Angkutan Pelajar Aman (APA): Menjaga Keselamatan Siswa, Menghidupkan Angkutan Pedesaan Kabupaten Magelang - FloresPos Net - Page 2

Angkutan Pelajar Aman (APA): Menjaga Keselamatan Siswa, Menghidupkan Angkutan Pedesaan Kabupaten Magelang

- Jurnalis

Kamis, 13 Agustus 2026 - 12:24 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Program ini mulai beroperasi pada pertengahan tahun 2025 melayani 3 rute (15 armada) dengan dukungan dana CSR Bank Jateng sebesar Rp 98 juta, kemudian berlanjut hingga akhir tahun menggunakan APBD Kabupaten Magelang senilai Rp 772 juta untuk 9 rute (59 armada). Pada tahun 2026, operasional diperluas menjadi 12 rute (78 armada) dengan alokasi anggaran sekitar Rp 2,4 miliar.

Selanjutnya, pengembangan program ditargetkan secara bertahap: tahun 2027 mencakup 17 rute (103 armada, Rp 3,8 miliar), tahun 2028 bertambah menjadi 22 rute (128 armada, Rp 5,2 miliar), tahun 2029 mencapai 27 rute (153 armada, Rp 6,8 miliar), hingga puncaknya pada tahun 2030 direncanakan beroperasi 29 rute (178 armada) dengan total anggaran sebesar Rp 8 miliar.

Hasil Evaluasi

Berdasarkan hasil evaluasi Laboratorium Transportasi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata (2026) terhadap pelaksanaan Program Angkutan Pelajar Aman (APA) di Kabupaten Magelang, dari sudut pandang pengemudi angkot diperoleh temuan bahwa mekanisme pencairan insentif berjalan sangat baik dan selalu tepat waktu (100%).

Baca Juga :  Dampak Stunting Bagi Pertumbuhan Anak

Besaran insentif tersebut dinilai mampu menutup biaya operasional harian bagi mayoritas armada (83,33%).
Dari sisi tingkat pendapatan, sebanyak 50% pengemudi memperoleh pendapatan per bulan pada kisaran Rp 1,0 juta hingga Rp 2,5 juta, dengan rata-rata pendapatan harian berkisar antara Rp 125.000 hingga Rp 135.000 (atau setara Rp 1,7 juta–Rp 2,5 juta per bulan).

Dari aspek teknis operasional, sebanyak 66,67% rute melintasi medan geografis yang didominasi jalan datar dengan sebagian kontur naik-turun, serta memiliki efisiensi waktu tempuh berkisar antara 15 hingga 30 menit (75%).

Dalam satu kali perjalanan, setiap angkutan rata-rata mengangkut 17 anak, padahal kapasitas resminya hanya 12 penumpang. Kondisi kelebihan muatan ( overcapacity ) ini terjadi pada sebagian besar operasional armada (83,3%), sehingga penambahan unit angkutan menjadi kebutuhan mendesak.

Baca Juga :  Keuskupan Agung Ende: Geothermal Bukan Solusi Kontekstual untuk Flores

Dari sisi aksesibilitas pengguna, mayoritas siswa (26,6%) berada pada jarak kurang dari 1 km dari titik tunggu angkutan sekolah, sehingga sebagian besar di antaranya (80%) memilih berjalan kaki menuju lokasi tersebut.

Meskipun sebanyak 87,10% siswa mengaku tidak pernah terlambat sekolah, aspek kenyamanan layanan masih memerlukan evaluasi mendalam. Sekitar 37% siswa merasa kurang nyaman akibat kondisi kendaraan yang berdesakan serta sikap pengemudi yang kurang ramah.

Keberadaan program ini terbukti sangat krusial; apabila fasilitas layanan ini ditiadakan, sebanyak 86,67% siswa menyatakan harus kembali diantar menggunakan sepeda motor oleh orang tua.

Terkait kepuasan umum, mayoritas siswa menilai waktu tunggu tergolong singkat yakni 5–10 menit (53%), dan sebagian besar menganggap pelayanan sopir sudah baik (83%).

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)
Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi
Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata
Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan
Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)
Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain
Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores
‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Berita ini 132 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 20:44 WITA

Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)

Jumat, 18 September 2026 - 17:01 WITA

Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi

Kamis, 17 September 2026 - 19:19 WITA

Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata

Kamis, 17 September 2026 - 13:14 WITA

Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan

Kamis, 17 September 2026 - 11:28 WITA

Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)

Berita Terbaru