ENDE, FLORESPOS.net-Paripurna interplasi DPRD Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang digelar Rabu (17/12/2025) berlangsung ricuh.
Paripurna yang menjadi ruang terhormat anggota dewan menyampaikan pertanyaan terkait kebijakan Bupati Ende di tahun 2025 belum menyentuh subtansi. Pasalnya baru dibuka langsung ricuh dan tidak dilanjutkan lagi karena Bupati Ende, Yoseph Badeoda meninggalkan ruangan.
Pasca kericuhan itu lembaga DPRD Ende kembali bersidang untuk menentukan langkah selanjutnya.
Pada sidang yang dipimpin Wakil Ketua DPRD Ende, Yanus Waro, empat fraksi menyatakan lanjut ke hak angket, dua fraksi mengharapakan kembali ke interplasi dan dua fraksi abstein.
“Empat fraksi yang nyatakan lanjut ke angket yaitu PKB, Nasdem, PSI dan Golkar. Fraksi Demokrat, Hanura abstein. Sedangkan fraksi PDIP dan Gabungan meminta interplasi diagendakan lagi”.
Yanus mengatakan terkait dengan usulan dan sikap dari fraksi tersebut, DPRD Ende akan menggelar rapat lagi untuk membahas mekanisme pengajuan hak angket.
Tanggapan Bupati
Bupati Ende, Yoseph Badeoda kepada wartawan usai kericuhan paripurna interplasi mengatakan dengan kericuhan tersebut publik bisa menilai bahwa interplasi diajukan dengan niat tidak baik.
“Seperti yang kita lihat di interplasi tadi, saya kira diajukan dengan niat tidak baik. Maka pemerintah juga mempunyai sikap tegas, kalaupun DPRD Ende mau lanjutkan ke angket”.
Yoseph Badeoda mengatakan pemerintah akan meminta seluruh pertanyaan dari DPRD diberikan secara tertulis dan pemerintah juga memberikan jawaban secara tertulis sehingga tidak ada ruang untuk berdebat.
“Kita lakukan secara tertulis, kalau debat atau dilaog ruangnya di RDP saja”.*
Penulis : Willy Aran
Editor : Wentho Eliando










