Penulis: Redentus D. Tore.
KOMUNITAS Adat Nggela, Kecamatan Wolojita, Kabupaten Ende, kembali menggelar Seremoni Adat Joka Ju yang berlangsung selama lima hari, sejak 4 hingga 9 Juli 2026.
Ritual adat yang diwariskan secara turun-temurun ini menjadi salah satu tradisi penting masyarakat adat Lio dalam menjaga keseimbangan kehidupan serta mempererat hubungan sosial, spiritual, dan budaya di tengah masyarakat.
Rangkaian seremoni adat diawali dengan proses.
Joka Kowa Goba: mengantar semua penyakit hama yang ada di kampung ke laut (tolah balik semua jelek jelek d kampung kelaut).
Dedo: berarti mengusir nitu pai yg ada di kampung.
Wanda Feko Genda tarian adat untuk meramaikan kampung yang telah menyelesaikan kegiatan adat selama setahun.
Gawi Leja itu hiburan orang di kampung selama 4 hari mereka belum melakukan aktifitas bertani, pada Hari ke 5 masyarakat adat kembali beraktifitas.
Goro Taga, seperti pemainan tarik tambang.
Seluruh tahapan ritual berlangsung khidmat dan melibatkan para Mosalaki, masyarakat adat, serta tamu yang datang dari berbagai daerah untuk menyaksikan kekayaan budaya yang masih lestari hingga saat ini.
Pelaksanaan Joka Ju tahun ini terasa istimewa karena turut diselingi dengan Perayaan Ekaristi yang di hadiri oleh Uskup Agung Ende, Mgr Paulus Budi Kleden. Kehadiran Uskup Agung Ende menjadi simbol dukungan Gereja Katolik terhadap keberadaan dan keberlanjutan komunitas adat sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Flores.
Selain itu, kegiatan tersebut juga dihadiri Bupati Kabupaten Ende, Yoseph Benediktus Badeoda dan Rukka Sombolinggi.
Kehadiran para pemimpin daerah dan tokoh masyarakat adat nasional menunjukkan dukungan nyata terhadap upaya pelestarian budaya serta penguatan hak-hak masyarakat adat di Kabupaten Ende.
Ketua Pengurus daerah AMAN Flores Tengah, Rio Ata Kita, menyampaikan bahwa kehadiran AMAN dalam seremoni Joka Ju merupakan bentuk dukungan langsung kepada Komunitas Adat Nggela dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur.
Menurutnya, Joka Ju bukan sekadar ritual adat tahunan, melainkan sebuah ruang untuk merawat relasi yang harmonis antara manusia dengan sesama manusia, manusia dengan alam, manusia dengan leluhur, serta manusia dengan Sang Pencipta.
“Nilai-nilai yang terkandung dalam Joka Ju mengajarkan masyarakat untuk hidup dalam harmoni dan keseimbangan. Inilah warisan penting yang terus dijaga oleh masyarakat adat Nggela,” ujarnya.
Sementara itu, Mosalaki Sao Ria, Aloysius Soka, menegaskan bahwa tradisi Joka Ju akan terus diwariskan kepada generasi penerus. Menurutnya, masyarakat adat Nggela meyakini bahwa ritual tersebut membawa kebaikan, keselamatan, dan perlindungan bagi seluruh komunitas.
“Joka Ju adalah peninggalan leluhur yang harus tetap hidup. Kami percaya ritual ini membawa berkat serta menjauhkan masyarakat dari berbagai hal buruk yang dapat mengganggu kehidupan bersama,” katanya.
Pelaksanaan Joka Ju tahun ini juga menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara yang hadir untuk menyaksikan secara langsung tradisi adat yang masih terpelihara dengan baik.
Kehadiran para wisatawan menunjukkan bahwa budaya masyarakat adat memiliki daya tarik dalam sektor pariwisata yang kuat sekaligus menjadi sarana memperkenalkan kekayaan budaya Flores kepada dunia.
Melalui penyelenggaraan Joka Ju, Komunitas Adat Nggela kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga, melestarikan, dan mewariskan nilai-nilai budaya leluhur kepada generasi mendatang.
Tradisi ini tidak hanya menjadi identitas masyarakat adat, tetapi juga menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia yang patut dihormati, dilindungi, dan diwariskan secara berkelanjutan.*
Penulis adalah Aktivis Masyarakat Adat
Editor : Willy Aran









