MAUMERE, FLORESPOS.net-Dalam rangka pembukaan Rapat Anggota Tahunan ke-30 KSP Kopdit Pintu Air mengawalinya dengan misa syukur yang dipimpin Uskup Maumere Mgr.Ewaldus Martinus Sedu.
Perayaan misa syukur di aula kantor pusat KSP Kopdit Pintu Air membuka seluruh rangkaian kegiatan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Kopdit Pintu Air Tahun Buku 2025.
Uskup Maumere Mgr.Ewaldus dalam kotbahnya, berharap RAT Kopdit Pintu Air melahirkan keputusan yang jujur dan berbelas kasih.
“Sehingga setiap anggota pulang dengan harapan yang diperbaharui dan setiap langkah kita menjadi aliran rahmat bagi banyak orang,” pesannya.
Bagi Mgr.Ewaldus RAT bukan sekadar laporan angka melainkan altar komitmen iman yang dialiri belas kasih.
Dari sinilah pembangunan ekonomi kerakyatan menjadi langkah nyata bagi pelaku usaha mikro, petani, nelayan, dan pekerja yang membutuh perubahan hidup.
Uskup Maumere mendorong Kopdit Pintu Air untuk mengedepankan tata kelola yang jujur dan berpihak pada kelompok yang rentan secara ekonomi.
Beliau juga mengenang kembali masa-masa awal berdirinya Kopdit Pintu Air di Dusun Rotat pada 1995. Kala itu, lahir keberanian dari realitas masyarakat akar rumput yang punya keterbatasan ekonomi dan sulit mengakses pelayanan keuangan yang layak.
“Keberanian itu menyala dalam hati orang-orang yang sederhana dan tak punya banyak harta tapi punya keberanian yang teguh. Mereka merindukan wadah saling menolong yang dapat diandalkan secara berkelanjutan,” tutur Uskup Maumere
Dikatakan Mgr.Ewaldus, benih koperasi ditanam dengan iman bahwa kesejahteraan bisa dibangun bersama melalui kejujuran dan rasa kekeluargaan yang tulus.
Berkat keberanian dan langkah kecil itu, kata Mgr. Ewaldus, pelayanan Kopdit Pintu Air menjangkau sampai ke penjuru negeri.
Ia juga menyentil nama Kopdit Pintu Air yang lahir dari keprihatinan sosial atas ketimpangan yang dialami masyarakat di sekitar mata air Wair Pu’an
“Mata air ini mengalir bagi banyak orang, sementara yang dekat harus menahan dahaga,” ucapnya.
Nama Pintu Air, lanjut Mgr. Ewaldus, menjadi seruan nurani agar keadilan sungguh mengalir sampai kepada yang paling kecil dan tersisihkan.
Nama Pintu Air juga menjadi doa iman yang terus didaraskan agar aliran rahmat Tuhan menyegarkan batin, menumbuhkan kesejahteraan, dan memelihara keberlanjutan hidup bersama.
Secara rohani, Kopdit Pintu Air mengingatkan kita, bahwa hidup yang berakar pada sumber yang benar akan terus mengalirkan kehidupan bagi sesama.
Karena itu pesan Mgr.Ewaldus setiap langkah yang diambil Kopdit Pintu air perlu ditimbang dengan iman yang kokoh agar pengelola tidak terpikat dengan kekuatan dunia yang semu, melainkan tetap mengandalkan Tuhan.
Kini Kopdit Pintu Air menjangkau banyak daerah di tanah air. Semua ini bukan kebetulan.
“Ini adalah gerakan yang tumbuh karena nafas solidaritas yang menghidupi, karena simpanan dan pinjaman yang dikelola secara akuntabel, serta pengelolaan usaha yang diikhtiarkan dengan tulus,” ungkapnya.
Menurut Mgr.Ewaldus, moto sederhana, ‘kau susah aku bantu, aku susah kau bantu’ mengalirkan spiritualitas yang mengubah budaya menutup diri menjadi budaya saling menopang.
“Kita menyaksikan aset bertambah dan jaringan meluas, namun pertumbuhan ini perlu dihayati sebagai buah dari kepercayaan kepada Tuhan yang berwajah belas kasih.” *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










