LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Sudah rahasia umum bahwa Nusa Tenggara Timur (NTT) salah satu provinsi miskin di Indonesia, konon termiskin ketiga setelah wilayah Papua.
Camat Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) NTT, Iwan Martinus, membenarkan. Itu data secara nasional, betul, katanya menanggapi media ini di Labuan Bajo belum lama berlalu.
Menurutnya, data nasional yang cap NTT provinsi miskin ketiga Indonesia, sah-sah saja. Tetapi masyarakat NTT, terutama Manggarai raya, termasuk Mabar, sepertinya tidak kurang pangan. Tanah subur. Ada jagung, beras/ padi, pisang, umbi-umbian dan lain-lain.
“Tidak ada orang mati karena kelaparan di Manggarai Barat ini, masyarakatnya makan kenyang setiap kali makan,” celetuk Camat Iwan.
Data nasional yang kategori NTT provinsi miskin ketiga di Indonesia setelah wilayah Papua, ungkap Camat Iwan, bagus juga. Hanya mungkin itu sepertinya menggunakan standar atau barometer Jawa.
Di Jawa, yang miskin itu betul-betul miskin. Tidak makan, tidak punya tempat tinggal, tinggal di kolong jembatan, tidak punya pekerjaan, tidak punya lahan, dan sebagainya.
Sedangkan di NTT, terutama di Manggarai raya, termasuk Mabar, nyatanya masyarakat punya stok pangan cukup. Di antaranya ada pisang, jagung, umbi-umbian, beras/padi. Di setiap kecamatan di Mabar ada sawah masyarakat. Sebut saja Lembor salah satunya yang dijuluki lumbung padi.
“Pegawai dalam kota Labuan Bajo yang punya pekarangan tanam sayur,” lagi-lagi Camat Iwan berujar.
Begitu juga dengan nelayan di Manggarai Barat, tidak terkecuali yang di Kecamatan Komodo. Tidak ada orang-orang di pulau di Mabar yang betul-betul di kategori miskin. Karena mereka punya kapal, minimal memiliki sampan.
Komoditi perkebunan pun baik, ada porang dan lain-lain. Peternakan juga begitu. Minimal ada ayam, kambing, babi. Sehingga menopang perekonomian masyarakat, lumayan.
Atas semua itu, semestinya NTT tak layak disebut provinsi miskin, termasuk Mabar, karena memiliki stok pangan yang cukup.
“Di KTP orang Manggarai Barat status jelas. Identitasnya antara petani atau nelayan atau pegawai. Tidak ada yang tulis penganggur,” komentar Camat Iwan.
Namun dari sisi Bansos/BLT, setidaknya kategori NTT provinsi termiskin ketiga secara nasional bagus juga. Tentu hal itu untuk memenuhi rasa keadilan dan asas pemerataan. Biar berimbang dari sudut pandang Bansos/ BLT khususnya. Makanya BLT di mana-mana, kata Camat Iwan.
Lanjut Camat Iwan, terkait status NTT provinsi termiskin, barangkali pasnya miskin pendidikan, miskin infrastruktur, miskin transportasi, dan mungkin juga miskin perhatian dari pemerintah pusat.
Bernadus Ambat, anggota DPRD Mabar secara terpisah juga bernada hampir sama. Diungkapkan, penghasilan masyarakat Mabar khususnya, terutama petani, penghasilan mereka sesungguhnya cukup.
Sebab, selain punyak sawah untuk hasilkan padi/beras, mereka juga memiliki kebun/ ladang guna ditanami aneka pangan, di antaranya pisang dan ubi-ubian.
“Dari sisi pangan sebenarnya cukup, stok selalu tersedia,” kata Ambat.
Kemudian, di lokasi sama juga petani bisa menanam kopi, kakao/cokelat, kemiri, cengkeh, porang, dan lain-lain. Ini semua kantong uang.
Di tempat yang sama pula, kebun/ladang petani, juga ada enau yang tumbuh secara alami tanpa campur tangan manusia pemilik lahan. Jika niranya diproses bisa jadikan sopi atau gula batang atau gula aren atau gula apalah namanya. Ini juga sumber uang, penopang ekonomi keluarga. Belum lagi ternak dan lain sebagainya.
“Kita di Manggarai raya ini, tidak terkecuali Manggarai Barat, mungkin sesungguhnya tidak miskin. Pangan cukup, tanaman perdagangan juga cukup,” kata Ambat.
Hanya, lanjutnya, secara umum sepertinya masyarakat Manggarai raya, termasuk Mabar, kalah di manajemen. Itu tidak terlepas dari budaya, kehidupan sosial tinggi.
Hampir semua urusan ujungnya uang. Urusan hidup dan mati, semuanya uang. Keluarga, kenalan, kerabat, handaitolan bahu membahu kumpul uang. Belum beras dan lain-lain.
Urusan hidup, antara lain contohnya terkait nikah dan sekolah. Urusan mati misalnya acara kenduri. Semua ini sulit terhidarkan, karena sudah turun temurun, sepertinya warisan leluhur, tutup Ambat. *
Penulis : Andre Durung
Editor : Wentho Eliando










