KEFAMENANU, FLORESPOS.net-Pendidikan merupakan kewajiban setiap warga negara dan dalam UUD 1945 Pasal 31 dikatakan setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.
Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) sejak kepemimpinan Bupati Yosep Falentinus Delasalle Kebo dan Wakil Bupati Kamillus Elu pasca dilantik mulai menerapkan pendidikan daar gratis bagi jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Manengah Pertama (SMP).
“Anak sekolah itu, khusus SD dan SMP sesuai dengan kewenangan pemerintah daerah kepupaten, kita di awal kepemimpinan langsung masukkan sebagai salah satu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh pemerintah,” sebut Bupati TTU Yosep Falentinus Delasalle Kebo saat ditemui di Maumere, Rabu (11/2/2026).
Falent sapaan akrabnya, menegaskan,hal ini terkait dengan biaya sekolah gratis untuk pendidikan dasar baik sekolah swasta maupun negeri termasuk pemenuhan kelengkapan sekolah bagi murid atau siswa, baik itu yang tidak mampu maupun yang mampu.
Ia menyebutkan sebanyak 18.106 siswa SD dan SMP menjadi penerima bantuan yang tersebar di 274 sekolah dasar dan 95 sekolah menengah pertama di seluruh Kabupaten TTU.
“Kita di TTU itu dari 18 ribu siswa, baik SD maupun SMP, saat ini sudah 70 persen terpenuhi. Sisanya tahun 2026 ini akan kita salurkan semuanya,” ucapnya.
Falent mengatakan, pemerintah menyalurkan seragam sekolah mulai dari baju celana, ikat pinggang, topi, kemudian buku tulis dan tas.
Lanjunya, pihaknya kesulitan di sepatu karena ukurannya yang tidak seragam tetapi selain dari itu sudah dipenuhi semua kebutuhan siswa.
Bukan hanya siswa, kebutuhan guru, salah satunya adalah laptop juga diberikan secara gratis oleh pemerintah untuk menunjang kegiatan pendidikan di sekolah.
“Kebanyakan di kita itu guru kadang dia mau mengisi misalnya kebutuhan untuk pengajaran dan kebutuhan untuk sekolah, dia harus pinjam ke mungkin tetangganya atau bahkan punya orang,” ucapnya.
Falent mengatakan, dirinya tidak menginginkan hal itu terjadi sehingga dirinya meminta didata semua kebutuhan buat para guru lalu dibelikan dan dibagikan secara gratis.
Ia menyebutkan, jadi baik guru maupun siswa itu semuanya dapat sehingga harapannya tidak ada lagi anak-anak yang malu bersekolah oleh karena tidak punya seragam ataupun buku tulis yang layak.
“Tidak ada lagi anak yang minder oleh karena orang tuanya tidak mampu.Jadi kita seragamkan, sehingga kita harapkan Sumber Daya Manusia (SDM) mereka ini dari sejak dini, SD maupun SMP, ini sudah tuntas,” terangnya.
Falent sebutkan dengan begitu ketika siswa tersebut masuk SMA, dia sudah siap untuk percaya diri dan siap untuk memberikan yang terbaik, lulus dan masuk ke universitas yang sesuai dengan harapan orang tua.
Ia katakan, kepercayaan diri ini perlu dibangun. Karena ini biasa menjadi gap, kesenjangan pendidikan yang jauh.
Dikatakannya, banyak sekali kita temui di TTU itu, ada yang sampai lulus SMP namun siswa tersebut tidak bisa membaca.
“Kita tanya, kenapa kamu tidak bisa baca? Ternyata jawabannya itu beragam dan bikin kita kaget. Pertama, dia tidak percaya diri karena tidak punya seragam, sehingga dia tidak sekolah,” paparnya.
Tetapi ucap Falent, siswa tersebut dia naik kelas terus, jadi setiap ada sidak misalnya dia sakit biar tidak dicek.
Dirinya menambahkan, hal ini ketahuan ketika dia lulus SMP dan mau masuk SMA, dia tidak percaya diri karena tidak bisa membaca hingga akhirnya putus sekolah.
“Nah ini yang kemudian kita temui. Maka kita potong rantai penghambat ini supaya ke depan tidak ada lagi.Nah kita mulai dari itu,” ujarnya.
Falent sebutkan di awal bulan Agustus itu pihaknya sudah menyalurkan perlengkapan sekolah tahap pertama dan bulan Desember tahap kedua.
Dirinya menargetkan tahun 2026 ini semuanya bisa tuntas sebanyak 18 ribu siswa sudah menerima semua.
“Termasuk dengan biaya sekolah siswa SD dan SMP semuanya gratis,” pungkasnya.
Dalam kampanyenya Falent telah menegaskan bahwa pendidikan gratis adalah visi mereka dalam meningkatkan kualitas SDM generasi muda di Kabupaten TTU.
Selain itu, Pemkab TTU juga bakal menyediakan fasilitas beasiswa kepada anak-anak berkualitas yang masuk kategori kurang mampu untuk mengenyam pendidikan. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










