Jeritan Tanah Jengkalang-Manggarai dalam Terang Laudato Si - FloresPos Net

Jeritan Tanah Jengkalang-Manggarai dalam Terang Laudato Si

- Jurnalis

Senin, 6 Juli 2026 - 18:33 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Frater Edwantra Da Silva Duwar

PERSOALAN tambang di Manggarai, Flores, khususnya di wilayah Jengkalang, telah menjadi salah satu isu sosial yang memicu perdebatan panjang dan tajam di tengah masyarakat.

Di satu sisi, kehadiran industri tambang dipandang oleh sebagian warga sebagai sebuah peluang emas untuk melepaskan diri dari jerat keterbatasan ekonomi.

Harapan besar digantungkan pada sektor ini: pembukaan lapangan pekerjaan baru, perbaikan infrastruktur yang selama ini terabaikan, dan percepatan roda perekonomian daerah. Namun di sisi lain, kecemasan mendalam yang beralasan terus menghantui.

Kerusakan struktur tanah, pencemaran sumber air, terkikisnya ruang hidup masyarakat adat, serta ancaman ekologis bagi generasi masa depan menjadi hantu yang menakutkan.

Baca Juga :  Bencana, Apakah Membawa Berkah?

Situasi dilematis ini menunjukkan bahwa persoalan tambang di Jengkalang bukan sekadar konflik hitam-putih antara kelompok pro-pembangunan dan kontra-pembangunan.

Ini adalah sebuah pergulatan moral eksistensial tentang bagaimana kita, sebagai manusia, mendefinisikan kembali hubungan integral antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, hak tanah adat, dan martabat kehidupan bersama.

Bagi masyarakat Manggarai, tanah dan alam bukan sekadar komoditas ekonomi semata. Alam adalah rahim identitas budaya dan spiritualitas hidup. Oleh karena itu, luka pada alam secara otomatis menjadi luka sosial dan kultural yang menganga bagi komunitasnya.

Meneropong Konflik lewat Kacamata Laudato Si

Di tengah situasi yang kian memanas, Ensiklik Laudato Si’ karya Paus Fransiskus hadir sebagai kompas moral yang jernih. Dalam dokumen profetis tersebut, Paus Fransiskus menegaskan bahwa bumi adalah “rumah bersama” (oikos) yang harus dijaga oleh seluruh umat manusia.

Baca Juga :  Semana Santa, Gelombang Modernitas dan Kohesi Sosial

Beliau mengingatkan dengan lantang bahwa “jeritan bumi” tidak pernah bisa dipisahkan dari “jeritan kaum miskin”. Dalam konteks riil di Jengkalang, dampak destruktif kerusakan lingkungan selalu pertama-tama dan paling berat dirasakan oleh masyarakat kecil mereka yang hidupnya bergantung langsung pada kemurnian tanah, air, dan hutan sekitar. Jika disintegrasi ekologis ini dibiarkan tanpa kendali, lantas bagaimana nasib spiritualitas dan keberlanjutan tanah adat di masa depan?

Secara radikal, Laudato Si’mengkritik model pembangunan yang berpusat pada teknokrasi dan keuntungan finansial jangka pendek.

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)
Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi
Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata
Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan
Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)
Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain
Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores
‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Berita ini 314 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 20:44 WITA

Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)

Jumat, 18 September 2026 - 17:01 WITA

Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi

Kamis, 17 September 2026 - 19:19 WITA

Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata

Kamis, 17 September 2026 - 13:14 WITA

Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan

Kamis, 17 September 2026 - 11:28 WITA

Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)

Berita Terbaru

Advertorial

POTHP V, “Merayu” Investor Berinvestasi di Parapuar

Senin, 21 Sep 2026 - 20:11 WITA