RUTENG, FLORESPOS.net-Torehan prestasi yang membanggakan tingkat NTT, termasuk pemerintah dan masyarakat Manggarai pada tahun 2023 karena terpilih menjadi provinsi dengan indeks kerukunan umat beragama tertinggi di Indonesia.
Ketika berbicara pada pembukaan dialog kerukunan intern moderasi umat beragama Katolik di Ruteng, Manggarai, Flores, Selasa (6/2/2024), Kakan Kementerian Agama Manggarai, Pontius Mudin mengatakan, tahun lalu, Provinsi NTT menorehkan hasil terbaik dalam hal hidup keberagaman agama di negeri ini.
“Torehan itu adalah terpilih sebagai provinsi dengan indeks kerukunan umat beragama tertinggi dibandingkan provinsi lain di Indonesia,” katanya.
Capaian itu tentu tidak datang secara tiba-tiba. Tetapi, hasil kerja keras, dan komitmen nyata umat beragama di Provinsi ini.
Kondisi itu tentu menjadi bukti nyata bahwa pembangunan bidang agama yang telah dilaksanakan selama ini jalan baik hingga ke tingkat paling bawah, yakni umat beragama.
Hal itu juga bukti bahwa kegiatan dialog kerukunan intern moderasi umat beragama Katolik tetap dan terus dilakukan seperti yang juga dilaksanakan sekarang ini.
Dialog kerukunan itu membawa dampak positif bagi terpeliharanya kerukunan umat beragama di provinsi dan daerah ini juga.
Karena itu, pada tempat pertama pemimpin Kementerian Agama Provinsi dan Manggarai mengapresiasi atas sumbangsih pelbagai elemen yang terus menjaga komitmen untuk terus memelihara kerukunan.
Menjaga hubungan sesama umat beragama yang dilandasi toleransi, saling pengertian, saling menghormati, dan menghargai;
Menjaga kesetaraan dalam pengamalan ajaran agama, kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di dalam bingkai NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Menurutnya, tahun 2024 ini merupakan tahun terakhir pelaksanaan rencana strategis tahun 2020-2024. Dan tahun ini ditetapkan sebagai tahun peneguhan kerukunan umat beragama dan kehidupan keberagaman berperspektif moderasi beragama.
Apa yang ingin didapat dari program ini, tidak lain, yakni tercapainya indeks kerukunan umat beragama, indeks kesalehan umat beragama, dan indeks penerimaan umat beragama atas keberagaman budaya;
Tercapainya rekognisi (penghargaan) dan afimasi (pengakuan) kepada pelaku moderasi beragama;
Tercapainya target rumah ibadah sebagai pusat syiar agama yang toleran;
Tercapainya moderasi beragama menjadi perspektif utama dalam dunia pendidikan;
Dan, menguatnya peran media massa dalam program penguatan moderasi beragama.
Kepada para peserta dialog, Kakan Pontius Mudin berpesan untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana pendidikan untuk menyebarkan pemahaman tentang moderasi beragama lewat diskusi online, webinar, dan kampanye sosial.
“Ini penting agar bisa saling berbagi pengalaman, wawasan, dan pemahaman tentang moderasi beragama sehingga tercipta atmosfer yang kondusif dalam membangun toleransi dan menghormati perbedaan,” katanya.
Saat itu, Ketua Panitia Kegiatan Pelipus Asol mengatakan, maksud dari kegiatan ini adalah untuk merawat dan menjaga kerukunan antar umat Katolik, khususnya menjelang Pilpres dan Pileg 2024 ini.
“Tujuannya untuk membangun kolaborasi dan sinergi untuk memperkuat kerukunan di antara pelbagai komunitas agama Katolik jelang pelaksanaan Pileg dan Pilpres,” katanya.
Dan, tidak kalah penting adalah untuk menggali inspirasi konseptual tentang kerukunan, toleransi, moderasi, dan harmoni sosial berdasarkan ajaran Gereja Katolik,”katanya. *
Penulis: Christo Lawudin I Editor: Wentho Eliando










