LABUAN BAJO, FLORESPOS.net -Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) NTT beribukotakan Labuan Bajo. Terletak di mulut Sawu di ujung barat Nusa Bunga,Flores. Luas kota ini sekitar 6.000 hektare (ha).
Bila hujan, kota kecil Labuan Bajo konon sering menjadi langganan banjir. Dikirim dari pegunungan – pegunungan sekitar melalui sungai-sungai setempat.
Labuan Bajo juga konon sering terendam air/banjir jika hujan tiba. Titik genangannya banyak. Ada yang airnya hilang sesaat, ada pula yang memakan waktu.
Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mabar tidak tutup mata. Berputar otak mencari jalan keluar. Temukan solusi aman jangka panjang. Agar terhindar dari gerogotan banjir dan genangan air.
Juga mengurangi sedimentasi akibat penumpukan lumpur, pasir dan material lain. Entah akibat erosi/tergerus banjir, luapan/limpahan sungai-sungai pun hasil endapan genangan air setempat waktu lama. Evolusi. Perlahan tapi pasti.
Air tergenang yang memakan waktu lama, cepat atau lambat akan mengundang penyakit. Terkait sanitasi.
Solusi dilakukan Pemkab Mabar tidak asal-asal. Punya dasar. Membangun drainase kota Labuan Bajo atas kerja-kerja akademik. Studi, penelitian, kajian ilmiah. Komperhensip. Dapat dipetanggungjawabkan. Sempurna.
Harapannya agar warga dan pembangunan setempat, kota Labuan Bajo, kelak tak menuai petaka.
Kepala Badan Riset Daerah (Brida) Mabar, Tarsius Gonsa, mengatakan, Pemkab Mabar kini sudah memiliki dokumen Rencana Induk Drainase (RID) Kota Labuan Bajo untuk 25 tahun ke depan.
Pembagunan drainase jalan di kota Labuan Bajo selama ini, demikian Gonsa, antara lain tergantung dari ketersediaan anggaran daerah (Mabar). Ditambah belum punya RID.
Pembuatan dokumen RDI kota Labuan Bajo merupakan hasil kerja sama Pemkab Mabar dengan ITS Surabaya 2025.
“Pemkab Mabar dalam hal ini Brida,” sambung Gonsa tatkala berbincang dengan wartawan di Labuan Bajo belum lama berselang.
Terang Gonsa, RID kota Labuan Bajo akan didorong jadi Peraturan Bupati (Mabar). Dengan itu, pembangunan di kota Labuan Bajo ke depan diharapkan mengikuti RID.
Apalagi Mabar adalah daerah pariwisata super prioritas. Labuan Bajo kota super premium. Pembangunan kota mesti mengikuti RID. Kelak itu supaya tidak ditampar petaka, kebobolan banjir dan murka alam lainnya. RID itu panduan.
Apabila pembangunan dalam kota Labuan Bajo mengikuti “petunjuk sakti” RID, itu dapat meminimalisasi resiko bencana. Efek negatif banjir, endapan air dan sedimentasi prlahan-lahan berkurang.
Beberapa tahun terakhir ini, demikian Gonsa, Labuan Bajo konon sering mengalami banjir. Ada penanganan, ada pembangunan drainase, tetapi belum merujuk pada RID, karena belum punya RID.
Hasil studi ITS terkait RID Kota Labuan Bajo Tahun 2025 memaparkan antara lain, curah hujan ekstrim setempat waktu tertentu tampak tinggi. Sungai-sungai meluap, terjadi limpahan air.
Sungai Nanganae misalnya, banjir puncak musim hujan mencapai 427,38 meter kubik /detik. Airnya amat banyak. Tinggi skali. Sungai ini bagian dari kota Labuan Bajo.
Saat hujan, titik genangan air dalam kota Labuan Bajo juga tidak sedikit, seribu lebih. Itu sampai Marombok ke sana. Airnya ada yang resap seketika ke dalam tanah, tapi ada pula yang butuh waktu.
Titik banjir untuk kedalaman 0,5 meter dalam zona kota Labuan Bajo ada di 569,59 ha. Luas sekali. Banjir 0,5 meter sampai 1 meter ada 230,58 ha. Banjir kedalaman 1 meter lebih juga behektare- hektare.
Terkait ini, kebanyakan warna merah berada di daerah pesisir. Antara lain di kawasan Nanganae. Bahkan di wilayah Waterfront/Marina hingga Kampung Ujung.
Membangun drainase kota Labuan Bajo berdasar RID, sangat penting. Salah satunya untuk kurangi titik banjir. Air di titik-titik genangan dialir ke drainase. Studi itu dilakukan ITS 2025 untuk pembuatan dokumen RID kota Labuan Bajo.
Atas dasar RID ini, mengikuti hasil studi analisis akademik ITS, diharapkan pembangunan kota Labuan Bajo ke depan lebih terintegrasi.
“Tidak boleh lari dari RID jika Labuan Bajo tidak mau kebobolan,” komentar Gonsa.
Disinggung rencana dan biaya pembangunan drainase kota Labuan Bajo berdasarkan RID, Gonsa akui belum tahu.
Pembangunan itu, tergantung kemampuan keuangan daerah. Dan yang membangun OPD-OPD teknis di lingkup Pemkab Mabar. Mereka yang tahu estimasi biaya dan lain-lain.
Sehubungan dengan ini semua, dangat dituntut kerja-kerja kolaboratif dan koordinasi para pihak, ujar Gonsa, eks Kaban Pendapatan Daerah Mabar itu.
Demi meredam banjir, menekan bencana, mudah-mudahan pembangunan di kota Labuan Bajo ke depan mengikuti RID setempat. *
Penulis : Andre Durung
Editor : Anton Harus










