Oleh: Ansel Atasoge
GEMPA bumi yang mengguncang Pulau Flores beberapa waktu lalu tidak hanya meretakkan bangunan fisik. Ia juga meruntuhkan rasa aman fundamental seorang anak. Dunia mereka yang semula nyaman mendadak berubah menjadi sumber ancaman yang tidak menentu.
Kondisi ini sering kali memicu respons situasi tidak aman bahkan stres pada anak-anak. Jika dibiarkan tanpa penanganan, respons tersebut dapat berkembang menjadi gangguan stres pascatrauma (PTSD) yang ditandai dengan mimpi buruk atau penurunan konsentrasi belajar. Bisa saat ini atau di masa yang akan datang.
Di tengah kerentanan emosional ini, kehadiran Tim Justice, Peace, and Integrity of Creation (JPIC) SSpS di SDK St Antonius Ende 2 pada Kamis (24/9/2026) membawa secercah harapan baru. Ratusan siswa-siswi mengikuti serangkaian kegiatan pendampingan psikososial yang dirancang khusus untuk memulihkan kondisi mental mereka.
Para fasilitator dengan sabar mengajak anak-anak bernyanyi bersama guna mencairkan suasana yang tegang. Setelah itu, anak-anak terlibat dalam permainan edukatif kelompok. Aktivitas bermain ini berfungsi sebagai ‘mekanisme koping alami’ bagi mereka. Para siswa juga diberikan ruang aman untuk mengekspresikan perasaan melalui gambar, lalu mereka menceritakan pengalaman pribadi saat gempa terjadi.
Metode ekspresif ini memungkinkan anak-anak memproses pengalaman traumatis tanpa harus mengandalkan kemampuan verbal yang masih terbatas. Ketika anak menggambar pengalaman gempa, mereka secara tidak sadar melakukan ‘eksternalisasi emosi’ yang membantu mengurangi beban psikologis secara drastis.
Dukungan sosial dari lingkungan sekolah memegang peranan penting dalam membangun resiliensi atau ketahanan mental siswa. Sr Wilhelmina Kato, SSpS, selaku Koordinator Tim JPIC SSpS Flores Bagian Timur, menekankan bahwa anak-anak merupakan kelompok paling rentan terhadap guncangan psikologis pascabencana. Oleh karena itu, kehadiran para suster dan guru yang empatik menciptakan ruang aman secara psikologis.
Ruang ini memvalidasi perasaan anak saat mereka berbagi cerita. Validasi perasaan tersebut merupakan langkah awal yang vital menuju pemulihan. Ini langkah positif dalam menghilangkan bayangan ketakutan di lingkungan sekolah. Siswa yang merasa didengar dan dipahami akan lebih cepat mengembalikan kepercayaan diri untuk menjalani rutinitas belajar.
Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan edukasi mitigasi bencana sederhana. Pengetahuan tentang langkah penyelamatan diri memberikan manfaat psikologis yang mendalam. Pengetahuan itu mengembalikan rasa kendali atau ‘sense of control’ yang sempat hilang saat gempa terjadi. Rasa kendali ini sangat penting untuk memutus siklus ketakutan pada anak.
Sejatinya, intervensi psikososial yang komprehensif seperti ini tidak hanya menyembuhkan ketakutan, stress, penderitaan masa lalu. Langkah nyata ini membekali generasi muda dengan kekuatan mental untuk menghadapi tantangan masa depan.
Pada akhirnya, pemulihan trauma merupakan wujud tertinggi kemanusiaan. Mengapa? Momen seperti ini menjadi langkah-langkah kecil untuk memastikan masa depan anak-anak tetap cerah di tengah tantangan alam. *










