Ada Apartemen Kepiting 5 Lantai di Dinas Perikanan Manggarai Barat - FloresPos Net

Ada Apartemen Kepiting 5 Lantai di Dinas Perikanan Manggarai Barat

- Jurnalis

Jumat, 15 Maret 2024 - 09:10 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LABUAN BAJO, FLORESPOS.net – Kantor Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (KPP) Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) di Labuan Bajo seakan berfungsi ganda. Selain tempat kerja pegawai setempat, di dalam gedung berlantai 2 itu juga ternyata ada Apartemen Kepiting (AK)  milik instansi bersangkutan.

Diharapkan apartemen (AK) berlantai 5 yang mengusung ramah lingkungan, rumah ratusan kepiting tersebut, kelak menjadi sumber baru pendapatan asli daerah (PAD) Mabar, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengingat potensi setempat terkait hal satu itu menjanjikan.

Kepala Dinas KPP Mabar, Fatinci Reynilda, mengatakan keberadaan AK tersebut tak mengganggu aktivitas para pegawai setempat, karena kepiting-kepitingnya hidup di dalam kamar apartemen di ruang tersendiri. Pemberian pakan hanya sekali sehari, yaitu sore hari. Kepiting yang dibudidayakan itu kepiting soka/cangkang lunak.

Kepada FloresPos. Net baru- baru ini di Labuan Bajo, Kadis Fatinci mengatakan, AK di kantornya merupakan yang pertama di Mabar maupun di NTT. AK tersebut 5 lantai dan memiliki 50 kamar. Dalam satu kamar diisi 4-5 kepiting. Kepiting komoditi ekspor, salah satu negara tujuannya Amerika Serikat.

Pada usia 15 hari, kepiting apartemen milik Dinas KPP sudah bisa dipanen dengan bobot hampir 1 kilogram. Harga pasaran Rp.150 ribu/kg. Untuk kebutuhan AK setempat, Dinas KPP Mabar perlu 25 kg bibit kepiting, beli bibit masyarakat petambak Mabar dengan harga Rp.50 ribu/kg.

Baca Juga :  Warga Nanganesa Antusias Periksa Kesehatan Saat Baksos Bersama Tim Dokter Atma Jaya

Sebelum dibesarkan dalam kamar apartemen, bibit-bibit kepiting disteril terlebih dahulu agar zat kimia/racun bawaannya hilang. Dan itu dicuci dengan campuran air laut dan air payau yang telah tersedia samping Apartemen Kepiting setempat. Sehingga kepiting-kepiting tersebut kelak aman dikonsumsi.

“Bibit-bibit itu (kepiting) kan sebelumnya hidup di lumpur, maka racun-racunnya harus dibersihkan terlebih dahulu, ” komentar Kadis Fatinci.

Lebih jauh diungkapkan Kadis Fatinci, AK di kantornya lahir karena terdorong oleh situasi, gegara keterbatasan anggaran di instansi itu beberapa tahun terakhir akibat refocusing. Sisi lain ada “tuntutan” PAD, dan di lain sisi minim pemasukan/ penerimaan.

Akibat refocusing anggaran, target kegiatan dan program Dinas KPP sulit terwujud, khususnya Bidang Perikanan Budidaya. Sehingga indikator utama kegiatan dinas tidak tercapai, beberapa kegiatan tak terlaksana, pincang.

Atas kondisi kurang enak itu, Dinas KPP sepakat melahirkan inovasi ” tikar ” (budaya Mabar/Manggarai). Di sini membicara anggaran dari sesama pegawai setempat untuk membentuk koperasi di tingkat kantor tersebut.

Melalu koperasi anggaran dikucurkan sebagai dana investasi. Dana terkumpul dan diputar sebagai modal usaha untuk menerapkan teknologi sekaligus mempersiapkan SDM (Sumber Daya Manusia) terampil dalam penerapan teknologi terkait kehadiran AK Dinas KPP.

