Lonjakan Harga Beras di Flores Timur Sulit Dikendali Pemerintah - FloresPos Net

Lonjakan Harga Beras di Flores Timur Sulit Dikendali Pemerintah

- Jurnalis

Senin, 18 September 2023 - 12:13 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LARANTUKA, FLORESPOS.net-Dampak dari El Nino (kemarau panjang) telah memengaruhi lonjakan harga beras di pasaran Kabupaten Flores Timur (Flotim), NTT.

Pemerintah didesak rutin melakukan OPK beras demi membantu masyarakat kecil.

Masyarakat kecil yang tidak mempunyai penghasilan tetap, pasrah menghadapi gejolak pasar terus naiknya harga beras yang sudah berjalan setahun terakhir.

Pantauan Florespos.net sepekan sebelumnya dan di hari pertama pekan ini, harga beras medium yang berlaku di pasaran wilayah Flotim masih konstan mencekik konsumen melampaui harga pasar yang sewajarnya.

Beras jenis medium sebelum krisis dijual para pedagang dengan harga Rp12.000/kg telah dinaikkan menjadi Rp14.000 sampai dengan Rp15.000/kg.

Matias Hayon, salah seorang papalele/pedagang beras di Pulau Solor kepada media ini Sabtu (16/9/2023), mengaku harga beras di Kota Larantuka sama dengan harga di Pulau Solor dan Adonara.

Para pedagang beras rata-rata membeli beras yang datangkan langsung dari Makassar melalui kapal/perahu motor khusus yang menjual beras.

Pedagang beras di wilayah Solor dan Adonara sebagaimana dikatakan Matias, membeli beras langsung di perahu motor yang sandar di dermaga laut Solor dan Adonara.

Para awak perahu dari Makassar menjual beras kepada pedagang/pengecer dengan harga rata-rata sama.

Baca Juga :  Perdana Injak Kaki di Tanah Nagekeo untuk Bantu Korban Gempa--Terima Kasih Presiden Prabowo

“Kondisi saat ini memang harga beras sudah naik. Kami sebagai papalele beras juga mengeluh mahalnya harga beras saat ini, karena butuh modal juga beli beras di parehu. Orang perahu asal Makassar menjual beras dengan volume terbatas, tidak seperti sebelum krisis beras,” katanya.

“Kami beli beras langsung di atas perahu dengan tetapan harga yang sudah mahal. Kami jual lagi ke masyarakat pembeli setiap hari pasar dengan untung sedikit setelah diperhitungkan ongkos transportasi mobil dan buruh bongkar muat,” kata Matias yang sudah belasan tahun berdagang beras itu.

Pantauan Florespos.net di lokasi pasar rakyat Podor, Kecamatan Solor Timur, Senin (18/9/2023), harga beras medium ukuran karung kecil setara 20 kg dijual dengan harga Rp280.000/karung (sebelumnya krisis dijual Rp210.000/kg).

Sementara ukuran karung besar setara 50 kg dijual  Rp700,000/karung (sebelumnya krisis Rp550.000/karung Harga beras curah atau eceran dijual Rp14.000/kg (sebelum krisis Rp11.000-Rp12.000/kg).

Katarina dan Veronika, ibu rumah tangga di Solor kepada media ini mengatakan, belakangan ini harga beras di Flotim sepertinya sudah tidak wajar lagi.

Keduanya berasumsi lonjakan harga beras bisa saja permainan dari pedagang beras. Kondisi krisis beras harusnya cepat disikapi pemerintah daerah.

Baca Juga :  SMAK Negeri Malaruma Lape, Tonggak Baru Pendidikan Menengah di Nagekeo

“Pemerintah kita, sepertinya diam membiarkan kondisi mahalnya pasaran beras yang sudah berlangsung setahun terakhir. Kami masyarakat kecil tidak punya pendapatan tetap merasa sesak dan sangat kecewa,” kata Katarina.

“Kita banding harga barang-barang sembako di pasar naik terus setiap tahun, namun harga hasil pertanian/perkebunan tetap terpaku pada harga yang berlaku tahun-tahun sebelumnya. Sekarang harga beras naik terus, tapi tidak ada pengendalian harga dari pemerintah,” tambah dia.

Yohanes Mamu Muda, Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Solor Barat menanggapi gejolak pasar mahalnya harga beras di Flotim mengharapkan keseriusan Pemkab Flotim.

Pemerintah, kata dia, mesti berpihak pada kesulitan masyarakat kecil yang tengah hadapi gejolak harga beras.

“Pemkab Flotim mesti segera bekerja sama dengan Bulog Larantuka melakukan pengendalian harga dengan rutin melakukan operasi pasar khusus (OPK) beras Bulog demi membantu masyarakat kecil dan juga keluarga PNS dengan penghasilan yang masih rendah.”

“Beras OPK Bulog harus dijual merata untuk semua keluarga tani, nelayan, buruh, tukang, dan PNS golongan kecil. Beras Bulog dijual merata karena saat ini kondisi kita masih menghadapi lonjakan harga,” harap Mamu. *

Penulis: Frans Kolong Muda/Editor: Anton Harus

Berita Terkait

Pilkades Ngada, 9 Desa di Golewa Selatan Tengah Masuk Tahap Pencalonan
Penolakan Masyarakat Hukum Adat dan Budaya Amanuban Terkait Klaim Jonathan Nubatonis Sebagai Raja Amanuban
Penjelasan Kuasa Hukum AW Terkait Dugaan Pelanggaran UU ITE oleh Kliennya
POTHP V, “Merayu” Investor Berinvestasi di Parapuar
Hilang Kontak Saat Menuju Pulau Karumpa Selayar,Dua Nelayan Sikka Ditemukan Tim SAR Gabungan
Kesadaran Masyarakat Bayar PBB Masih Rendah, Realisasi PAD Baru Mencapai Rp 58 Miliar Lebih
Cek Kesehatan Gratis PDIP di Pengungsian Lewotobi–Mereka Masih Butuh Bantuan dan Kepastian Huntap
APINDO Ende Berbagi Kasih di Panti ODGJ Samaria, Bawa Bingkisan Barang Kebutuhan Pokok
Berita ini 70 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:34 WITA

Pilkades Ngada, 9 Desa di Golewa Selatan Tengah Masuk Tahap Pencalonan

Senin, 21 September 2026 - 21:04 WITA

Penolakan Masyarakat Hukum Adat dan Budaya Amanuban Terkait Klaim Jonathan Nubatonis Sebagai Raja Amanuban

Senin, 21 September 2026 - 21:01 WITA

Penjelasan Kuasa Hukum AW Terkait Dugaan Pelanggaran UU ITE oleh Kliennya

Senin, 21 September 2026 - 20:11 WITA

POTHP V, “Merayu” Investor Berinvestasi di Parapuar

Senin, 21 September 2026 - 19:40 WITA

Kesadaran Masyarakat Bayar PBB Masih Rendah, Realisasi PAD Baru Mencapai Rp 58 Miliar Lebih

Berita Terbaru

Advertorial

POTHP V, “Merayu” Investor Berinvestasi di Parapuar

Senin, 21 Sep 2026 - 20:11 WITA