RUTENG, FLORESPOS.net-Ritus adat Manggarai ada yang masih hidup dan tetapi ada juga yang nyaris hilang ditelan arus zaman. Dalam kerangka menggali dan menghidupkan itu, para siswa kelas tiga SMPN 4 Langke Rembong mementaskan belasan ritus adat Manggarai.
Ritus adat Manggarai yang diangkat dan di-audiovisual-kan itu masuk dalam rangkaian ujian sekolah tahun pelajaran 2022/2023 di SMPN 4 Langke Rembong di Lao, khusus ujian praktik/ketrampilan semua mata pelajaran mulai diadakan, Rabu (10/5/2023).
Menurut guru pendamping Karolina Yosyue Lawi, ada beberapa tema ritual adat yang didramakan para siswa seperti berkaitan pertanian, perkawinan, dan kehidupan sosial lainnya.
“Kita semua tahu tentang adat dan budaya Manggarai. Anak-anak harus tahu dan bisa mempraktikkannya,” katanya.
Dikatakan, kali ini, sejumlah ritus adat berhasil diangkat para siswa dengan tetap dalam dampingan para guru dalam drama dokumenter, yakni ritus Lea Lose (acara adat saat membuka kebun baru), Ritus Benco Raci (acara adat sebelum memulai menanam di kebun);
Lalu, Ritus Wasa (acara adat pertanian ketika tanaman berumur 1-2 bulan); Ritus Oli Uma Weru (acara khusus atas kesuburan yang diberikan leluhur); Ritus Hang Latung Weru (acara adat yang menandai padi dan jagung siap panen);
Kemudian, Ritus Wuat Wai (acara khusus untuk mendoakan anak agar berhasil dalam pendidikan ke jenjang yang tinggi); Ritus Wagal (acara yang menandai bahwa rangkaian kegiatan adat untuk anak gadis yang berkeluarga sudah selesai);
Ritus Toto Molas (acara pertunangan); Ritus Teing Hang (acara memberi makan leluhur); Ritus Rondo Roko Wina/Podo Wina Weru (acara mengantar pengantin perempuan ke rumah pengantin pria); dan, Ritus Cear Cumpe (acara khusus untuk kehadiran bayi dalam keluarga).
Kasek Wens Resman, ritus adat Manggarai sangat banyak. Di antaranya ada tetap diupacarakan baik dalam keluarga, rumah-rumah adat, dan masyarakat. Yang lainnya ada yang nyaris hilang dan atau bahkan tenggelam.
“Kita harus gali dan angkat lagi itu. Biar anak-anak tahu adat dan budayanya sendiri,” katanya.
Sedangkan guru les agama Katolik, Sil Daud mengatakan, dramatisasi teks Kitab Suci bertujuan agar siswa memahami teks yang dipilih, bisa mengaplikasi teks menjadi teks drama.
“Dan, bisa menghayati karakter tokoh-tokoh dalam kitab suci yang diperankan dan mampu menyampaikan pesan dari teks Kitab suci itu,” ujar guru Sil yang didampingi guru Hermina Edit, dan Dorothea Nonitea Deri. *
Penulis: Christo Lawudin / Editor: Wentho Eliando










