Dan ternyata lagi-lagi, PSN datang dengan ciri khas step-nya Kletus, pemain muda dijadikan pondasi, pemain senior dijadikan tulang punggung, permainan dipoles rapi. Hasilnya? Trofi ke-9 setelah kalahkan Persena 2 – 0 di final.
Kalau kalian tonton, pasti terasa, permainan PSN di ETMC kali ini itu enak dilihat. Alurnya kreatif, tekanannya rapi, determinasi tinggi. Tidak banyak tim yang bisa konsisten main seperti itu sepanjang turnamen. Dan itu bukan hal kebetulan. Itu hasil proses panjang yang diam – diam ada unsur pedagogi ala Kletus.
Tapi ada satu momen yang bikin saya terhenti. Saya dengar podcast Box Coffee yang tayang sebelum final. Di situ Kletus buka sedikit isi hatinya. Dia bilang, sejak 2016 jadi pelatih kepala PSN, hampir setiap kali ada kegagalan, dia bergumul dengan pikiran untuk berhenti atau lanjut. Sepak bola juga memang ada romantismenya, tidak hanya Judika yang galau, “Putus atau Terus”.
Bukan karena tidak sanggup, tapi karena ekspektasi publik Ngada itu tidak main-main. Walau tidak diucapkan secara terang-terangan, ekspektasinya setiap kali event itu cuma satu yaitu juara.
Kegagalan di ETMC Kupang jadi titik paling berat. Dia sudah hampir pilih berhenti. Tapi keluarga kecilnya datang sebagai cahaya. Mereka bilang bahwa hidup Kletus itu sudah di sepak bola. Dan itu bukan hukuman, itu panggilan yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
Yang paling lucu tapi juga paling menyentuh adalah cerita soal anaknya yang bilang polos: “Bapa cuma boleh melatih PSN Ngada.” Bayangkan. Di saat publik ramai berspekulasi Kletus mau pindah ke mana, justru anaknya yang “mengunci” keputusan, tetap PSN. Kadang keputusan besar memang dipicu kalimat paling sederhana dari orang yang kita sayang.
Dari situ kita belajar, kita kadang merasa gagal, padahal yang kita bangun itu jauh lebih dalam dari yang terlihat. Dan kadang, orang terdekat kitalah yang melihat nilai itu lebih dulu.
Saya baca juga tulisan Wili Aran, jurnalis senior dari Ende. Tulisannya dia muat di facebook pribadi beberapa jam setelah laga final. Dia bilang, selain jago strategi, Kletus itu hebat bicara. Tidak asal jawab pertanyaan wartawan. Dia analisis cepat dulu, baru bicara. Tidak bikin tim tambah tertekan. Gaya komunikasinya rapi, penuh perspektif. Ini kemampuan yang tidak semua pelatih punya.
Wili juga cepat tangkap, Kletus tidak percaya mitos. Keberhasilan datang dari proses panjang, dari mental bertarung yang disiplin. Dan gelar kesembilan PSN itu membantah mitos “tidak pernah juara di Flores”.
Lebih dari trofi itu sendiri, Kletus punya harapan Ngada bisa jadi tempat lahir lebih banyak talenta muda. Ngada kecil, tapi potensinya tidak lokal. Ini penting, karena masa depan sepak bola tidak lahir dari final di stadion besar, tapi dari latihan – latihan kecil yang konsisten.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










