Manggarai Punya Catatan Sejarah Ikut Berjuang Melawan Penjajah - FloresPos Net

Manggarai Punya Catatan Sejarah Ikut Berjuang Melawan Penjajah

- Jurnalis

Kamis, 17 Agustus 2023 - 15:16 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RUTENG, FLORESPOS.net-Bupati Hery Nabit mengingatkan masyarakat Nuca Lale akan catatan sejarah melawan penjajah. Sejarah bahwa orang Manggarai berkontribusi berjuang untuk membebaskan negara dan bangsa ini dari penjajahan.

Ketika berbicara pada puncak peringatan HUT ke-78 Kemerdekaan RI, Kamis (17/8/2023), Bupati Hery Nabit mengatakan, negara bisa merdeka karena perjuangan para pahlawan baik yang tercatat namanya maupun tidak.

“Manggarai punya sejarah ikut berjuang melawan penjajah. Kita punya nenek moyang ikut angkat senjata melawan penjajah,” katanya.

Publik Manggarai, demikian Bupati Hery Nabit, pernah tahu tentang perang Papang dan Kuwu pada awal abad yang lalu. Perang itu terjadi karena tidak mau dijajah.

Baca Juga :  PDI Perjuangan NTT Dorong Pemerintah Melakukan Pemulihan Infrastruktur Dampak Gempa Flores

Menurutnya, catatan sejarah ini memberitahu semua bahwa nenek moyang orang Manggarai pernah berjuang melawan penjajah. Kontribusinya jelas untuk negeri ini.

Kontribusi membebaskan diri dari penjajah. Berkontribusi berjuang untuk mendapatkan kemerdekan. Karena itu, orang Manggarai sah menjadi bagian dari negara dan bangsa ini.

Dalam catatan sejarah itu dari dokumen yang ditelusuri di google, perang melawan penjajah di Manggarai dimotori Motang Rua yang hidup tahun 1864 hingga 1952. Perang yang dipimpinnya baik terbuka maupun secara gerilya di wilayah Nuca Lale.

Bukti bahwa Motang Rua seorang pejuang, putra Beo Kina, Desa Golo Langkok, Kecamatan Rahong Utara ini,  ditangkap Belanda, lalu dipenjara di Ende, Kupang, Batavia, Aceh, dan bahkan hingga di Vietnam.

Baca Juga :  Dua Trafic Light di Kota Ruteng Sudah Lama Tak Berfungsi

Menurut seorang keturunan Motang Rua, Wily Grasias, Motang Rua kembali ke Manggarai tahun 1927. Dan, meninggal dunia di kampungnya Beo Kina, 25 Maret 1952.

“Sebelum meninggal, Motang Rua dipermandikan menjadi seorang Katolik,” katanya.

Motang Ruang memang tidak menjadi pahlawan Nasional. Tetapi, kisah heroiknya hidup terus di tengah masyarakat Nuca Lale.

Dan, status legal hanya sebagai perintis pejuang kemerdekaan yang ditetapkan Dinas Sosial Provinsi NTT tahun 2000. *

Penulis: Christo Lawudin/Editor:Anton Harus

Berita Terkait

Wujud Kepedulian Pascagempa, Putri Pariwisata Indonesia Salurkan Bantuan Sembako dari Butik Levico ke Liselowobora-Ende
Wakil Ketua Komisi IV DPR-RI Bantu Alat Ekonomi Produktif–Dukung Kegiatan Kelompok Dua Desa di Flores Timur
Gitalisasikan Sampah, Pemkab Manggarai Barat Bentuk Bank Sampah G-Lingko
BPJS Kesehatan Dorong Layanan Jantung Berbasis Outcome
Kolaborasi AMAG dan Dompet Dhuafa, 100 Paket Bantuan untuk Pemulihan Penyintas Gempa di Nagekeo
Ngada Masuk Masa Transisi Pemulihan, Pemda Gelar Uji Publik Hasil Pendataan dan Verifikasi Kondisi Rumah Terdampak Gempa Flores
Staf BKN Temui Isteri Almarhum Alfonsius Korban Penembakan KKB di Papua
Realisasi Sementara PAD Sampah Manggarai Barat Rp. 2,5 Miliar
Berita ini 471 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 20:46 WITA

Wujud Kepedulian Pascagempa, Putri Pariwisata Indonesia Salurkan Bantuan Sembako dari Butik Levico ke Liselowobora-Ende

Kamis, 17 September 2026 - 18:55 WITA

Wakil Ketua Komisi IV DPR-RI Bantu Alat Ekonomi Produktif–Dukung Kegiatan Kelompok Dua Desa di Flores Timur

Kamis, 17 September 2026 - 16:52 WITA

Gitalisasikan Sampah, Pemkab Manggarai Barat Bentuk Bank Sampah G-Lingko

Kamis, 17 September 2026 - 11:01 WITA

BPJS Kesehatan Dorong Layanan Jantung Berbasis Outcome

Rabu, 16 September 2026 - 18:59 WITA

Kolaborasi AMAG dan Dompet Dhuafa, 100 Paket Bantuan untuk Pemulihan Penyintas Gempa di Nagekeo

Berita Terbaru