Karena orang Melayu percaya, sesuai takhayul kuno, bahwa penyakit tidak pernah terjadi kecuali atas perintah para dewa, mereka menganggap sebagai kewajiban untuk tidak berperang apabila pemimpin mereka tertahan oleh sebab semacam itu.
Keyakinan ini, yang sangat menguntungkan pihak Louis, telah menyebabkan banyak pembelotan di antara pasukan Denka.
Seandainya dua peristiwa serupa lagi terjadi, Louis hanya akan menyesali hilangnya kesempatan memperoleh kemasyhuran.
Inggris melancarkan dua ekspedisi melawan Raja Louis: yang pertama pada tahun 1815 dan yang kedua pada tahun 1816, tetapi keduanya gagal menaklukkannya.
Ia bertubuh tinggi, cepat, dan penuh semangat. Keberaniannya besar namun terkendali. Rencana-rencananya berani tetapi tidak sembrono. Ia menghargai jasa dan menghukum ketidaktaatan.
Barangkali satu-satunya kekurangan dari kemasyhuran orang yang luar biasa ini adalah seorang sejarawan yang mencatat segala pencapaiannya.
Sulit untuk dibayangkan bagaimana kepercayaan yang begitu besar dan keberhasilan-keberhasilan yang begitu mencolok dapat diperoleh dengan sumber daya yang begitu terbatas.
Catatan Dari Kapten Kapal Prancis Lois de Freycinet
Dalam bukunya berjudul “Voyage autour du monde” (Paris: Pillet Ainé, 1825), rekan seperjalanan Jacques Arago menambahkan mengenai kunjungan ekspedisi Prancis Lois de Freycinet ke Kupang pada Oktober 1818).
“Perang yang dilancarkan Belanda terhadap penguasa Amanoubang mengharuskan didirikannya sebuah kamp militer yang cukup besar di dekat Kupang. Untuk kamp itu, setiap raja yang bersekutu dengan Kompeni diwajibkan mengirimkan kontingen pasukannya dan hadir secara pribadi memimpin tentaranya,” ungkap sang kapten.
Dikatakan, salah seorang di antaranya adalah penguasa Kerajaan Denka di Pulau Rote. Namun ia terpaksa meninggalkan pasukan karena alasan kesehatan, ditemani oleh Raja Pulau Dao yang kecil itu serta beberapa perwiranya.
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










