air pada Senin (15/5/2023), telah melalui proses panjang, permufakatan bersama petani melalui Pengurus Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) se wilayah irigasi teknis persawahan Mbay.
“Tanggal 15 Mei 2023 itu sudah final. Itu data yang dipegang balai (BWS, red) merupakan keputusan bersama masyarakat P3A. Kita tidak bisa kompromi lagi karena beberapa kali kita tarik ulur. Tapi kita lihat penyedianya, apakah tanggal 15 ini langsung kerja atau bagaimana,” jelas Bupati Don, Jumat (12/5/2023).
Bupati Don menjelaskan, Pemerintah Nagekeo memastikan tujuan penutupan air Irigasi Mbay demi kepentingan jangka panjang petani bukan sekadar realisasi anggaran proyek miliaran rupiah di Kabupaten Nagekeo.
Penutupan air Irigasi Mbay berhubungan erat dengan realisasi proyek perbaikan infrastruktur Bendungan Sutami-Mbay dan saluran irigasi yang dananya bersumber dari pinjam bank dunia (World Bank) senilai Rp 53,8 miliar.
“Ini keputusan pemerintah, bantuan yang tidak mungkin terulang, ini mungkin bisa terulang dalam 50 tahun ke depan. Sebagai pimpinan, saya menjalankan tugas Negara, kalau ada yang lapar saya urus. Fakir miskin ditanggung Negara. Kalau gara-gara ini dia miskin, ya ditanggung negara. Pemerintah kasih kita dana itu, melihat kesungguhan kita dalam bekerja,” tegas Bupati Don.
Bupati Don meminta kepada masyarakat untuk tidak terprovokasi. Keputusan penutupan air bisa saja digiring dalam isu politik yang membangun narasi seolah-olah akan ada kejadian luar biasa dengan kondisi penutupan air Irigasi Mbay.
Bupati Don mengungkapkan, bahwa pemerintah Kabupaten Nagekeo akan menyediakan skema untuk menolong masyarakat dalam mengahadapi kesulitan dampak penutupan air irigasi teknis persawahan Mbay.
“Kadang hal ini digiring ke politik. Ekor cecak dibilang ekor buaya. Masyarakat jangan terprovokasi. Ini demi masa depan petani kita yang lebih baik. Ini bukti keseriusan kita sebagai pemerintah urus petani. Kita akan bantu tapi kita juga akan petakan betul berdasarkan skala prioritasnya. Kita utamakan yang benar-benar membutuhkan bukan yang dengan sengaja,” urainya.
Kata Bupati Don, Pemerintah akan menurunkan bantuan alat Bor pada titik-titik rawan, lokasi sawah petani sungguh membutuhkan bantuan pengairan dampak penutupan air.
“Target bukan hanya padi tapi juga palawija. Padi yang sekarang berisiko nanti kita secepatnya menolong,” jelasnya.
Bupati Don mengimbau dinas teknis (Dinas Pertanian) untuk sungguh-sungguh mengidentifikasi lokasi-lokasi sentral yang membutuhkan bantuan alat Bor untuk menolong padi petani.
Dinas teknis harus bisa memastikan bahwa lokasi yang ditunjuk sungguh merupakan lokasi terdampak penutupan air karena kondisi alam (Kebencanaan) bukan karena unsur kesengajaan.
“Nanti masyarakat bisa usul, Dinas teknis kita minta petakan betul, supaya tepat sasaran. Apakah ini murni karena kondisi kebencanaan, kemarin gagal pengaruh air terendam dan mereka tanam ulang atau jangan sampai karena nekat. Sudah selesai panen kemudian adu nasib lagi. Ini kita harus jujur,” ujar Bupati Don.*
Penulis: Arkadius Togo / Editor: Anton Harus










