MBAY, FLORESPOS.net-Puncak Gunung Keliwatuwea, Kecamatan Mauponggo, Nagekeo, lahir kisah inspiratif. Vinsen, mantan Anak Tidak Sekolah (ATS) yang sempat putus SMP, resmi lulus seleksi TNI Angkatan Udara di Solo setelah menempuh pendidikan kesetaraan Paket B di PKBM Pelihara Aeramo.
Vinsen berasal dari Kampung Keliwatuwea, kampung di puncak gunung dengan akses jalan kaki, tebing curam, dan jurang di kiri kanan. Beratnya medan membuat ia memilih berhenti sekolah saat SMP.
“Sering kali Vinsen pulang ke kampung selama beberapa hari bahkan minggu, lalu kehilangan semangat untuk kembali ke sekolah karena beratnya perjalanan,” Oskar Meta pengelola PKBM Pelihara Aeramo, Jumat (8/5/2026).
Kata Oscar titik balik datang ketika Vinsen mendapat info tentang PKBM Pelihara di Desa Aeramo yang menyelenggarakan Paket A, B, dan C. Bersama adiknya yang juga putus sekolah, Vinsen mendaftar Paket B.
Saat asesmen awal ditanya tujuan melanjutkan pendidikan, jawabannya singkat: “Saya mau ikut seleksi TNI Angkatan Udara.”
Usai Paket B, Vinsen lanjut ke SMKN 1 Aesesa. Kepala SMKN 1 Aesesa menyebut Vinsen sebagai salah satu siswa berprestasi. Lulus SMK, ia ikut seleksi TNI AU. Gagal di percobaan pertama. Gagal lagi di percobaan kedua. Baru di percobaan ketiga, pintu itu terbuka.
Menurut Oskar sebelum pengumuman, TNI AU melakukan verifikasi ketat. Dari Solo, informasi diteruskan ke TNI AU Kupang dan PM TNI AU Ende.
“Tim datang langsung ke PKBM Pelihara, memeriksa dokumen, proses belajar, sarana prasarana, hingga rekam jejak pendidikan Vinsen selama kurang lebih tiga jam,” ujar Oskar Meta.
“Kerja-kerja kecil yang sering dianggap biasa ternyata mampu membangkitkan seorang anak dari keterpurukan hingga berdiri sejajar dengan generasi lain untuk mengabdi kepada bangsa dan negara,” tambah Oskar.
Kisah Vinsen jadi pesan bagi anak putus sekolah di Nagekeo: pendidikan kesetaraan bukan tempat orang kalah, tapi jalan kedua untuk bangkit.
“Dari puncak gunung Keliwatuwea, seorang anak bernama Vinsen telah membuktikan bahwa mimpi bisa terbang setinggi langit Indonesia,” tutup Oskar. *
Penulis : Arkadius Togo
Editor : Wentho Eliando










