ENDE, FLRESPOS.net-Antonius Sara dan Susana Riti membeberkan kesaksian tentang suka duka dan kunci sukses di tanah rantau. Kedua Eks perantau Malaysia puluhan tahun silam mengungkapkan 3 kunci sukses di tanah rantau, yakni iman yang teguh, pendidikan dan keterampilan.
“Kalau mau sukses di tanah rantau harus berpendidikan dan juga memiliki keterampilan. Siapkan diri dengan keterampilan dan pendidikan yang baik. Sering kali kita menjadi korban di tanah rantau karena tidak memiliki pendidikan yang baik serta minim keterampilan. Iman kita juga mesti kuat agar tidak tergoda dengan berbagai tawaran negatif yang menggiurkan. Jaga hubungan baik dengan semua orang, agen, majikan serta rekan kerja. Lebih dari itu ketika ingin bekerja di lura negeri siapkan diri dengan dokumen yang baik”.
Demikian sepenggal kesaksian atau sharing pengalaman 2 orang eks perantau Malaysia, Antonius Sara dan Susana Riti pada kegiatan Katekese bersama 2 orang Frater dari IFTK Ledalero di KUB Nio Rewa 4 dan KUB Nio Rewa 6, Kamis (8/1/2026).
Di hadapan umat dan Frater, dua umat KUB Nio Rewa 4 ini memberikan kesaksian atau menceritakan pengalaman, suka duka selama menjadi perantau di negeri jiran Malaysia.
Katakese yang dipandu Frater Arnoldus Yansen Salu, SVD dan Gregorius Sila, SVD diikuti umat dari KUB Nio Rewa 4 dan KUB Nio Rewa 6. Katekse diawali ibadat serta pembacaan kitab suci ini dibuka oleh Ketua Lingkungan 7 dan dihadiri Ketua KUB Nio Rewa 4, Herman Kami serta Ketua KUB Nio Rewa 6, Stanis Repi serta sejumlah perangkat pastoral lingkungan dan KUB lainnya.
Katekese yang dipandu Frater Arnoldus dan Gregorius mengambil tema tentang kepedulian terhadap para korban perdagangan orang.
Tema ini diambil sebagai bagian dari upaya untuk menjaga harkat dan martabat manusia sebagai ciptaan Tuhan yang mulia. Tema terkait perdagangan orang atau human trafficking saat ini menjadi perhatian serius gereja.
Untuk itu Frater Arnoldus dan Gregorius meminta perhatian dan juga masukan dari umat tentang perdagangan orang. Hasil katekese ini akan menjadi salah satu bentuk rekomendasi untuk mendapatkan solusi terbaik dalam mengatasi persoalan perdagangan orang di wilayah Keuskupan Agung Ende atau Indonesia pada umumnya.
Hanya Jadi Buruh Kasar
Selain kesaksian Anton Sara dan Susana Riti, Ketua lingkungan 7, Heri Bata Dede yang juga memiliki pengalaman bahkan pernah mendampingi para perantau asal Flores atau NTT umumnya di Kalimantan Utara memberikan kesaksian terkait pekerjaan dan kehidupan para perantau di Kalimantan atau Malaysia.
Heri Bata memberikan apresiasi dan mendukung pernyataan Anton Sara tentang pentingnya pendidikan dan keterampilan bagi umat atau warga yang ingin merantau ke Kalimantan ataupun malaysia.
Menurut Heri Bata, para perantau asal NTT atau Flores khususnya lebih banyak menggeluti pekerjaan sebagai buruh kasar ketika berada di tempat rantau.
“Saya setuju dengan apa yang disampaikan Pak Anton Sara. Saya saksikan sendiri para perantau kita di Kalimantan yang hanya menjadi buruh kasar. Tanpa pendidikan dan keterampilan yang baik, orang kita yang merantau, baik ke Kalimantan maupun Malaysia rata-rata hanya menjadi buruh kasar. Jadi sebelum merantau siapkan diri dengan keterampilan dan pendidikan yang cukup,” kata Heri Barta.
Katekese di KUB Nio Rewa 4 dan KUB Nio Rewa 6 diakhiri dengan rencana aksi nyata, doa dan santap persaudaraan bersama. Katekese di Nio Rewa 4 dan Nio Rewa 6 dihadiri banyak umat, baik orangtua, OMK maupun anak-anak. *
Penulis : Anton Harus
Editor : Wentho Eliando










