Penyakit Darah Pisang Masih Mewabah di Ende, Ini yang Harus Dilakukan Petani - FloresPos Net

Penyakit Darah Pisang Masih Mewabah di Ende, Ini yang Harus Dilakukan Petani

- Jurnalis

Sabtu, 25 Januari 2025 - 15:17 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ENDE, FLORESPOS.net-Penyakit darah pada tanaman pisang yang dikenal dengan nama penyakit darah pisang masih mewabah di Ende. Penyakit ini sudah menyebar di seluruh wilayah Kabupaten Ende khususnya di wilayah sentra produksi.

Dampaknya produksi pisang dari daerah ini menurun drastis. Bahkan para peternak babi juga mengeluh karena batang pisang adalah pakan utama bagi ternak babi dan sapi.

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Rasltonia solanacearum atau yang dikenal dengan nama Blood Desease Bacterium (BDB).

Ciri yang bisa dilihat pada fisik pisang saat sudah terserang penyakit ini yaitu daun menguning dan layu, pangkal daun patah dan menggantung, buah pisang tampak sehat tapi saat dipotong akan terlihat merah kecoklatan bahkan berwarna hitam.

Baca Juga :  137 Anak Terima Komuni Pertama di Paroki Mautapaga Ende

Ciri lainnya jantung pisang mengering, mengkerut dan menghitam. Cairan bakteri yang keluar dari batang tanaman, berwarna susu, kuning, coklat kemerahan, hingga hitam.

Penyakit darah pada tanaman pisang dapat ditularkan melalui serangga, peralatan yang tidak steril, sanitasi lahan dan tanaman yang tidak diperhatikan.

Sekretaris Dinas Pertanian Ende, Gadir Dean kepada Florespos.net, Sabtu (25/1/2025) mengatakan
berdasarkan pantauan di lapangan penyakit darah pisang di wilayah Ende mulai hilang dengan kondisi intensitas hujan yang tinggi.

Baca Juga :  Peduli Terhadap Sesama, Lingkungan, dan Keutuhan NKRI, Ini yang Dilakukan Orang Muda Santo Gregorius Borong

Dengan hujan maka anakan pisang mulai tumbuh dan saat ini bisa dipanen. “Baru – baru ini kita sudah mulai panen. Ada wilayah yang masih terkena penyakit ini,” katanya.

Dikatakannya bahwa penyakit ini belum ada obatnya atau belum ditemukan obat yang bisa digunakan untuk melakukan pencegahan.

Langkah yang bisa dilakukan petani yaitu pengasapan dan eradikasi atau pemusnahan.

Penulis : Willy Aran

Editor : Wentho Eliando

Berita Terkait

Wendy Menang Meyakinkan, Pemilihan Ketua RT 01 Wae Sambi Terapkan Metode TPS Keliling
Program GENTING, Pemkab Ende Libatkan Stakeholder Terkait Jadi Orang Tua Asuh
Wujudkan Lingkungan Bersih, Rutan Bajawa Gelar Deklarasi Zero Halinar
Gubernur NTT Apresiasi LPK Musubu Stikes Santa Elisabeth Lela Kirim Tenaga Kesehatan ke Jepang
WALHI NTT Menilai Polres Sumba Timur Mandek Tangani Kasus Tambang Emas Ilegal
Selama Empat Tahun, LPK Musubu Kirimkan 71 Tenaga Kesehatan Asal NTT ke Jepang
WALHI NTT Sebutkan, Komodo Diperdagangkan, Manggarai Timur Jadi Ladang Perburuan Satwa Dilindungi
Wisata Literasi, SDIT Rabbani Akan Kunjungi Kantor Bupati, Toko Buku Gramedia dan Perpustakaan Daerah
Berita ini 508 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 21 April 2026 - 12:43 WITA

Wendy Menang Meyakinkan, Pemilihan Ketua RT 01 Wae Sambi Terapkan Metode TPS Keliling

Selasa, 21 April 2026 - 11:51 WITA

Program GENTING, Pemkab Ende Libatkan Stakeholder Terkait Jadi Orang Tua Asuh

Selasa, 21 April 2026 - 07:18 WITA

Wujudkan Lingkungan Bersih, Rutan Bajawa Gelar Deklarasi Zero Halinar

Selasa, 21 April 2026 - 06:50 WITA

WALHI NTT Menilai Polres Sumba Timur Mandek Tangani Kasus Tambang Emas Ilegal

Selasa, 21 April 2026 - 06:46 WITA

Selama Empat Tahun, LPK Musubu Kirimkan 71 Tenaga Kesehatan Asal NTT ke Jepang

Berita Terbaru

Aloysius Wisu Parera

Opini

Perempuan Manggarai: Memulihkan Mahkota yang Retak

Selasa, 21 Apr 2026 - 12:56 WITA

Opini

Ketika “Kartini” Menjadi Simbol yang Berebut Makna

Selasa, 21 Apr 2026 - 12:07 WITA