Ratusan Mahasiswa Muhammadiyah Kupang Antusias Ikut Kuliah Umum Radikalisme dan Intoleransi - FloresPos Net

Ratusan Mahasiswa Muhammadiyah Kupang Antusias Ikut Kuliah Umum Radikalisme dan Intoleransi

- Jurnalis

Rabu, 25 Juni 2025 - 10:45 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KUPANG, FLORESPOS.net-Ratusan mahasiswa dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK) mengikuti Kuliah Umum “Melawan Radikalisme dan Intoleransi: Memperkuat Harmoni dalam Kehidupan Kampus” yang diselenggarakan pada Selasa, 24 Juni 2025.

Kegiatan yang digelar di Aula Kampus UMK ini menghadirkan dua narasumber terkemuka yaitu Rektor UMK, Prof. Dr. Zainur Wula, S.Pd., M.Si., dan Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Wilayah NTT, Drs. Husen Anwar.

Dalam pemaparannya, Prof. Zainur Wula menyoroti bagaimana pengaruh globalisasi melalui dimensi geopolitik dan geoekonomi turut membentuk lanskap sosial di Indonesia.

Menurutnya posisi strategis Indonesia yang berada di persimpangan lalu lintas ekonomi antara negara-negara di belahan timur dan barat, menjadikan Indonesia target berbagai kepentingan global.

“Indonesia, sebagai negara dengan peringkat ke-14 terbesar di dunia dan memiliki sumber daya alam yang melimpah, secara otomatis menarik orang dari berbagai negara. Daya tarik ini, juga menghadirkan bagaimana ideologi asing, termasuk yang bersifat radikal bisa masuk melalui interaksi global,” ujarnya.

Lebih lanjut Zainur menjelaskan, dinamika geopolitik dan geoekonomi seringkali memicu pergeseran nilai dan pandangan hidup masyarakat. Tanpa fondasi yang kuat, hal ini dapat menjadi lahan subur bagi penyebaran paham radikalisme dan intoleransi.

Baca Juga :  Jelang ETMC Labuan Bajo Manajemen Perse Panggil Puluhan Pemain Ikut Seleksi

Zainur juga menekankan pentingnya pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai Pancasila. Baginya, Pancasila bukanlah sekadar dasar negara, melainkan sebuah filosofi hidup yang relevan dengan kultur dan budaya sosial masyarakat Indonesia yang beragam.

“Pendalaman Pancasila, bukan hanya dalam tataran teori tetapi juga implementasi dalam kehidupan sehari-hari, inilah kunci untuk memperkuat harmoni,” pungkasnya.

Senada, Drs. Husen Anwar dari MUI NTT turut memperkuat urgensi pemahaman kebangsaan dan nilai-nilai moderasi beragama. Ia menguraikan bagaimana isu terorisme dapat membentuk radikalisme yang kemudian muncul dari paham ekstrimisme, dan ekstrimisme itu sendiri berakar dari pemahaman-pemahaman semu.

“Seringkali, radikalisme muncul dari interpretasi keagamaan yang sempit dan tidak komprehensif,” jelas Anwar.

Menurutnya, paham radikalisme adalah aliran yang bertujuan untuk mengubah tatanan sosial dengan cara-cara ekstrim. Sementara, intoleransi dikatakannya sebagai sikap tidak menerima perbedaan, tidak menghormati bahkan, dan bahkan mengklaim kebenaran mutlak atas suatu pandangan.

Anwar juga menekankan bahwa sikap-sikap tersebut seringkali muncul akibat pemahaman keagamaan yang dangkal dan terputus dari konteks sosial serta nilai-nilai kemanusiaan universal.

Baca Juga :  Rapat Bersama Kominda, Ombudsman NTT Sampaikan Permasalahan SPMB dan Penjualan BBM Bersubsidi

“Pemahaman keagamaan sempit inilah yang berpotensi menimbulkan perpecahan,” pungkasnya.

Oleh karena itu, moderasi beragama, yakni cara beragama yang tidak berlebihan, tidak ekstrim, dan selalu mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan toleransi menjadi dasar dalam membangun harmoni di tengah keberagaman.

Sementara, Benediktus Pusjoyo Kedang, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, mengungkapkan apresiasinya terhadap kegiatan ini.

Menurutnya, kuliah umum ini sangat penting sebagai upaya agar mahasiswa mampu memahami bahaya intoleransi dan radikalisme.

“Pancasila sebagai landasan ideologi yang kokoh harusnya dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Benediktus.

“Tentu ini sebagai upaya agar generasi muda khususnya mahasiswa tidak terperangkap dalam pemahaman-pemahaman yang keliru,” tambahnya.

Di internal kampus, Benediktus yang juga Ketua Umum Dessausure Comunity di bidang Bahasa dan Sastra ini menegaskan komitmen mahasiswa untuk menerapkan sikap-sikap yang menjauhi radikalisme dan intoleransi.

“Tentu hal yang kami terapkan adalah sikap yang mengarah pada kerukunan dan toleransi, bukan radikalisme dan intoleransi,” tutupnya.*

Penulis : Willy Aran

Editor : Wentho Eliando

Berita Terkait

Perkuat Kapasitas SDM di Flores, Lembaga In Flores Gelar Gender Leadership Training
Manggarai Barat Akan Cetak 1.020 Hektare Sawah Baru Demi Ketahanan Pangan
DPRD Ende Minta PDAM Berikan Data Jumlah Pegawai Empat Tahun Terakhir
BPOLBF Dorong Penguatan Kapasitas Pelaku Usaha Pangan Lokal melalui Mentoring Floratama Academy 2026
Candi Anak Nelayan Gurita Dari Sikka Lolos Kompetsisi Dangdut Academy di Jakarta
Raih Golden Ticket, Bupati dan Wabup Sikka Lepas Candi Audia Ikut Kompetisi Dangdut Academy di Jakarta
Paroki San Juan Lebao Tengah Genap 74 Tahun, RD. Josef da Silva Resmi Jadi Pastor Paroki
Sambut Hari Bhayangkara, Polres Ende Gelar Pengobatan Gratis dan Home Visit bagi Lansia
Berita ini 68 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:26 WITA

Perkuat Kapasitas SDM di Flores, Lembaga In Flores Gelar Gender Leadership Training

Kamis, 25 Juni 2026 - 15:13 WITA

Manggarai Barat Akan Cetak 1.020 Hektare Sawah Baru Demi Ketahanan Pangan

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:15 WITA

DPRD Ende Minta PDAM Berikan Data Jumlah Pegawai Empat Tahun Terakhir

Kamis, 25 Juni 2026 - 10:03 WITA

BPOLBF Dorong Penguatan Kapasitas Pelaku Usaha Pangan Lokal melalui Mentoring Floratama Academy 2026

Rabu, 24 Juni 2026 - 20:21 WITA

Raih Golden Ticket, Bupati dan Wabup Sikka Lepas Candi Audia Ikut Kompetisi Dangdut Academy di Jakarta

Berita Terbaru

Opini

Menimbang Etika Politik Pilkades

Jumat, 26 Jun 2026 - 09:16 WITA