Jadikan TNK Taman Daerah Manggarai Barat, Cruise Ship Mesti Singgah Labuan Bajo - FloresPos Net

Jadikan TNK Taman Daerah Manggarai Barat, Cruise Ship Mesti Singgah Labuan Bajo

- Jurnalis

Minggu, 23 Maret 2025 - 19:40 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bernadus Ambat

Bernadus Ambat

LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Status Taman Nasional Komodo (TNK) sebaiknya jadi Taman Daerah (TD) Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) NTT.

Cruise ship (Kapal pesiar) yang selama ini hanya masuk TNK (perairan laut TNK) semestinya singgah juga perairan Labuan Bajo.

Meski perjuangan membutuh waktu, namun manakala dua hal itu menjadi kenyataan, tentu akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat dan peningkatan penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Manggarai Barat kelak.

Demikian Ali Sehidun dan Bernadus Ambat, anggota DPRD Mabar ketika berbincang dengan Florespos.net baru-baru ini di Labuan Bajo.

Sehubungan cruise ship, kata Ali, memang butuh lobi tingkat tinggi dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mabar. Lobinya langsung tembak Pemerintah Pusat (Pempus), kementerian/lembaga terkait bahkan hingga Presiden RI.

Perlu diketahui jumlah tamu/turis per cruise ship sekitar seribuan orang. Kapal-kapal pesiar berasal dari bebagai negara, antara lain Amerikat Serikat.

Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) misalnya, kontinyu berkomuniasi dengan kedutaan negara-negara asal cruise ship. Supaya kedutaan-kedutaan itu yang berkomunikasi dengan pihak industri/perusahan kapal persiar bersangkutan. Agar manakala cruise ship-cruise ship ke TNK, terlebih dahulu masuk di perairan Labuan Bajo.

Masih tentang ini, penting ada PKS (Perjanjian Kerja Sama) antara pihak travel agent/biro perjalanan (TA/BP) kapal tersebut dengan Pemkab Mabar terkait retribusi sampah. Pihak TA/BP/perusahan cruise ship harus bayar retribusi sampah sebelum berlabuh/turunkan tamunya di perairan Labauan Bajo/TNK.

Baca Juga :  Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksi Regus Buka Prosesi Maria Festival Golo Koe

Kapal-kapal pesiar yang bawah tamu lebih dari 1000 orang misalnya, berlabuh sekitar 1-2 jam untuk memberi waktu tamunya turun lancong di daratan Labuan Bajo atau daratan TNK sebelum kembali ke kapal untuk melanjutkan pelayaran/perjalanan ke destinasi yang lain.

Selama di perairan/daratan TNK/Labuan Bajo paling tidak ada dampak positif dan negatif. Positif misalnya mereka belanja produk UMKM warga setempat. Negatifnya sampah. UMKM langsung diterima warga dan retribusi sampahnya masuk kantong PAD Mabar, komentar Ali di-ya-kan Bernadus.

Dikatakan keduanya, tahun-tahun terkahir Pempus sudah melarang Pemkab Mabar melakukan pungutan kepada tamu/turis berupa karcis masuk TNK atas dasar Perda Mabar, karena dianggap melanggar aturan. Sehingga Pemkab Mabar kehilangan pendapatan/PAD. Di sisi lain TNK bagian dari wilayah administrasi Mabar.

Belum tentu kedatangan  tamu-tamu cruise ship itu  tidak berdampak sampah. Dan itu tidak hanya di TNK, di Labuan Bajo juga hampir pasti ketibaan sampah kiriman dari lautlaut TNK, kata keduanya.

Adapun dampak positif TNK untuk Mabar tetapi sepertinya tidak signifikan, karena tidak langsung seperti pungutan karcis masuk kepada wisatawan. Dampak tidak langsung itu sepertinya dari pos Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Baca Juga :  Kampung Nelayan Modern Kedua Indonesia Segera Dibangun di Warloka Manggarai Barat

Maka, sebaiknya kapal-kapal pesiar mesti singgah juga di Labuan Bajo atas alasan tadi. Selain dapat retribusi sampah untuk Pemda dari TA/owner/ perusahan kapal, UMKM juga akan kejipratan rejeki karena produk mereka dibeli wisatawan cruise ship.

Dulu, lanjut Ali, sekitar Tahun 1999/2000 kapal pesiar/ cruise pernah singgah di perairan Labuan Bajo, persisnya di perairan Batu Gosok, antara Pulau Seraya Besar dan Seraya Kecil.

Tentang TNK jadi TD Mabar, juga kelak akan tetap bermuara/endingnya pada peningkatan PAD dan kesejahteraan masyarakat Manggarai Barat, karena dikelola oleh daerah. Hasil pengelolaan langsung masuk kas daerah Mabar.

Dulu, masih Ali, sepertinya ada Taman Nasional di Bali. Tetapi kemudian berubah menjadi TD Bali sampai sekarang.

“Memperjuangkan hal ini memang tidak semudah membalikan telapak tangan, butuh waktu. Semua elemen mesti berjuang ekstra. Ini demi kesejahteraan masyarakat dan peningkatan PAD Mabar kelak, butuh waktu. Mungkin sekitar sepuluh dua puluh tahun baru terwujud, jadi kenyataan, ujar Ali diamini Ambat. *

Penulis : Andre Durung

Editor : Wentho Eliando

Berita Terkait

Berharap Pendapatan RSUD, Target APBD-P Flores Timur Tahun 2026 Naik Rp 5,7 Miliar
Huntap Buat Warga Terdampak Gempa Flores di Sikka Segera Dibangun untuk Tahap Pertama
Bantuan Stimulan Pembangunan Rumah Rusak di Sikka Dampak Gempa Flores Siap Dikucurkan
Kemenpar Perkuat Kompetensi dan Keselamatan Wisata Bahari melalui Sertifikasi Pemandu Snorkeling Level III
Elnino, Padi Sawah Manggarai Barat Terancam Gagal Panen, Apen: Mata Air Kering
Pendampingan Psikososial dan Bahan Bacaan Bagi Murid SDI Butata Nagekeo, Kerja Bareng Yaspora NTT dan PKBM Bintang Floresta
Wabup Ngada Terima Bantuan Rp1,2 Miliar dari Kemenko Pangan 
Tim Psikososial Kevikepan Bajawa Dampingi Anak dan Remaja Terdampak Gempa
Berita ini 159 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 21:20 WITA

Berharap Pendapatan RSUD, Target APBD-P Flores Timur Tahun 2026 Naik Rp 5,7 Miliar

Sabtu, 26 September 2026 - 18:35 WITA

Huntap Buat Warga Terdampak Gempa Flores di Sikka Segera Dibangun untuk Tahap Pertama

Sabtu, 26 September 2026 - 18:30 WITA

Bantuan Stimulan Pembangunan Rumah Rusak di Sikka Dampak Gempa Flores Siap Dikucurkan

Sabtu, 26 September 2026 - 16:21 WITA

Elnino, Padi Sawah Manggarai Barat Terancam Gagal Panen, Apen: Mata Air Kering

Sabtu, 26 September 2026 - 16:03 WITA

Pendampingan Psikososial dan Bahan Bacaan Bagi Murid SDI Butata Nagekeo, Kerja Bareng Yaspora NTT dan PKBM Bintang Floresta

Berita Terbaru

Opini

Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital

Minggu, 27 Sep 2026 - 12:58 WITA