Etika Kehadiran dan Passion Kemanusiaan - FloresPos Net

Etika Kehadiran dan Passion Kemanusiaan

- Jurnalis

Jumat, 21 Agustus 2026 - 13:36 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Jonas K.G.D. Gobang dan Anselmus DW Atasoge

GEMPA mengguncang Flores. Rumah-rumah runtuh. Tangis terdengar di sana-sini. Di tengah derita yang menyelimuti tanpa berita, para pejabat dan politisi berdatangan. Mereka datang dikawal sejumlah orang. Mereka tersenyum di hadapan kamera. Mereka menyalami korban dengan gestur terukur.

Kita tidak berprasangka buruk dari aksi macam itu. Tapi kita mungkin bisa bertanya dalam hati. Kehadiran seperti apakah yang kita harapkan di tengah penderitaan sesama? Apakah kehadiran yang lahir dari panggilan nurani kemanusiaan? Atau kehadiran yang dihitung untuk akumulasi modal politik?

Wajah manusia yang menderita memanggil kita secara etis. Panggilan itu menuntut respons tanpa syarat. Panggilan itu mendahului segala perhitungan rasional. Ketika kita berhadapan dengan wajah korban bencana, etika menuntut ‘kehadiran autentik’. Kehadiran yang tidak bertanya ‘apa untungnya bagi saya? Kehadiran yang semata-mata merespons penderitaan sesama manusia.

Baca Juga :  Gerakan Buruh dalam Meningkatkan Kesejahteraan

Para pejabat datang membawa bantuan. Mereka membawa beras, selimut, dan obat-obatan. Bantuan materiil memang diperlukan.

Namun, ada dimensi yang sering terlupa. Dimensi ‘kehadiran yang tulus’. Dimensi empati yang tidak terkontaminasi agenda tersembunyi. Dimensi solidaritas yang murni lahir dari hati nurani. Ya…dimensi-dimensi yang menjadi basis epistemologi kemanusiaan sekalipun mereka pejabat negara yang sudah semestinya ‘melindungi segenap tumpah darah’ Indonesia.

Filsuf Martin Buber membedakan relasi ‘Aku-Engkau’ dan ‘Aku-Itu’. Relasi Aku-Engkau adalah pertemuan autentik antar-subjek. Relasi ini mengakui martabat manusia seutuhnya. Relasi Aku-Itu mereduksi manusia menjadi objek. Manusia diperlakukan sebagai sarana mencapai tujuan tertentu.

Baca Juga :  "Tragedi" Kewapante Daya Ungkit Kesadaran Moral Bumi Hanguskan Judi

Kunjungan pejabat ke lokasi bencana sering terjebak dalam relasi ‘Aku-Itu’. Korban bencana menjadi objek pencitraan. Penderitaan mereka menjadi panggung pertunjukan politik. Katanya, ini sudah jadi ‘tradisi politik’ di negara ini. Karenanya, sudah ‘dianggap biasa’.

Tidak heran dalam hal ini, kita menyaksikan pola yang berulang. Bencana terjadi. Para politisi berlomba tampil di media. Mereka membawa atribut partai. Mereka menghitung setiap momen untuk dokumentasi.

Mereka merancang narasi yang menguntungkan posisi politik mereka. Semua terukur. Semua terencana. Semua transaksional.

Hannah Arendt mengingatkan tentang ‘banalitas kejahatan. Kejahatan sering muncul bukan dari niat jahat yang spektakuler, melainkan dari ‘ketidakhadiran berpikir etis’. Dari rutinitas yang kehilangan makna. Dari tindakan yang kehilangan refleksi moral.

Berita Terkait

Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri
Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi
Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Berita ini 157 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:42 WITA

Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 20:01 WITA

Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:33 WITA

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:11 WITA

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:14 WITA

Tanah yang Menolak Dibungkam

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Penanganan Sampah Bukan Hanya Urusan Pemerintah

Kamis, 22 Okt 2026 - 20:05 WITA

Nusa Bunga

20 Unit KDKMP di Ngada Mencapai 100 Persen Pembangunan Fisik Gerai

Kamis, 22 Okt 2026 - 12:34 WITA