Pagu anggaran untuk belanja HMT dan pagar hidup reo, Fraksi PAN bilang, faktanya justru jauh panggang dari api. Bahkan kata Fraksi PAN, berpotensi merugikan keuangan daerah dengan kategori total loss. Khusus HMT Lamtoro Teramba, sama sekali tidak terlihat pada areal Sentra Peternakan Sapi di Wolo Kolo.
“Fraksi PAN meminta Inspektorat Daerah melakukan audit dengan tujuan tertentu guna memastikan penggunaan anggaran persiapan lahan, khususnya penanaman HMT berbagai jenis dimaksud,” kata Silvianus Lewo Ola.
Amburadul Sejak Awal
Reaksi dan pandangan yang tidak berbeda datang dari Anggota DPRD Flores Timur, Theodorus M. Wungubelen. Dia menilai, Program Big Push Peternakan Sapi Wolo Kolo di Desa Lamatutu, Kecamatan Tanjung Bunga gaduh dan amburadul sejak awal.
“Kegaduhan program ini sesungguhnya diawali oleh kegagalan dan amburadulnya fase pekerjaan persiapan Sentra Peternakan Sapi oleh LSM Barakat, ditopang oleh over confidence oknum pejabat pada Disbunter yang merasa paling bisa dan paling benar,” katanya, Jumat (2/10/2026) sore.
Rut Wungubelen–sapaan Theodorus M. Wungubelen bilang keadaan ini juga menyebabkan suasana kerja dan keterlibatan para staf pada Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunter) menjadi apatis dalam mendukung pelaksanaan Program Big Push Peternakan Sapi di Wolo Kolo.
“Puncaknya salah satu kepala UPT telah mangajukan surat pengunduran diri dari jabatan, kepada Bupati sebagaimana disampaikan oleh Plt. Disbunter kepada DPRD belum lama ini,” katanya.
Ketua Komisi II DPRD Flores Timur ini mengatakan, semua pertimbangan dari DPRD bahkan hasil kajian ilmiah dari Profesor Bernadete Ona Koten yang digunakan sebagai ahli oleh LSM Barakat untuk mengkaji kelayakan lahan Wulo Kolo pun diabaikan.
“Bahkan hasil kajian Profesor tersebut tidak pernah disampaikan ke Bupati/Wakil Bupati dan Sekda,” kata Rut Wungubelen.
Penulis : Wentho Eliando
Editor : Anton Harus










