Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy M.T. Marpaung saat itu sampaikan, penyelenggaraan event berkualitas tidak hanya menjadi atraksi bagi wisatawan, tetapi juga mampu memperkuat daya saing destinasi dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
Berdasarkan kajian Kementerian Pariwisata, kata dia, event berkualitas adalah event yang mampu memperkuat citra destinasi, mendorong investasi, serta menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Karena itu, Festival Golo Koe menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam menghadirkan pengalaman wisata yang aman, berkualitas, dan berkelanjutan, ujarnya.
Andhy ungkapkan, FGK yang telah masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 menjadi salah satu kebanggaan Provinsi NTT. Tahun ini, NTT berhasil menempatkan 3 event unggulan dalam kalender KEN, yaitu Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara di Kabupaten Manggarai Barat, Festival Golo Curu Maria Ratu Rosari di Kabupaten Manggarai, dan Festival Lamaholot di Kabupaten Flores Timur. FGK 2026 telah memasuki tahun kelima dan juga tahun kedua masuk 10 besar Katalog KEN.
Menurutnya Festival Golo Koe juga menjadi momentum untuk mendorong penguatan wisata religi Katolik di Labuan Bajo Flores yang sejak tahun 2024 juga mulai dikembangkan secara terintegrasi dalam rangkaian Travel Pattern Ziarah Religi Katolik yang menghubungkan 54 destinasi religi dan budaya Katolik yang ada di Pulau Flores.
“Pengembangan wisata religi Katolik diharapkan dapat memperkaya produk wisata di Labuan Bajo Flores, memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat, serta memperkuat citra destinasi yang memadukan keindahan alam, budaya, dan spiritualitas. Selain itu, penyelenggaraan festival ini kami harapkan dapat menciptakan interkonektivitas aktivitas di destinasi yang ada di Labuan Bajo dan wilayah sekitarnya,” tutup Andhy.
Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat, Petrus Antonius Rasyid, paparkan upaya Pemkab Mabar dalam memperkuat tata kelola destinasi melalui pengembangan aplikasi Gendang Mabar dan mengintegrasikannya secara interoperabilitas dengan aplikasi SI ORA milik Balai Taman Nasional Komodo.
“Gendang Mabar akan menjadi pusat informasi resmi bagi wisatawan mengenai daya tarik wisata, travel agent, tour operator, pemandu wisata, hingga pelaku usaha pariwisata yang telah terverifikasi sesuai ketentuan. Kehadiran platform ini diharapkan memudahkan wisatawan memperoleh informasi yang akurat sekaligus meningkatkan keamanan, kenyamanan, dan kualitas layanan pariwisata di Manggarai Barat,” jelas Peter.
Diskusi juga diwarnai berbagai masukan dari pelaku industri pariwisata, asosiasi, media, dan akademisi terkait pentingnya penyusunan paket wisata terpadu selama FGK, penyebarluasan informasi resmi kepada wisatawan, penguatan promosi digital, serta peningkatan koordinasi lintas sektor agar penyelenggaraan festival agar mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat dan memperkuat posisi Labuan Bajo Flores sebagai destinasi pariwisata kelas dunia yang berkualitas dan berkelanjutan.
Melalui penyelenggaraan DISKORIA dan Bincang Kepariwisataan ini, BPOLBF berharap terbangunnya komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan untuk menghadirkan Festival Golo Koe 2026 sebagai event yang tidak hanya sukses secara penyelenggaraan, namun juga memberikan dampak nyata terhadap penguatan produk wisata, peningkatan kualitas layanan, serta pengembangan pariwisata Labuan Bajo Flores yang aman, berkualitas, dan berkelanjutan. *
Penulis : Andre Durung
Editor : Wentho Eliando










