RUTENG, FLORESPOS.net-Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Karya Ruteng berlokasi di Jalan Satar Tacik No. 14 Kumba, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai tak sekadar sebagai locus perkuliahan.
Akan tetapi lembaga ini dirasakan mahasiswa dan wisudawan sebagai rumah persemaian aneka nilai kemanusiaan yang positif bagi mahasiswa, kata Suster Elisabeth Meo, SSpS, dalam acara wisuda 35 wisudawan/wisudawati Kampus STIE Karya Ruteng di Benedict Hall Cewonikit Ruteng, Selasa (13/10/2026).
Suster Elisabeth Meo mengakui STIE Karya Ruteng bukan sekadar tempat menimba ilmu. Tetapi, rumah bagi mahasiswa untuk bertumbuh. Tempat mahasiswa belajar arti kerja keras, ketekunan, dan tanggung jawab.
“Di sini kami tidak hanya belajar teori, tetapi juga ditempa untuk menerapkan ilmu dalam kehidupan nyata, agar menjadi pribadi yang berguna bagi masyarakat,” katanya.
Wisuda ini, kata Suster Elisabeth, bukanlah akhir, melainkan simbol dari perjuangan, air mata, dan doa yang akhirnya berbuah hasil. “Kita telah membuktikan bahwa setiap proses, betapapun sulit, akan berujung pada keberhasilan bagi mereka yang tidak menyerah.”
“Keberhasilan ini tentu bukan hanya milik kita pribadi, tetapi juga milik keluarga, orang tua, dan orang-orang yang selama ini mendukung kita dalam diam. Banyak di antara kita yang datang dari latar belakang sederhana, namun dengan semangat, kerja keras, dan doa orang tua, kita berhasil sampai di titik ini,” katanya.
“Karena itu, marilah kita persembahkan keberhasilan ini kepada mereka; para orang tua, saudara, dan sahabat yang telah menjadi sumber kekuatan dan inspirasi dalam perjalanan hidup kita,” kata Suster Elisabeth.
Suster Elisabeth mengakui, momentum wisuda ini juga menjadi panggilan bagi semua lulusan STIE Karya untuk mengambil peran nyata dalam membangun ekonomi daerah, menjadi berdampak dan menumbuhkan harapan.
Manggarai dan seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur memiliki potensi besar di bidang pertanian, pariwisata, UMKM, dan ekonomi kreatif. Tugas kita ke depan bukan hanya mencari pekerjaan, tetapi menciptakan peluang, memberdayakan masyarakat, serta mengembangkan inovasi yang berdampak bagi kesejahteraan bersama, katanya.
Suster Elisabeth meminta para wisudawan untuk menjadi agen perubahan yang mampu menghubungkan ilmu ekonomi dengan realitas sosial di sekitar kita; menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton.
Penulis : Wall Abulat
Editor : Wentho Eliando










