JAKARTA, FLORESPOS.net-Laporan Voluntary National Review SDG’s tahun 2025 menunjukan bahwa krisis iklim telah merenggut hak-hak anak di berbagai wilayah Indonesia.
Dampak krisis iklim mengganggu pola makan dan kesehatan anak, menurunkan pendapatan keluarga, serta meningkatkan risiko perlindungan terutama dalam situasi bencana.
“Kajian Bersama Save the Children dengan Humanitarian Forum Indonesia pada Desember 2025, juga menemukan bahwa kecukupan air bersih di lokasi pengungsian masih belum merata,” sebut Dessy Kurwiany Ukar, CEO Save the Children Indonesia dalam rilisnya Kamis (15/1/2026).
Dessy menegaskan, krisis iklim menimbulkan masalah kesehatan bagi anak dan keluarga dimana banyak fasilitas kesehatan terdampak dan tidak mampu melayani secara optimal, kebutuhan balita, ibu hamil dan menyusui belum terpenuhi secara memadai.
Ia mengatakan, menghadapi situasi ini, Save the Children Indonesia menekankan pentingnya pendekatan perlindungan anak yang komprehensif dan terintegrasi.
Disebutkan, memasuki tahun 2026, terdapat sejumlah prioritas mendesak antara lain memperkuat keamanan digital anak melalui peningkatan keterampilan.
Selain itu, sistem perlindungan dan partisipasi anak, guru serta orang tua; meningkatkan literasi adaptasi krisis iklim dan aksi iklim yang bermakna bagi anak.
“Juga memastikan pemenuhan hak anak dalam tahapan transisi pemulihan pasca bencana di Provinsi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat,” ungkapnya.
Dessy mengatakan, menuju Indonesia Emas 2045, investasi terbesar kita adalah memastikan anak-anak tumbuh dengan aman, sehat dan tangguh menghadapi krisis dan perubahan zaman.
Dirinya menegaskan, tanpa perlindungan dan pemenuhan hak anak hari ini, cita -cita itu akan sulit tercapai. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










