LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Nurbaya, tenaga medis Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) NTT mendapat penghargaan tingkat nasional di pengunjung 2025 karena dedikasinya bagi masyarakat.
Penghargaan buat Nurbaya bukan tanpa dasar. Konon puluhan tahun Ahli Madya (D III) Keperawatan itu bergulat melayani pasien di pulau-pulau di wilayah Mabar.
Pegawai Negeri Sipil (PNS) 44 tahun itu juga kabarnya selalu mendampingi pasien yang dievakuasi ke Rumah Sakit di Labuan Bajo ibu kota Mabar. Menyeberangi lautan penuh tantangan seperti gelombang besar dan sebagainya.
Pasien-pasien dimaksud datang dari pulau-pulau tempat Nurbaya bertugas.
Sebelum berlabuh di Puskesmas Nanga Terang, Kecamatan Boleng, Mabar, tempat tugasnya yang sekarang, Nurbaya sempat “mengembara” di sejumlah nusa di Kecamatan Komodo, Mabar.
Pulau-pulau yang pernah jadi pijakan kaki Nurbaya tersebut antara lain Pulau Papagarang-Desa Papagarang, Pulau Rinca dan Pulau Kukusan-Desa Pasir Panjang, serta Pulau Mesa-Desa Pasir Putih. Pulau Rinca dan Pulau Papagarang juga bagian dari Taman Nasional Komodo (TNK) Mabar.
Bertahun-tahun bertugas di pulau-pulau itu, banyak suka duka dialami Nurbaya. Nyawa sering terancam jika badai tiba, hujan, angin, arus, dan gelombang besar. Itu terjadi saat berlayar dengan perahu, menyebarang dari satu pulau ke pulau lain demi melayani masyarakat/pasien.
Kerja keras tanpa pamrih dari Nurbaya pun ada hikmahnya. Pada 25 November 2025, ia terpilih menjadi salah seorang penerima penghargaan tingkat nasional dari Menkes RI, Budi G. Sadikin, kategori dedikasi, pengabdian dan pemanfaatan bagi masyarakat.
Melalu WA yang diterima Florespos.net, di Labuan Bajo baru-baru ini, Nurbaya menulis, dari 400 peserta calon penerima penghargaan diseleksi menjadi 50 peserta. Kemudian dipres lagi jadi 20 orang, dan finalnya 15 orang.
“Limabelas orang yang dipanggil ke Jakarta untuk menerima penghargaan itu, termasuk saya,” tulis Nurbaya.
Masih PNS yang lahir 8 Pebruari 1982 di Pulau Papagarang Desa Papagarang Kecamatan Komodo Mabar itu, bahwa penentuan lulus seleksi adalah Menkes RI, panitia dari SDMK pusat yang presentasi depan Menkes RI.
“Info itu saya dapat dari panitia,” tulis Nurbaya lagi.
Sebelumnya, kakak kandung Nurbaya, Nur Alwi, via WA kepada media ini mengatakan, usia PNS adiknya kini sekitar 23 tahun. Dia juga sepertinya salah seorang PNS angkatan pertama Mabar pasca pemekaran Tahun 2003, dan rupanya pula perawat pertama dari pulau-pulau dalam kawasan TNK-Mabar.
Lanjut Nur, selama 23 tahun Nurbaya hanya bertugas di pulau. Di antaranya di Pulau Papagarang, Pulau Kukusan, Pulau Rinca, dan Pulau Mesa. Tugasnya antara lain edukasi masyarakat pulau agar rutin mengonsumsi sayur, menjaga kebersihan lingkungan dan berbagai sanitasi lainnya.
Ketika bertugas, Nurbaya juga banyak tantangan. Badai menghantuinya siang maupun malam. Entah gelombang tinggi, entah perahu macet di tengah laut, ujar Nur yang juga salah satu pejuang pembentukan Kabupaten Manggarai Barat tersebut.
Pengabdian Nurbaya, kata Nur, putar dan rolling antar Pulau Papagarang, Pulau Rinca, Pulau Mesa dan lain-lain. Dari pulau ke pulau andalkan perahu. Belum ada speed boat canggih seperti sekarang.
“Mungkin karena dedikasi dan pengabdian itu, makanya Nurbaya diundang Menteri Kesehatan RI ke Jakarta dan diberi penghargaan,” tutup Nur.
Apa yang disampaikan Nur dibenarkan Nurbaya. “Yang disampaikan kakak saya itu (Nur Alwi) betul,” tulis Nurbaya via WA ketika dikonfirmasi balik media ini.
Lanjut Nurbaya, salah satu peristiwa yang sulit dilupakan yaitu kejadian di selat Molo beberapa waktu silam. Saat itu dia dan yang lain hampir tenggelam ketika melewat selat tersebut, seberang ke Kerora buat Posyandu di sana, kata dia tanpa menjelaskan sebabnya.
Tak hanya itu, Nurbaya juga sering jalan kaki saat tugas di pulau-pulau di Kecamatan Komodo, jarak tempuh jauh dan kuras tenaga. Leleh dan mandi keringat akibat panas terik mentri.
“Saya sering jalan kaki sekitar 10 kilometer ke Kerora,” tulis Nurbaya yang berstatus menikah itu. *
Penulis : Andre Durung
Editor : Wentho Eliando










