Program ini mulai beroperasi pada pertengahan tahun 2025 melayani 3 rute (15 armada) dengan dukungan dana CSR Bank Jateng sebesar Rp 98 juta, kemudian berlanjut hingga akhir tahun menggunakan APBD Kabupaten Magelang senilai Rp 772 juta untuk 9 rute (59 armada). Pada tahun 2026, operasional diperluas menjadi 12 rute (78 armada) dengan alokasi anggaran sekitar Rp 2,4 miliar.
Selanjutnya, pengembangan program ditargetkan secara bertahap: tahun 2027 mencakup 17 rute (103 armada, Rp 3,8 miliar), tahun 2028 bertambah menjadi 22 rute (128 armada, Rp 5,2 miliar), tahun 2029 mencapai 27 rute (153 armada, Rp 6,8 miliar), hingga puncaknya pada tahun 2030 direncanakan beroperasi 29 rute (178 armada) dengan total anggaran sebesar Rp 8 miliar.
Hasil Evaluasi
Berdasarkan hasil evaluasi Laboratorium Transportasi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata (2026) terhadap pelaksanaan Program Angkutan Pelajar Aman (APA) di Kabupaten Magelang, dari sudut pandang pengemudi angkot diperoleh temuan bahwa mekanisme pencairan insentif berjalan sangat baik dan selalu tepat waktu (100%).
Besaran insentif tersebut dinilai mampu menutup biaya operasional harian bagi mayoritas armada (83,33%).
Dari sisi tingkat pendapatan, sebanyak 50% pengemudi memperoleh pendapatan per bulan pada kisaran Rp 1,0 juta hingga Rp 2,5 juta, dengan rata-rata pendapatan harian berkisar antara Rp 125.000 hingga Rp 135.000 (atau setara Rp 1,7 juta–Rp 2,5 juta per bulan).
Dari aspek teknis operasional, sebanyak 66,67% rute melintasi medan geografis yang didominasi jalan datar dengan sebagian kontur naik-turun, serta memiliki efisiensi waktu tempuh berkisar antara 15 hingga 30 menit (75%).
Dalam satu kali perjalanan, setiap angkutan rata-rata mengangkut 17 anak, padahal kapasitas resminya hanya 12 penumpang. Kondisi kelebihan muatan ( overcapacity ) ini terjadi pada sebagian besar operasional armada (83,3%), sehingga penambahan unit angkutan menjadi kebutuhan mendesak.
Dari sisi aksesibilitas pengguna, mayoritas siswa (26,6%) berada pada jarak kurang dari 1 km dari titik tunggu angkutan sekolah, sehingga sebagian besar di antaranya (80%) memilih berjalan kaki menuju lokasi tersebut.
Meskipun sebanyak 87,10% siswa mengaku tidak pernah terlambat sekolah, aspek kenyamanan layanan masih memerlukan evaluasi mendalam. Sekitar 37% siswa merasa kurang nyaman akibat kondisi kendaraan yang berdesakan serta sikap pengemudi yang kurang ramah.
Keberadaan program ini terbukti sangat krusial; apabila fasilitas layanan ini ditiadakan, sebanyak 86,67% siswa menyatakan harus kembali diantar menggunakan sepeda motor oleh orang tua.
Terkait kepuasan umum, mayoritas siswa menilai waktu tunggu tergolong singkat yakni 5–10 menit (53%), dan sebagian besar menganggap pelayanan sopir sudah baik (83%).
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya









