Pada tahun 1808, Raja Louis dari Amanoubang, penguasa salah satu kerajaan yang paling kuat dan paling kaya yang berada di bawah kekuasaan Belanda, merasa jenuh terhadap dominasi tiranik yang menimpa dirinya dan rakyatnya, lalu mengibarkan panji kemerdekaan.
Pendidikan awalnya diperoleh di Kupang, tempat ia dibaptis. Namun, ke Batavia-lah ia pergi untuk menyempurnakan pengetahuan yang begitu ingin ia kuasai karena dorongan kecerdasan dan keaktifannya yang alami—pengetahuan yang kelak akan menjadi sangat berbahaya bagi para penindas tanah kelahirannya.
Tindakan pemberontakan ini didukung dengan segala sarana yang mungkin untuk menjamin keberhasilannya. Sang raja mempersenjatai sebagian besar rakyatnya dengan tombak (assegais), pedang, kapak perang, dan senapan.
Ia membentuk satuan kavaleri yang meskipun tidak terlalu besar jumlahnya, sangat disegani di negeri-negeri tersebut. Ia juga membangun tiga benteng untuk melindungi perbatasannya.
Belanda tidak segera mengambil langkah-langkah keras untuk menindas gejala-gejala pemberontakan ini. Mereka tampaknya berharap bahwa perundingan dan cara-cara diplomatik yang damai akan cukup untuk menghentikannya. Namun keberanian sang raja justru semakin bertambah karena lambannya tindakan tersebut.
Kupang Kemudian Diduduki Inggris
Dalam buku tersebut di halaman 538 dijelaskan mengenai kondisi dan peristiwa pendudukan Kota Kupang oleh Inggris. Peristiwa-peristiwa ini (pendudukan Inggris) menghentikan berbagai persiapan perang yang diperlukan untuk memaksa Raja Amanoubang kembali tunduk.
Akhirnya Gubernur Kupang berhasil menghimpun seluruh pasukannya beserta pasukan sekutu, baik dari Timor maupun pulau-pulau bawahannya, lalu bergerak menyerang pangeran pemberontak itu pada tahun 1815.
Ekspedisi pertama ini tidak menghasilkan sesuatu yang berarti sehingga pada tahun berikutnya, tentara sekutu kembali ke medan perang.
Ketika mereka memutuskan untuk mempertaruhkan nasib dalam sebuah pertempuran terbuka, mereka mengalami kekalahan yang sangat berat sehingga terpaksa melarikan diri.
Kerugian mereka mencapai delapan puluh orang, sedangkan pasukan sang raja hanya kehilangan enam orang yang gugur dan tiga orang tawanan. Sesuai adat negeri tersebut, para tawanan itu dipenggal kepalanya.
Musim yang buruk menghalangi kedua belah pihak melakukan operasi militer sepanjang tahun 1817. Akan tetapi pada tahun 1818, permusuhan kembali berkobar.
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










