LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Wakil Bupati (Wabup) Manggarai Barat Yulianus Weng menyambut baik kabar Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia (RI) untuk Jepang, Heri Akhmadi dan pengusaha Jepang, yang mempertanyakan potensi “gola kolang” wilayah itu terkait investasi.
“Itu kabar baik, menggembirakan. Informasi itu positif, bagus dan menjanjikan. Kita sangat senang berita itu,” komentar Wabup Weng menanggapi media ini di Labuan Bajo, Manggarai Barat belum lama berselang.
Ketua Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) Mabar, Ignasius Charles Angliwarman, secara terpisah kepada Florespos.net di Labuan Bajo, mengatakan Dubes RI untuk Jepang Heri Akhmadi menanyakan produksi gola kolang Manggarai Barat dalam jumlah ton. Begitu pula pengusaha Jepang, mereka juga pertanyakan gola kolang dalam jumlah banyak, ton.
“Pa Dubes tanyanya ton. Beliau ajak saya saat itu meeting dengan pengusaha Jepang di gedung Kedutaan Besar RI di Tokyo. Para pengusaha juga kala itu tanyanya ton terkait produksi gola kolang kita,” kata Angliwarman.
Angliwarman melanjutkan, dia dan keluarga belum lama berlalu berlibur ke Jepang. Waktu itu dia manfaatkan untuk mendatangi Kedubes RI di Tokyo dan bertemu Dubes Heri Akhmadi serta rapat dengan pengusaha-pengusaha negeri Sakura.
Pada pertemuan tersebut, kata Angliwarman, dia perkenalkan/perlihatkan prodak-prodak lokal Mabar yang dibawanya, seperti gola kolang, kopi tepung yang diisi dalam bambu kecil (sachet), madu serta selendang songke.
“Dalam rapat itu saya narasikan pembuatan gola kolang. Gola kolang prodak pangan yang serba alami, tanpa pengawet. Mereka (peserta) tertarik, langsung tanya produksi dalam jumlah ton,” ujar Angliwarman.
Gola kolang batangan tersebut berukuran sekitar jari telunjuk orang dewasa. Kopi tepung juga begitu, diisi dalam bambu yang berukuran sekira jari telunjuk orang dewasa.
Stefanus Bali, Plt. Kepala KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan) Kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat pada tempat berbeda di Labuan Bajo mengungkapkan bahwa selama ini pihaknya konsen mendampingi masyarakat terkait pembuatan gola kolang, madu, kopi bubuk “sachet” bambu, dan lain-lain, khususnya di Manggarai Barat.
Konon madu, kopi tepung “sachet” bambu, dan gola kolang telah diperkenalkan Kadinda Manggarai Barat di Jepang belum lama ini, kata Nali.
Gola kolang adalah bahan pangan spesial Mabar. Bahan bakunya serba alami, mulai dari isi (gula) sampai kemasan. Untuk menjadi gola kolang prosesnya panjang.
Jenis pangan satu ini berasal dari sari enau. Air hasil dari sadapan batang buah enau ditampung dalam wadah. Kemudian dimasak hingga menghasilkan gula dan dimasukan dalam mal khusus. Selanjutnya dibungkus daun enau dan lilit lidi enau itu sendiri. Serba enau, semuanya alami.
Menurut Wabup Weng, kabar gola kolang diperkenalkan di Jepang adalah berita yang sangat positif, senang, menggembirakan buat Pemkab Manggarai Barat.
Hanya kalau Jepang pertanyakan produksi jumlah ton dalam waktu singkat, sepertinya belum bisa. Itu butuh waktu, banyak persiapan, apalagi mau ekspor keluar negeri, itu tak sama dengan UMKM yang beredar lokal.
Kalau untuk ekspor keluar negeri, persyaratannya banyak, antara lain terkait BPOM. Persiapan lain juga di antaranya kemasan. Gola kolang, dan kopi “sachet” bambu belum ada BPOM. Ekspor ke luar negeri nuga mesti dalam jumlah banyak, tidak mungkin minta 100 kilogram.
Terkait gola kolang, kopi tepung “sachet” bambu, produksi awalnya pelan-pelan dulu. UMKM produksi kecil-kecil dulu. Mungkin pembeli awal Pemkab Manggarai Barat sebagai oleh-oleh/buah tangan tamu yang datang ke Pemda.
Waktu tersebut juga sambil terus membina, mendampingi masyarakat lokal Mabar. Kalau sudah terkenal baru diproduksi massal, tak terkecuali diekspor keluar negeri, termasuk Jepang.
Lanjut Wabup Weng, gola kolang dan kopi “sachet” bambu adalah peluang bisnis/investasi bagi Manggarai Barat ke depan. Peluang ini harus ditangkap.
“Selain alami, kedua prodak juga praktis, unik, langka, semacam barang antik. Gola kolang yang ini seperti dimodifikasi dalam ukuran kecil, dulu besar. Ini hanya ada di Manggarai Barat, spesial sekali,” kata Wabup Weng.
Lanjutnya, di Manggarai Barat bahan dasar gola kolang cukup tersedia. Enau selama ini banyak yang buat sopi ketimbang ke gula, karena lebih laris sopi. Tiap hari orang beli sopi untuk dagang/minum, sedangkan gula belum tentu.
Ke depannya gola kolang menjadi peluang buat Mabar. Dengan itu produksi sopi setempat mungkin berkurang. Kalau sudah berkurang mungkin mabuk juga berkurang. Mabuk berkurang, orang baku pukul juga berkurang, kata Wabup Weng.
Wabup Weng menambah, Kadin Manggarai Barat juga mestinya koordinasi dengan Pemerintah Daerah terkait yang begini-begini (gola kolang, kopi tepung “sachet” bambu dan lain-lain), ujar Wabup Weng. *
Penulis: Andre Durung I Editor: Wentho Eliando









