Terlihat saat beberapa orang dewasa sedang menyeberangi jalan Kali Nangagete, ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa dan sesekali mereka berhenti untuk menjaga keseimbangan badan akibat terseret arus air.
Moro mengakui, bila ketinggian air Kali Nangagete meningkat maka orang dewasa pun tidak berani menyeberangi Kali Nangagete sebab arus air sangat kencang
“Apalagi kalau hujan lebat dan pintu air dari Bendungan Napun Gete dibuka membuat ketinggian air kali meningkat. Kadang banjir merusak tanaman di kebun di samping kali,” tutur Moro.
Moro katakan, warga sudah mengusulkan agar pemerintah membangun jembatan gantung sehingga memudahkan warga menyeberangi kaki.
Lanjutnya,warga juga sudah meminta agar pemerintah mengaspal jalan dari samping jembatan Iyan Loeng Dusun Baokremot menuju Kampung Wailoke hingga kampung Wairbou.
“Kasihan kalau orang sakit atau hendak melahirkan. Kami harus bawa melintasi jalan yang kondisinya memprihatinkan,” ucapnya.
Kali Nangagete seluas sekitar 50 meter membelah wilayah yang dulunya masuk Desa Nebe di sebelah selatan dan Kampung Wairbou, Desa Nebe dan Kampung Wailoke,Desa Wailamun di sebelah utara kali.
Terdapat jalan semen persis sebelah timur jalan provinsi di Dusun Baokremot yang menghubungkan Kampung Wailoke dan Kampung Wairbou di sebelah timur.
Warga yang memiliki sepeda motor sering bepergian keluar kampung menggunakan sepeda motor bahkan angkutan kota juga sering menghantar penumpang hingga kedua kampung ini.
Warga kedua kampung ini lebih memilih menyeberangi kali sebab hanya butuh sekitar 10 menit saja saat musim kemarau dengan ketinggian air kali maksimal setinggi lutut orang dewasa. *
Penulis : Ebed de Rosary (Kontributor)
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2