Baca Juga :  Nayubaya-Flores Timur Jadi Tempat Pertama Pentas Tur "Ibu Tanah" Nara Teater

Keunggulan inovasi AK antara lain menghasilkan kepiting lunak (soka), cepat panen, dan modal usaha kembali dalam tempo 4 bulan. Dalam setahun ada 12 bulan. Di 4 bulan awal untuk tutup kembali modal dan 8 bulan berikutnya panen keuntungan.

Keuntungan yang berikutnya bersifat kemandirian dan keberlanjutan. Manakala masyarakat ikut aktif dalam usaha begini, maka itu akan menjadi modal kelompok. Jika demikian, kelak masyarakat ikut aktif menanam mangrove/bakau, karena habitat bibit kepiting di bakau. Dengan begitu lingkungan tetap hijau.

Lanjut Kadis Fatinci, usaha Apartemen Kepiting kelak bisa menjadi sumber PAD baru di Manggarai Barat.  Alasannya antara lain karena kepiting komoditi ekspor disamping konsumsi sendiri, juga atas alasan pariwisata, wisata kuliner khususnya.

Selama ini di Mabar hanya 1 kelompok masyarakat yang usaha kepiting, yaitu di Terang Kecamatan Boleng. Hasilnya terus menurun. Tahun 2021 berhasil panen 1,2 ton, tahun 2022 cuma dapat 502 kg, dan kepiting yang dipanen tahun 2023 cuma 300 kg.

Disinyalir produksinya terus menurun karena karena dua sebab, yaitu dikelola secara tradisional dan kekurangan modal usaha, tambah Kadis Fatinci. *

Penulis: Andre Durung/Editor: Anton Harus

Berita Terkait

Kekeringan ‘Memaksa’ Manggarai Barat Kehilangan Produksi Padi 423,4 Ton
Puso, 100 Hektar Tanaman Padi dan Jagung di Manggarai Barat
Sajikan Kopi Juria Colol, Rumah Wunut Buka Cabang di Maumere, Dukung Misi Lingkungan dan Kemanusiaan LSM ILMU
Reses di Ende, Oktovianus Moa Mesi Serahkan Hand Traktor Bantuan Julie Laiskodat ke Petani
Disnakertrans Sikka Gelar Mini Job Fair di Waigete, Fasilitasi Warga Jadi Pekerja Resmi
STIPAS Sirilus Ruteng Gelar Seminar Nasional: Mendesain Pendidikan Tinggi Berdampak Pada Era Masyarakat 5.0
Patris Lali Wolo Sebut Anggaran Jembatan Pomakeke Aeramo Sudah Ada, Tapi Tidak Dieksekusi Pemprov NTT
Cegah Bullying dan Judol, Tim Polres Ende Sosialisasi di SMAN 1 Ende
Berita ini 108 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 20:15 WITA

Kekeringan ‘Memaksa’ Manggarai Barat Kehilangan Produksi Padi 423,4 Ton

Selasa, 27 Oktober 2026 - 20:11 WITA

Puso, 100 Hektar Tanaman Padi dan Jagung di Manggarai Barat

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:57 WITA

Sajikan Kopi Juria Colol, Rumah Wunut Buka Cabang di Maumere, Dukung Misi Lingkungan dan Kemanusiaan LSM ILMU

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:38 WITA

Reses di Ende, Oktovianus Moa Mesi Serahkan Hand Traktor Bantuan Julie Laiskodat ke Petani

Selasa, 27 Oktober 2026 - 16:52 WITA

STIPAS Sirilus Ruteng Gelar Seminar Nasional: Mendesain Pendidikan Tinggi Berdampak Pada Era Masyarakat 5.0

Berita Terbaru

Blasius Apen, Kepala Bidang (Kabid) Produksi Tanaman Pangan (PTP) pada Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Mabar

Nusa Bunga

Puso, 100 Hektar Tanaman Padi dan Jagung di Manggarai Barat

Selasa, 27 Okt 2026 - 20:11 WITA