RUTENG, FLORESPOS.net-Bupati Hery Nabit mengingatkan masyarakat Nuca Lale akan catatan sejarah melawan penjajah. Sejarah bahwa orang Manggarai berkontribusi berjuang untuk membebaskan negara dan bangsa ini dari penjajahan.
Ketika berbicara pada puncak peringatan HUT ke-78 Kemerdekaan RI, Kamis (17/8/2023), Bupati Hery Nabit mengatakan, negara bisa merdeka karena perjuangan para pahlawan baik yang tercatat namanya maupun tidak.
“Manggarai punya sejarah ikut berjuang melawan penjajah. Kita punya nenek moyang ikut angkat senjata melawan penjajah,” katanya.
Publik Manggarai, demikian Bupati Hery Nabit, pernah tahu tentang perang Papang dan Kuwu pada awal abad yang lalu. Perang itu terjadi karena tidak mau dijajah.
Menurutnya, catatan sejarah ini memberitahu semua bahwa nenek moyang orang Manggarai pernah berjuang melawan penjajah. Kontribusinya jelas untuk negeri ini.
Kontribusi membebaskan diri dari penjajah. Berkontribusi berjuang untuk mendapatkan kemerdekan. Karena itu, orang Manggarai sah menjadi bagian dari negara dan bangsa ini.
Dalam catatan sejarah itu dari dokumen yang ditelusuri di google, perang melawan penjajah di Manggarai dimotori Motang Rua yang hidup tahun 1864 hingga 1952. Perang yang dipimpinnya baik terbuka maupun secara gerilya di wilayah Nuca Lale.
Bukti bahwa Motang Rua seorang pejuang, putra Beo Kina, Desa Golo Langkok, Kecamatan Rahong Utara ini, ditangkap Belanda, lalu dipenjara di Ende, Kupang, Batavia, Aceh, dan bahkan hingga di Vietnam.
Menurut seorang keturunan Motang Rua, Wily Grasias, Motang Rua kembali ke Manggarai tahun 1927. Dan, meninggal dunia di kampungnya Beo Kina, 25 Maret 1952.
“Sebelum meninggal, Motang Rua dipermandikan menjadi seorang Katolik,” katanya.
Motang Ruang memang tidak menjadi pahlawan Nasional. Tetapi, kisah heroiknya hidup terus di tengah masyarakat Nuca Lale.
Dan, status legal hanya sebagai perintis pejuang kemerdekaan yang ditetapkan Dinas Sosial Provinsi NTT tahun 2000. *
Penulis: Christo Lawudin/Editor:Anton Harus










