Kemiskinan yang Merajalela dalam Terang Ensiklik Rerum Novarum - FloresPos Net

Kemiskinan yang Merajalela dalam Terang Ensiklik Rerum Novarum

- Jurnalis

Minggu, 22 Oktober 2023 - 08:50 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Maria ElfinaTodang

KEMISKINAN merupakan suatu fenomena yang selalu di usahakan untuk diminimalisasi, bahkan bila mungkin dihilangkan.

Namun dalam kenyataannya kemiskinan masih selalu melekat dalam sendi-sendi kehidupan manusia. Sehingga memerlukan suatu upaya penanggulangan secara komperhesif, integral dan berkelanjutan.

Beragam konsep tentang kemiskinan mulai dari sekadar ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar dan memperbaiki keadaan, kurangnya kesempatan berusaha, hingga pengertian yang lebih luas yang memasukan aspek sosial dan moral.

Misalnya ada pendapat yang mengatakan bahwa, kemiskinan terkait dengan sikap, budaya hidup, dan lingkungan dalam suatu masyarakat. Atau ada pula yang mengatakan bahwa kemiskinan merupakan ketidakberdayaan sekelompok masyarakat terhadap sistem yang diterapkan oleh pemerintah.

Sehingga mereka berada pada posisi yang sangat lemah dan tereksploitasi (kemiskinan struktural). Tetapi pada umumnya, ketika orang berbicara tentang kemiskinan yang dimaksud adalah kemiskinan material.

Dengan pengertian ini, maka seseorang masuk dalam kategori miskin apabila tidak mampu memenuhi standar minimum kebutuhan pokok untuk dapat hidup secara layak. Ini yang sering di sebut dengan kemiskinan konsumsi.

Kemiskinan, ketertinggalan dan kebodohan lahir secara bersama karena ketiganya merupakan permasalahan sosial yang ada seperti lingkaran setan atau saling kait-mengkait sehingga mengakibatkan kondisi ekonomi dan sosial yang semakin parah dan memperihatinkan.

Kemiskinan tidak bisa dilepaskan dari kebodohan dan ketertinggalan. Demikian pula kebodohan, sangat erat hubungannya dengan kemiskinan dan ketertinggalan, dalam ekonomi dan kemakmuran.

Meski kenyataannya ada anak-anak keluarga miskin berotak cemerlang ketertinggalan untuk meraih kesempatan dalam berbagai bidang kehidupan, selain akibat kebodohan dan kemiskinan juga akibat diskriminasil antaran status sosial dan ekonomi yang rendah.

Baca Juga :  Perencanaan Strategis dan ‘Proses Menjadi’ (Sisip Gagas untuk Artikel Vinsensius Crispinus Lemba)

Untuk memerangi kemiskinan tentu harus bekerja keras, memerangi kebodohan tentu harus giat belajar, namun ongkos pendidikan kian sulit terjangkau kebanyakan rakyat.

Memerangi ketertinggalan akan jadi tambah sulit, bila kebodohan berkolusi dengan kemiskinan, yang akan melahirkan tindakan-tindakan amoral dan kriminalitas masyarakat kita sudah terasuki oleh penyakit “keserakahan, ketamakan, kesombongan, kedengkian, kemalasan dan masa bodoh”.

Masalahnya, siapa mau mengaku memiliki kualitas pribadi negatif seperti itu, lalu secara iklas memeranginya sementara godaan material kian meningkat?

Pendek kata, kemiskinan merupakan persoalan yang maha kompleks dan kronis. Maka cara penanggulangan kemiskinan pun membutuhkan analisis yang tepat.

Melibatkan semua komponen permasalahan, dan diperlukan strategi penanganan yang tepat berkelanjutan dan tidak bersifat temporer. Sulit untuk menentukan sejumlah variable dapat dipakai untuk melacak persoalan kemiskinan.

Sebab variabel yang akan dihasilkan dapat untuk menentukan serangkaian strategi dan kebijakan. Khususnya penanggulangan kemiskinan yang tepat sasaran dan berkesinambungan.

Dari dimensi pendidikan misalnya pendidikan yang rendah dipandang sebagai penyebab kemiskinan. Dari dimensi kesehatan, rendahnya mutu kesehatan masyarakat menyebabkan terjadinya kemiskinan.

Dari dimensi ekonomi, kepemilikan alat-alat produktif yang terbatas, penguasaan teologi dan kurangnya keterampilan, dilihat sebagai alasan mendasar mengapa terjadi kemiskinan.

Faktor kultur dan structural juga kerap kali dilihat sebagai elemen penting yang menentukan tingkat kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Tidak ada yang salah dan keliru dengan pendekatan tersebut.

Baca Juga :  Ketika Air Mata Menjadi Berita: Membaca Kembali Gagasan Walburgus Abulat tentang Jurnalisme Terlibat

Tetapi dibutuhkan keterpaduan antara berbagai faktor penyebab kemiskinan. Antara lain faktor penyebab yang sangat banyak, dengan indikator-indikator yang jelas. Sehingga kebijakan penanggulangan kemiskinan, tidak bersifat temporer, tetapi permanen.

Gereja dalam Ensiklik RerumNovarum yang membahas tentang masalah kemiskinan mengatakan bahwa: mengenai kaum miskin gereja mengajarkan, bahwa bagi Allah kemiskinan itu bukan sesuatu yang tidak pantas, dan kewajiban bekerja untuk mencari nafkah bukan alasan untuk merasa malu. Yesus Kristus secara tegas mewartakan bahwa “berbahagialah mereka yang miskin di hadapan Allah” Mat 5:3.

Dalam menghadapi kemiskinan peran Gereja tidak bisa melepaskan diri dari persoalan kemiskinan yang sedang dihadapi. Justru panggilan Gereja adalah terlibat secara aktif dalam memerangi kemiskinan dan ketidakadilan.

Orang miskin berarti orang yang berkekurangan, tidak memiliki kemampuan untuk memberdayakan dirinya, dan orang lemah.

Orang miskin ada karena ketidakadilan yang harus mereka terima akibat kejahatan penguasa atau orang-orang yang memiliki kuasa, dan yang merampas hak-hak yang seharusnya dimiliki.

Tugas dan panggilan Gereja yang seharusnya adalah untuk menyuarakan ketidakadilan dan penindasan hak-hak orang miskin.

Gereja hadir untuk berpihak kepada yang lemah, yang tidak berdaya, yang miskin, dan yang terpinggirkan. Jika gereja tidak memiliki keberpihakan kepada yang lemah maka kehadiran Gereja tidak memiliki makna.

Kemiskinan harus ditanggulangi supaya manusia mendapatkan keadilan, harkat, dan martabatnya sebagai manusia. *

Penulis: Mahasiswi STIPAS St. Sirilus Ruteng, NTT

Berita Terkait

Inovasi Pembiayaan dan Keadilan Mobilitas Transportasi Publik
Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)
Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi
Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata
Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan
Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)
Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain
Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores
Berita ini 134 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 17:36 WITA

Inovasi Pembiayaan dan Keadilan Mobilitas Transportasi Publik

Senin, 21 September 2026 - 20:44 WITA

Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)

Jumat, 18 September 2026 - 17:01 WITA

Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi

Kamis, 17 September 2026 - 19:19 WITA

Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata

Kamis, 17 September 2026 - 13:14 WITA

Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan

Berita Terbaru