MBAY, FLORESPOS.net-Pengaruh media sosial sangat besar di era sekarang. Karenanya, etika atau perilaku bermedia sosial harus tetap dijaga oleh semua elemen dan kalang terutama kaum muda.
Kata Yanuarius Bala Pili saat membawa materi Etika Digital dalam Workshop Pekan Literasi Digital di gedung Balai Pelatihan Ulupulu 1, Sabtu (6/5/2023).
Kegiatan Pekan Literasi Digital itu, diikuti oleh kaum muda Desa Ulupulu I, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dia mengatakan, seseorang yang menggunakan media sosial secara cerdas dengan mengedepankan etika akan berdampak baik dan menghasilkan sesuatu yang bermutu.
Sebaliknya, kata dia, jika tidak cerdas bermedia sosial maka berdampak buruk bagi diri sendiri. Bahkan sangat berpotensi akan terjerat hukum.
Ian Pili menyebutkan etika bermedia sosial yang perlu dicermati ialah penggunaan tata bahasa yang baik dan benar. Selanjutnya, hindari penyebaran informasi tentang suku, ras dan agama (SARA), pornografi dan aksi kekerasan.
Kemudian, cek kebenaran berita atau suatu informasi melalui akun resmi, menghargai hasil karya orang lain dan tidak mengumbar informasi pribadi berlebihan.
“Tren sekarang ialah berita bohong atau hoaks. Ini yang fatal sekali bila tidak mampu mengenali,” katanya.
Ian Pili menyebut hanya berkisar 21 hingga 36 persen pengguna media sosial mampu mengenali hoaks dari 30-60 persen yang terpapar.
“Paparan hoaks pada tahun 2020, naik menjadi 13 persen sesuai data dari laporan tahunan Mikorsoft. Nah, ini yang harus kita sama-sama perhatikan,” katanya.
Pada kesempatan itu, dia mengajak kaum muda Desa Ulupulu I, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, NTT, menjaga etika saat menggunakan media sosial demi kerukunan dan persatuan di tengah masyarakat.
“Pengaruh media sosial sangat besar di era sekarang. Sehingga etika atau perilaku bermedia sosial harus tetap dijaga,” kata dia.
Sementara, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Nagekeo, Dona Andreas Korsini menyatakan hoaks atau berita bohong diciptakan oleh orang-orang tertentu untuk tujuan tertentu.
Karena itu, dia menyarankan agar perlu menerapkan pendidikan awal kepada generasi muda terutama generasi milenial.
“Pendidikan awal melalui gerakan literasi digital sangat diperlukan. Agar setiap pengguna media sosial bisa menerapkan etika bermedia sosial dengan baik untuk daerah dan bangsa kita ini,” kata Andreas.*
Penulis: Arkadius Togo / Editor: Wentho Eliando










