Enau di Manggarai Barat Terancam Punah–Pemerintah Mesti Program Budidaya - FloresPos Net

Enau di Manggarai Barat Terancam Punah–Pemerintah Mesti Program Budidaya

- Jurnalis

Selasa, 20 Januari 2026 - 16:41 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai Barat (Mabar) NTT mesti melakukan program pembudidayaan enau atau aren (arenga pinnata). Potensinya menjanjikan.

Namun keberadaan tanaman sebangsa palem tersebut kian mengkhawatirkan. Terancam punah. Konon enau di Mabar dieksploitasi untuk kepentingan ekonomi, tetapi tidak dilestarikan, tanpa budidaya. Dikhawatirkan, cepat atau lambat enau di Mabar bakal punah jika tidak dilestarikan.

Demikian dikatakan anggota DPRD Mabar, Bernadus Ambat, dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Mabar, Vinsen Gande.

Keduanya diminta tanggapan secara terpisah oleh Florespos.net di Labuan Bajo belum lama berselang, terkait potensi enau di Mabar sebagai penopang ekonomi dan budaya setempat.

Menurut Ambat, enau salah satu komoditi primadona bagi masyarakat Mabar yang punya keterampilan khusus untuk mengelola bagian-bagian dari tumbuhan itu, enau atau aren.

Sebab, kata Ambat, nira enau bisa diproses jadi aneka gula dan minuman beralkohol. Bisa diolah jadi gula batang, gula aren/gula rebok. Nira aren juga dapat diproses jadi tuak raja, sopi atau arak. Hasil olahan ini tidak hanya buat kepentingan pribadi, juga bisa dijual untuk mendapatkan uang.

Baca Juga :  Keuangan Daerah Tidak Kolaps, Pemkab Mabar Segera Bayar TPP

Kemudian, lidi enau bisa juga dibuatkan sapu lidi. Daunnya jadi pembungkus gula batang. Ijuknya jadi tali, atap rumah dan lain-lain.

“Dan semua ini berujung pada peningkatan ekonomi keluarga, disamping konsumsi sendiri,” komentar Ambat.

Tetapi, demikian Ambat, keberadaan aren di Mabar sepertinya berserah pada alam. Enau setempat tumbuh subur secara alami, sepertinya tanpa budidaya, tidak atas campur tangan manusia di daerah itu.

Apalagi, kata Ambat, Mabar daerah pariwisata. Keberadaan enau mutlak dipertahankan. Ini erat kaitannya dengan adat istiadat/ budaya Mabar. Hampir semua urusan masyarakat Mabar butuh tuak raja/sopi/arak.

Kumpul orang, terima tamu, butuh tuak/sopi. Termasuk terima wisatawan/ turis perlu tuak/sopi atas alasan budaya. Segala jenis minuman ini berbahan baku nira enau.

“Bagi orang Manggarai, tuak raja asli itu yakni yang berasal dari nira enau, bukan yang lain. Ini sejak dahulu kala, sejak zaman leluhur,” kata Ambat.

“Dan media simpan tuak raja saat terima tamu, siapa pun dia, dari mana pun dia, apa pun statusnya, selalu diterimanya dengan tuak raja. Media simpannya “robo” dalam bahasa Mabar khususnya,” sambung Ambat.

Baca Juga :  Presiden Jokowi Libur 3 Hari di Mabar, 27-30 September 2023

Untuk itu, demi mempertahan keberlangsungan hidup enau, Pemkab Mabar mesti membuat program pembudidayaan aren. Lestarikan enau di Mabar lewat program budaya.

Selain aren, Pemkab Mabar juga mesti memprogramkan budidaya “robo”. Tanaman ini wajib dilestarikan. Karena tanaman sebangsa labu air tersebut belakangan terancam punah, tutup Ambat.

Kadis Gande menambahkan, belakangan keberadaan aren di Mabar kian mengkhawatirkan. Kabarnya tumbuhan tersebut banyak yang dimusnahkan, diganti tanaman lain seperti porang dan lain-lain.

Pada tempat terpisah, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDa) Mabar, Tarsi Gosa, mengatakan, sejauh ini pihak melakukan riset terhadap enau atau aren di daerah itu.

Namun eks Kepala Bapenda Mabar itu mengaku, potensi enau/aren di Kabupaten Manggarai Barat luar biasa.

Untuk menopang ekonomi keluarga, ada masyarakat Mabar yang memproduksi dan menjual gula aren untuk dapat uang. Juga menjadi perajin dan penjual sopi dari enau, kata Kaban Gonsa. *

Penulis : Andre Durung

Editor : Wentho Eliando

Berita Terkait

PDI Perjuangan NTT Dorong Pemerintah Melakukan Pemulihan Infrastruktur Dampak Gempa Flores
Andi Opa Gaul, YPCI dan Forum Pemuda NTT Disalurkan Bantuan Gempa, Jangkau Wilayah Terpencil
BPBD Ngada Sebut 82,26 Persen Paket Bantuan Telah Disalurkan ke Warga Terdampak Gempa
Dekatkan Pelayanan Kesehatan dan Kemanusiaan di Kawasan Terdampak Gempa Flores, PDIP Siagakan Rumah Sakit Apung di Pelabuhan Kedindi Reok
SMAK Syuradikara dan INTI Ende Kirim Dua Siswa Kuliah di Nantong University China
Korban Meninggal Gempa Flores di Sikka 6 Orang, 4.937 Rumah Alami Kerusakan
Korban Meninggal Gempa Flores Capai 127 Orang, 166 Ribu Masih Mengungsi
Djafar Achmad Galang Bantuan dari Pensiunan Pelindo Bantu Korban Gempa Flores di Ende
Berita ini 610 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 21:43 WITA

PDI Perjuangan NTT Dorong Pemerintah Melakukan Pemulihan Infrastruktur Dampak Gempa Flores

Sabtu, 5 September 2026 - 19:12 WITA

Andi Opa Gaul, YPCI dan Forum Pemuda NTT Disalurkan Bantuan Gempa, Jangkau Wilayah Terpencil

Sabtu, 5 September 2026 - 18:36 WITA

BPBD Ngada Sebut 82,26 Persen Paket Bantuan Telah Disalurkan ke Warga Terdampak Gempa

Sabtu, 5 September 2026 - 14:34 WITA

Dekatkan Pelayanan Kesehatan dan Kemanusiaan di Kawasan Terdampak Gempa Flores, PDIP Siagakan Rumah Sakit Apung di Pelabuhan Kedindi Reok

Sabtu, 5 September 2026 - 13:19 WITA

SMAK Syuradikara dan INTI Ende Kirim Dua Siswa Kuliah di Nantong University China

Berita Terbaru