Namun, sebagaimana lazimnya karya-karya penjelajah Eropa pada masanya, pengamatannya juga dipengaruhi oleh sudut pandang dan latar belakang budaya Eropa abad ke-19, sehingga perlu dibaca secara kritis dan dibandingkan dengan sumber-sumber sejarah lainnya.
Kisah Perlawanan Raja Amanuban
Buku yang terkenal tersebut di dalam bab ke-64 Jaques menyebutkan rombongan mereka tiba di Kupang pada saat yang kurang tepat untuk menilai keadaan koloni ini.
Sang gubernur, memimpin pasukan berjumlah sepuluh ribu orang, telah berangkat untuk menghadapi tindakan-tindakan berani seorang raja bernama Louis, yang menurut mereka telah mengibarkan panji pemberontakan.
Louis, raja ketujuh Kupang, adalah seorang Kristen, putra Tobany, Raja Amanuban, yang terletak sekitar lima hari perjalanan ke arah timur Kupang, di tengah wilayah kekuasaan Belanda. Ia dididik di Kupang dalam agama ayahnya, yang kemudian ia gantikan.
Sekitar sepuluh tahun yang lalu, merasa jenuh dengan kehidupan yang tidak menghasilkan apa-apa dan haus akan kemasyhuran, ia menyatakan perang terhadap raja-raja tetangganya untuk menundukkan mereka ke bawah kekuasaannya.
Namun para raja itu meminta bantuan Belanda, dan Belanda tidak menolak permintaan tersebut. Sejak saat itu Louis dan Belanda hampir terus-menerus berada dalam keadaan perang.
Dengan memimpin segelintir prajurit yang setia pada kepentingannya, Louis dari Amanuban tampaknya tidak takut menghadapi upaya gabungan dari begitu banyak musuh.
Bahkan, ia pernah memaksa mereka menawarkan perdamaian yang terhormat, selama masa itu perlindungan dan dorongannya menarik banyak orang terkemuka serta para pekerja terampil ke wilayahnya; mereka, dengan kecintaan pada seni dan keterampilan, melahirkan perdagangan dan industri di negerinya.
Senjata dan kemenangan-kemenangan Louis bahkan telah membawanya sampai ke pintu gerbang Kupang, tempat dimana tujuh tahun yang lalu (1811) ia menyebarkan ketakutan setelah membakar beberapa bangunan, termasuk rumah residen (rumah gubernur Belanda).
Kini, sebagai akibat dari upaya untuk memaksakan kuk yang memalukan kepadanya, ia sekali lagi menyatakan dirinya merdeka; dan karena ia memiliki pasukan sekitar enam ribu orang, dua pertiganya bersenjata senapan dan menunggang kuda.
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










